Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Propaganda dan Corong Opini Kampus


Protokol #12

Propaganda dan Corong Opini Kampus

Syiar islam mempunyai peran dalam menyampaikan dan menyebarluaskan serta menginternalisasikan nilai-nilai islam kepada masyarakat. Nilai-nilai dalam hal ini adalah sebuah pesan yang hendak disampaikan. Konteks dakwah selalu seputar hal ini, menyampaikan dan menyampaikan. LDK sebagai sebuah instansi dakwah pun juga mempunyai peran dalam hal ini, lebih daripada itu, LDK harus bisa memberikan sebuah informasi yang valid dan atraktif sehingga dapat membimbing masyarakat kampus kearah yang lebih baik.

Salah satu peran LDK adalah sebagai corong opini, yakni menjadi pusat informasi yang akan dijadikan sebuah kesepakatan bersama bagi masyarakat kampus. Permainan dalam hal corong opini ini menjadi sebuah poin unik tersendiri, karena perang pemikiran akan sangat mungkin terjadi disini.

Trendsetter, mungkin ini istilah yang tepat untuk mewakili bagaimana pengaruh propaganda yang dilakukan LDK bisa dikatakan berhasil. Pembuat trend di kampus, jika LDK melakukan suatu hal, maka massa kampus akan mengikutinya, sebagai contoh, dengan kader LDK yang banyak, dan banyak pula yang ikut mentoring, LDK bisa membuat sebuah sugesti publik, “kalau tidak ikut mentoring berarti belum mahasiswa”. Disinilah salah satu peran LDK dalam menebarkan pemikirannnya di kampus.

Dalam menggerakan roda mesin propaganda ini, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Karena memang tidak bisa dengan sekedar menyampaikan dengan media biasa saja untuk mempermainkan sugesti dan justifikasi publik, akan tetapi butuh sedikit rekayasa sehingga dakwah ini tampak berseni.

Konten

Konten atau isi dari pesan yang akan dibawa. Tentu kita akan membawa sesuatu yang ada dalam kandungan Al Qur’an yang tidak pernah akan basi hingga hari kiamat. Akan tetapi, kita juga perlu memperhatikan tema apa yang tepat untuk waktu tertentu, sehingga pesan yang disampaikan bisa tersampaikan dengan baik. Konten dari pesan perlu dikaji secara mendalam dengan menyesuaikan dengan kondisi masyarakat di kampus. LDK tidak bisa menyampaikan sesuatu yang terlalu berat untuk masyarakat kampus, karena akan kontraproduktif terhadap propaganda yang akan dilakukan.

Sebagai contoh, saat pekan ujian akhir, LDK membuat opini untuk UAS jujur, dengan berbagai media yang ada seperti baliho besar bertuliskan pesan-pesan untuk mengajak tidak menyontek ( contoh : “tuhan ada dimana-dimana”, “cheating is stealing, stealing is criminality”, atau “hargai hak paten jawaban ujian teman anda” dan ditambah dengan gambar-gambar yang menarik” ), atau buletin berisikan artikel atau komik kecil yang bisa menyampaikan pesan ini. Dengan menaruh semua propaganda ini di seluruh pelosok kampus,maka  masyarakat kampus akan selalu terngiang. Tugas kita sebagai kader LDK adalah memastikan pesan yang kita yakini, tersampaikan ke gagasan pikiran masyarakat kampus, ketikan gagasan itu sudah ada maka keinginan untuk menjalankan akan lebih mudah untuk dilakukan.

Dalam menentukan konten yang ada bisa memperhatikan dua hal, pertama, preventif, yakni menyampaikan sebuah pesan sebelum sebuah momen atau sebelum ada isu yang berlawanan dengan isu yang akan kita bawa muncul. Sebagai contoh, propaganda Ramadhan penuh ibadah, atau UAS jujur. Kedua, reaktif, yakni menyampaikan sebuah pesan ketika sebuah isu lain merebak, sebutlah di sebuah kampus muncul isu bahwa sex bebas itu boleh-boleh saja asal aman. Maka LDK wajib memberikan isu baru untuk meng-counter isu yang ada.  Melawan isu negatif dengan cara membuat isu postifnya, sebutlah untuk isu sex bebas, kita bisa bermain dengan isu “jaga dirimu hingga malam pertama”, atau “jomblo itu mulia” dan isu lainnya yang bisa mengcounter isu sex bebas dengan harapan masyarakat bisa menjauhkan diri dari hal tersebut.

Penentuan isu yang akan dibawa perlu diperhatikan dengan matang, karena salah langkah saja dalam menentukan isu yang akan digagas, bisa berdampak pada beberapa hal seperti citra negatif LDK, atau kontraproduktif terhadap agenda syiar atau bahkan hilangnya kepercayaan dari objek dakwah. Dengan menentukan topik yang tepat dan sesuai kebutuhan membaut isu yang diangkat lebih tepat dan kena sasaran.

Pengemasan

Man score what on his eyes. Manusia menilai apa yang tampak pada matanya. Mata sebagai pintu masuk informasi terbanyak bagi manusia. Ketika mata mengatakan “oke” pada suatu hal, biasanya hati pun juga akan berkata demikian.  Inilah menjadi poin penting dalam memarketisasi sebuah hal. Banyak sekali contoh-contoh akan pentingnya pengemasan. Karena dengan pengemasan yang baik akan menambah “added value” pada hal yang akan disampaikan.

Pada konteks propaganda dan opini, maksud dari pengemasan ini terkait pada permainan kata-kata dan media visual. Setiap kata yang keluar dalam penyampaian opini perlu diseleksi sedemikian hingga, agar memberikan dampak yang sesuai dengan harapan. Terkadang kita mengeluarkan kata-kata yang tidak sesuai dengan kondisi objek dakwah atau dengan kata lain “terlalu tinggi” untuk di cerna oleh objek dakwah.

Sebagai contoh, “semangat ukhwah dalam islam”, atau “menata bangsa dengan menata fikroh”, atau kalimat panjang nan berbobot seperti “pemuda masa depan bangsa yang ber-izzah dan memilki kafaah islam yang syumul”. Beberapa contoh propaganda ini seringkali  muncul, baik dalam bentuk spanduk, poster atau ceramah yang ditujukan untuk masyarak luas. Dakwahlah dengan bahasa kaumnya. Sebuah konsep marketing yang sangat sederhana. Maksud dari padanan kata ini bukan sekedar bahasanya saja, akan tetapi termasuk juga cara dan pemilihan kata serta metode yang tepat.

Ada contoh cukup menarik dari beberapa propaganda di Indonesia, yang ternyata berdampak sangat baik terhadap para objeknya. Mungkin anda semua pernah mendengar “yang muda yang tidak dipercaya”, sejatinya dampak dari tulsan ini adalah memicu para kaum muda untuk lebih berkarya dan lebih bertanggung jawab., atau “connecting people” jargon sebuah produsen telepon seluler yang menggambarkan bagaimana pentingnya komunikasi dengan sesama manusia.

Propaganda juga bisa dilakukan dengan membuat “urban spread” yakni penyebarluasan isu melalui “mouth to mouth”, mulut ke mulut, ini bisa menjadi metode yang mulai dikenal ke-efektifannya, karena karakter dasar manusia adalah ingin selalu berkomunikasi, dan penyebaran dengan cara ini sangat cepat untuk bisa tersebar luas ke banyak orang. Permulaan dari cara ini dengan memulai dari diskusi diskusi kecil dengan simpul-simpul masa. Selanjutnya isu yang kita bawa akan tersebar secara alamiah dengan media orang-orang yang telah kita ajak diskusi.

Penyebaran opini di sebuah kampus diharapkan bisa membentuk justifikasi publik sesuai dengan apa yang diharapkan oleh kita. Permainan seni dalam propaganda ini sangat memainkan peran penting dalam menjalankan amanah kita sebagai pemberi petunjuk bagi masyarakat kampus.  Ketika opini dan gagasan pikiran objek dakwah kita bisa sepemikiran dengan kita. Tugas kita sebagai lembaga dakwah kampus dalam membimbing menuju cahaya islam akan lebih mudah untuk dijalankan.

Advertisements

One comment on “Propaganda dan Corong Opini Kampus

  1. uwiuw
    March 29, 2008

    “hargai hak paten jawaban ujian teman anda” dan ditambah dengan”….hahah bener banget…kalau aja sy inget ini waktu sekolah dulu

    🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 24, 2008 by in Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,223,341 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: