Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

bantuan langsung tunai ( BLT ) ? relevan kah ?


kenaikan BBM saat ini yang dicanangkan pemerintah akan diumumkan tanggal 26 mei ini menarik perhatian banyak rakyat Indonesia. berbagai aksi serta kontra dilontarkan rakyat dari berbagai lapis dan segmen. kebanyakan dari rakyat menolak dengan alasan utama :

kami belum siap jika BBM naik !! kami mau makan apa besok ?

rakyat belum siap, karena memang rakyat tidak pernah disiapkan. terlepas dari itu memang kebijakan yang seharusnya disiapkan sejak lama ini tidak pernah menuai kesepakatan dengan rakyat. menilik kebijakan ini, pemerintah mengatakan bahwa kebijakan subsidi akan dialihkan dari subsidi barang menjadi subsidi  orang. itu ada pemaparan dari jubir presiden andi malarangeng. subsidi orang dinilai lebih tepat sasaran karena menurut pemerintah subsidi BBM dinikmati oleh orang kaya, sehingga terjadi salah sasaran.

pertanyaan yang muncul dalam benak saya adalah, apakah memang BLT ini akan tepat sasaran ? secara konsep pemikiran saya lihat BLT tidak jadi masalah, akan tetapi ketika di iriskan dengan kebutuhan data, saya langsung sangksi bahwa BLT akan jadi solusi. sebagai seorang mahasiswa planologi , saya seringkali berurusan dengan BPS ( biro pusat statistik ).  saya menilai data yang ada di Indonesia sangat parrah, tidak update dan tidak bisa dipertanggungjawabkan. 3 bulan lalu saya ada observasi di ciamis, di daerah ini bahkan seorang camat dapat mendapatkan BLT. padahal beliau bisa dikatakan jauh dari kemiskinan. atau jangan-jangan pihak camat atau lurah yang menimbun BLT ini.

disinilah yang menjadi pertanyaan. apakah BLT akan tepat sasaran, atau akan menjadi sasaran korupsi pejabat. jika kondisi per-data-an di indonesia belum diperbaiki, maka BLT ini saya rasa tidak akan tepat sasaran. perubahan kebijakan ini perlu dicermati lebih mendalam. menurut saya kebijakan subsidi ini dialihkan ke pendidikan dan kesehatan, sehingga semua rakyat kita bisa merasakan pendidikan dasar dan menengah secara gratis dan pelayanan kesehatan yang baik secara cuma-cuma.

Advertisements

7 comments on “bantuan langsung tunai ( BLT ) ? relevan kah ?

  1. Albaz
    May 21, 2008

    Wah, banyak yang nulis tentang BLT nih sejak awa nulis juga. inspired lah awa. ha2. sori bos, becanda.

    iya, cup. kayanya musti ada solusi lebih konkretnya ni. uda banyak yang ga sikoh sama BLT

  2. radit
    May 22, 2008

    Selain kekhawatiran atas ketidaktepat sasaran dari distribusi BLT,ada kekhawatiran bahwa BLT yang riilnya adalah membagikan uang sebesar 100ribu/bulannya,adalah suatu langkah pemerintah yang mendidik rakyatnya menjadi pengemis dan tidak produktif. Ada suatu pernyataan menarik dari salah satu kepala daerah di Jabar,bahwa BLT ini dikhawatirkan bukan digunakan sebagai kompensasi kenaikan BBM,sebagai tambahan untuk membeli BBM,malah justru akan digunakan untuk membeli yang lain-lain.
    Jadi,benang merah dari pembagian BLT ini adalah tidak tepat sasaran,baik itu ketika pembagiannya ataupun ketika sudah dibagikan.
    Wallahu’alam,

  3. Aditya
    May 23, 2008

    BLT-nya gak salah, malah harusnya bantuan untuk warga miskin tuh diberikan rutin, konsep zakat juga gitu kan…

    Namun harus dibuat “sedemikian rupa sehingga” (kata2 sakti nih..) mendorong produktifitas, bukan malah bikin malas. Intinya harus ada pemberdayaan, empowering.

    Masalah data, kayaknya ini juga termasuk masalah utama di mana2. Termasuk di Gamais? hihihi..
    Untuk bisa mengupdate data secara berkala dibutuhkan teknologi, mungkin BPS harus disupply SDM IT yang kompeten.

    SDM-nya masih pada kuliah kali ya? 😀

  4. Bri
    May 23, 2008

    BLT?? saya rasa ini konyol, kayak tukang obat yang nyebarin penyakit, lalu ngejual obat penawarnya (eh bukan ngejual ding, memberi… biar dikira pahlawan, oh kacau!!!).

  5. andri saputra "cingcaw"
    August 4, 2008

    “seperti makan buah simalakamah” goverment dihadapkan pada pilihan sulit ketika ada opsi jangka panjang dan jangka pendek. @opsi memiliki + & -. BLT patut dipahami sebagai wujud penyelamatan jangka pendek, jika tidak maka kemiskinan akan menjadi lebih parah.

  6. andri saputra "cingcaw"
    August 4, 2008

    selama di smansabo ’05, saya mendapatkan pelajaran penting mengenai prioritas. bahkan Dr. Yusuf Qordhowi membuat kajiankhusus berupa fiqh prioritas. ada kaidah bahwa aktifitas yang langgeng manfaatnya lebih diprioritaskan atas yang sebentar. BLT cuma jangka pendek,khan.. nah lho…

  7. dicky
    November 12, 2008

    BLT… pasti ada cara lain selain BLT!!!
    -pemerintah kalo buat kebijakan jangan sembarang, kirim dulu orang atau ahli yang bisa memetakan kondisi masyarakat (khususnya di pedesaan), antropolog orang yang tepat!!!
    -secara umum masyarakat INA memiliki jiwa yang sama, senang diberi dan selalu menganggap diri lemah. betul juga kalo BLT itu tidak mendidik
    -tidak semua kebijakan tepat untuk semua masyarakat INA, bisa jadi ada suatu masyarakat yang memiliki pranata untuk menjamin keberlangsungan hidup warganya.
    -lihat deh konsep jaminan sosial atau konsep yang lagi keren social capital contohnya.
    -adat istiadat, kebiasaan, mekanisme pemberdayaan manusia yang dikembangkn oleh masyarakt setempat adalah acuan yang harus dilihat oleh pemerintah.
    -pemerintah harus buat masyarakat berpikir dan maju oleh kekuatan yang dimilikinya.
    -gitu aja koq repot…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 20, 2008 by in Planologi.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,216,714 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: