Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

catatan pertama : Pola Pembinaan Kader


Catatan Pertama

Pola Pembinaan Kader

Perkembangan pola pembinaan masa kini tidak bisa terlepas dari output  yang diharapkan dari kader produk pembinaan yang dilakukan. Media pembinaan yang kita kenal dan sering di aplikasikan di kampus adalah mentoring, yang hampir selalu menjadi ujung tombak dalam pembinaan kader yang kita lakukan. selain itu perangkat mentoring ini biasanya didukung oleh perangkat pembinaan lain seperti outbound, mabit, olahraga, dan diklat. berbagai metode ini tentunya akan di kombinasikan sedemikian hingga dan membentuk sebuah pola kaderisasi yang terstruktur. Pada bagian ini saya ingin sedikit menyinggung bagaimana pola pendekatan yang baiknya kita lakukan sebagai subjek dakwah kepada objek dakwah dalam menyampaikan materi agar terbentuk karakter kader yang kuat.

Saya mendapat konsep ini dari Prof Zuhal ( kekuatan daya saing Indonesia ) , dan saya ingin mencoba menyesuaiakan kosep beliau dalam kontek pembinaan dakwah kampus yang kita lakukan. selama ini kita sering kali terlalu banyak mendominasi agenda kaderisasi kita dengan pola pola konsevensional atau sering saya sebut pola tradisional yang tidak membuat potensi kader berkembang pesat. memang konsep tradisional ini telah banyak mencetak tokoh atau kader yang kuat, tapi menurut pandangan saya, itu bukan karena proses pembinaan yang dilakukan oleh subjek dakwah, akan tetapi itu lebih kepada usaha mandiri kader dalam membina dirinya. Sehingga, pola pembinaan yang dilakukan belum mampu mentransformasikan seorang yang terpendam potensinya menjadi seorang yang mampu mengelola potensinya dengan baik.

Jadi bisa saya simpulkan sementara bahwa, proses kaderisasi yang dilakukan belumlah menyentuh sisi pembentukan karakter. Padahal jika kita memahami kembali kenapa pembinaan ( At Tarbiyah ) dilakukan secara bertahap dan rutin, karena memang manusia perlu waktu untuk berkembang. Berbagai pandanga terntang pembinaan selalu merujuk pada dua kosakata tersebut ( bertahap dan rutin ). Oleh karena itu sebagai perlu kiranya sebagai pelaku kaderisasi atau pembinaan kita memulai mengubah paradigma kita tentang pendekatan pembinaan yang dilakukan.

Secara garis besar, pembinaan yang dilakukan di kampus bersifat pasif, dimana pelibatan objek pembinaan tidak begitu dominan, feed back yang dilakukan tidak dimanfaatkan dengan baik untuk perbaikan. Sentralisasi materi pada narasumber dimana membuat paradigma bahwa mengajar adalah bercerita dan menyampaikan serta belajar adalah mendengarkan dan membaca. Objek dakwah menjadi seorang penghafal materi tanpa aplikasi yang bertahap oleh objek pembinaan.

Monotonisasi media kaderisasi yang hanya mengandalkan media verbal dan sedikit media visual sederhana (buku, tulisan, diktat, dan artikel ) membuat pembinaan yang dilakukan menjadi jenuh dan tidak membuat objek pembinaan tertarik untuk belajar diluar agenda pembinaan rutin, padahal pembinaan mandiri adalah bagian dari pembinaan terintegrasi.

Proses pembinaan terkadang tampak seperti doktrin atau bahkan dogma kepada peserta pembinaan, pemaksaan konsep dan penanaman nilai secara frontal padahal peserta belum siap untuk menerima konsep atau materi yang diberikan. Metode ini seringkali justru membuat peserta pembinaan memilih untuk meninggalkan program pembinaan yang ada, karena masalah ini. Perlu kiranya kita memikirkan pola pendekatan yang membuat peserta lebih aktif dalam menyampaika materi. Semacam role play antara pemateri dengan peserta. Diharapkan dengan adanya perubahan ini membuat peserta lebih dapat berpikir dan menemukan pemahaman materi secara mandiri dengan tingkatan aplikasi yang tinggi.

Manusia selalu hidup dalam permasalahan, dan manusia akan hidup dalam lingkungan yang penuh masalah, dengan tingkatan masalah yang berbeda tentunya. Pola pembinaan yang ada saat ini banyak seputar masalah konvensional atau terlalu futuristik yang membuat peserta pembinaan kurang bisa menangkap inti dari materi yang disampaikan. Pemateri seringkali menyampaikan materi secara mengawang-awang dan membuat peserta tidak memahami untuk apa ia menerima suatu materi.

Budaya sami’na wa ato’na ( kami dengar dan kami laksanakan ) adalah sebuah budaya yang tentunya sangat baik dalam pergerakan berjamaah. Saya sangat sepakat dalam agenda dakwah kita perlu taat pada pemimpin. Akan tetapi, saya berpendapat bahwa budaya ini kurang tepat jika diaplikasikan dalam bentuk pembinaan kader. Seorang pemateri tidak bisa memaksakan kehendaknya tanpa memberikan pemahaman yang komprehensif tentang mengapa peserta pembinaan perlu patuh pada perintah yang diberikan. Proses pembinaan perlu kiranya memperhatikan sisi pemahaman yang intergral sehingga kader dapat menjalankan sesuatu dengan jiwa dan semangat.

Seringkali kita hanya terbiasa berpikir instan untuk sebuah persoalan, instan disini dalam bahasa pembinaan, kita hanya dididik untuk menyelesaikan sebuah persoalan secara tepat dan cepat. Contohnya , untuk masalah kejahatan pemuda, maka seringkali solusi normatif bahwa solusi dari persoalan ini adalah pembinaan kepada mereka. Sebuah jawaban ideal yang sebetulnya bisa dijawab oleh siapapun.

Dari beberapa pemaparan diatas ternyata berdampak pada minimnya daya kritis kader akan segala hal, budaya diskusi dan debat intelektual jarang ditemui, sehingga pemikiran dan wawasan kader tergolong minim, buku bacaan yang cenderung disamakan dan memilih buku buku yang aman sehingga kader tidak memiliki bacaan komparatif. Dampak besar dari sebab ini adalah karakter kader yang tidak terbentuk secara merata. Hanya kader yang berinisiatif yang mampu berkembang, sedangkan kader yang belum berinisiatif akan tertinggal jauh dari segi pemahaman dan kedewasaan karakter.

Manusia berkarakter akan terbentuk secara baik dalam lingkungan yang kondusif. Seorang insinyur Indonesia akan berdisiplin rendah dalam lingkungan pekerjaan yang membuat ia tidak disiplin, akan tetapi jika ia sudah masuk ke dalam lingkungan kerja yang disiplin, sebutlah di luar negeri, di negara Jepang, ternyata kebiasaan indisiplinernya menghilang. Ia bisa berkompetisi dengan insinyur luar negeri dan bahkan ia menjadi seorang pribadi yang disiplin.

Kasus ini memberikan gambaran bahwa sistem pembinaan dan lingkungannya lah yang membentuk manusia unggul, jika dalam bahasa dakwah kita sering menyebutnya kader berkarakter. Kader berkarakter ini adalah modal mendasar bagi dakwah kampus untuk berkembang. Human capital adalah sumbu putar dari perkembangan roda manajemen organisasi ( organization management ) dan pembangunan kompetitif ( competitive development )

Pola pembinaan yang baik akan membentuk manusia unggul dan manusia unggul akan selalu dapat memperbaiki pola pembinaan yang ada untuk membentuk manusia lebih unggul lainnya dimasa yang akan datang. Berhubung kita juga ingin melihat masa depan dakwah yang lebih cerah dan berkembang, maka kader yang dibentuk ini, tidak hanya dapat bermanfaat bagi dirinya dan umat di masa kini, akan tetapi ia juga harus bermanfaat bagi masa depan dirinya dan perbaikan masa depan organisasi dakwah yang membinanya.

Paradigma berpikir kita sebagai subjek kaderisasi tentang kaderisasi itu sendiri adalah hal mendasar yang akan menghasilkan pola kaderisasi yang akan dibangun kedepannya. Dalam siklus kaderisasi ada beberapa hal mendasar yang perlu dipahami, seperti tujuan, output, serta proses yang dijalani. Terkait tujuan kaderisasi adalah transfer nilai kepada objek dakwah dan sebuah proses bertahap dan berkala yang dilakukan kepada objek dakwah dalam upaya memenuhi atau mencapai nilai dan kriteria kader yang diharapkan. Sedangkan output dari kaderisasi ini adalah kader yang berkarakter. Karakter kader tergantung dari nilai dasar yang dianut oleh organisasi. Selanjutnya terkait proses kaderisasi ada 4 tahap, yakni :

1.      Perkenalan ( ta’aruf )

2.      Pembentukan ( takwin )

3.      Pengorganisasian ( tandhzim )

4.      Pelaksanaan ( tanfidz )

Secara umum paradigma ini dibangun oleh pelaku pembinaan. Terkait pola pembinaan perlu kiranya kita memulai melakukan pemecahan masalah melalui paparan perumusan masalah pola pembinaan yang telah disampaikan sebelumnya. Perlu kita sadari bersama bahwa sistem konvensional yang ada memang telah terbukti mampu mencetak kader yang kuat dimasa yang lalu, akan tetapi pola tersebut memang cocok untuk kondisi saat lalu. Masa kini memang sudah berbeda dengan sebelumnya, pendekatan yang dilakukan perlu menyesuaikan menimbang pengaruh internal dan eksternal terhadap kader semakin berbeda dan semakin banyak tantangan.

Ada delapan poin konsep pola pembinaan yang bisa dilakukan dalam membentuk manusia unggul atau kader berkarakter. Konsep pola ini merupakan turunan dari paradigma, output dan materi, dan untuk mengaplikasikannya, kita perlu menurunkan kembali ke metode yang akan dipilih. Pola ini akan berbicara tentang bagaimana kita akan menyampaikan materi. Analogi dari algoritma berpikir kita seperti memberi makan bayi. Paradigma berpikir kita adalah bagaimana seorang bayi bisa tumbuh sehat dan kuat. Maka output yang diharapkan adalah bayi yang gemuk dan lincah, materi yang diberikan berupa susu dan biskuit sereal, dan pola yang kita lakukan, karena objek kita seorang bayi yang belum bisa makan sendiri dan butuh banyak bantuan, maka kita menggunakan pola menyuapinya, sedangkan metode adalah sendok plastik kecil yang cocok untuk bayi.

Pola Pembinaan Berbasis Kader

Binaan Sentris

Objek dakwah bersifat pasif dan subjek dakwah bersifat aktif. Konsep tersebut adalah pola masa lalu dimana mengajar adalah bercerita dan belajar adalah mendengarkan. Kita perlu merevisi konsep ini, walau tidak sepenuhnya salah, tapi konsep ini memang masih relevan untuk beberapa hal. Revisi tersebut akan kita komparatif kan dengan konsep mengajar adalah memicu untuk berbuat dan belajar adalah mencari dan latihan. Dengan analogi ini kita akan menemukan sebuah titik balik dimana objek kaderisasi juga berperan sebagai subjek kaderisasi untuk dirinya sendiri. Dengan bimbingan dan guidance dari mentor atau subjek kaderisasi lainnya. Istilah binaan sentris untuk menggambarkan bahwa inti dari pembinaan adalah binaan itu sendiri, dimana ia dapat mengembangkan potensinya secara alamiah, dan subjek kaderisasi mencoba menstimulus binaan untuk menemukan bakat yang dimilikinya dan memberikan akses dan fasilitas kepadanya untuk mengembangkan diri.

Harapan besar dengan perubahan pola dari pemateri sentris menjadi binaan sentris memberikan dampak positif dalam hal output kader. Kader diharapkan dapat lebih dewasa dan punya auto tarbiyah dalam dirinya, kesadaran dalam menuntut ilmu, dengan bertanya, latihan, membaca dan mengamalkan materi.

Multimedia

Penggunaan variasi media komunikasi dalam menyampaikan materi dalam era informasi dan komputer sudah seharusnya menjadi bagian dari lifestyle yang dikembangkan dan diterapkan. Begitu pula dalam dunia dakwah yang seharusnya mampu mengembangkan media dakwah yang berdampak besar ( high influence media ) untuk kemajuan dan keberterimaan dakwah. Dalam hal pembinaan, pengembangan multimedia bisa dalam hal pembuatan powepoint slide materi yang akan disampaikan, sehingga mudah dipahami dengan tampilan visual yang menarik. Pemanfaatan media visual lain seperti film atau video klip yang bisa disebarluaskan dengan mudah. Media pembinaan dengan advance media ini juga tidak hanya bermanfaat untuk lingkungan dalam organisasi saja, tapi juga bisa disebarluaskan melalui media internet. Sebutlah slide powerpoint dapat disebarluaskan secara mendunia dengan situs slideshare, sedangkan film dan video klip dapat pula disebarluaskan dalam situs youtube. Slide materi yang ditampilkan dalam media elektronik ini bisa juga disebarluaskan dalam media blog. Sehingga bisa menunjang pola pembinaan berbasis binaan yang memungkinkan kader mencari materi melalui internet. Dampak dari penyampaian multimedia selain impact yang besar dan accesibility terhadap masyarakat luas juga memudahkan binaan memahami materi. Kolaborasi antara film, tulisan dan musik membuat pembinaan akan lebih menyenangkan dan variatif.

Bentuk dari multimedia non-elektronik, terletak pada variasi penyampaian, sebutlah untuk memahami keagungan Allah kita mengajak binaan untuk survival di hutan, atau scuba diving pantai, untuk memahami tentang teladan Rasul kita bisa menggunakan media bakti sosial sederhana, dan contoh terakhir untuk memahami birrul walidain bisa dalam bentuk mabit bersama di yayasan yatim piatu. Untuk semua variasi media ini diharapkan binaan dapat lebih mampu menyerap dan mengalikasikan secara bertahap materi yang disampaikan.

Kerja Kelompok

Kader yang berkarakter tentu juga harus memiliki jiwa coorperative yang baik, ia harus bisa menjadi pemimpin dan staff yang baik. Perlu kita sadari dalam era Globalisasi 3.0 ( the world is flat / friedman ) selain keunggulan kompetitif, seorang manusia juga diharapkan dapat memiliki kemampuan kerjasama yang baik, karena seorang akan lebih dapat unggul jika mampu mempengaruhi lingkungan sekitar dengan intelektual yang dimilikinya. Kemampuan kerjasama ini bisa dibangun dalam pola pembinaan kader di kampus. Pembangunan kebiasaan kerjasama ini bisa dimulai dengan banyaknya focus groups discussion yang terarah. Dengan membiasakan diskusi ini, seorang kader akan terlatih untuk memahami perbedaan dan memanfaatkan persamaan yang dimiliki. Ia akan pula terbiasa untuk memimpin dan dipimpin, ia akan terbiasa untuk mengkritik dan kritik, ia akan terbiasa untuk menerima sebuah hasil dari keputusan bersama dengan lapang dada. Berpikir dan berjiwa besar merupakan dua karakter yang harus dibangun bersamaan, agar seorang kader dapat menjadi seorang unggul yang ber etika. Berbagai penugasan atau belajar bersama bisa dijadikan sebuah metode untuk mematangkan kader dalam teamwork based learning ini.

Pendekatan Dialogis

Membangun komunikasi dua arah dalam pembinaan, tidak sekedar sebatas ada prosesi tanya jawab semata. Tapi lebih kepada membuka paradigma binaan dengan dialog yang dibangun. Mungkin pada aplikasinya kita akan banyak menemui benturan benturan terkait proses dialog ini, karena memang banyak yang tidak menyukai debat sebagai sebuah cara diskusi yang baik. Akan tetapi, jika kita bisa membangun budaya debat intelektual yang baik, maka akan berdampak pada pembangunan daya kritis dan keberterimaan binaan terhadap materi. Memberikan binaan bahan materi yang bisa dijadikan komparasi dari materi yang kita berikan. Sebutlah, untuk membahasa tentang kebenaran Islam, kita tidak bisa hanya menyampaikan dari sisi kebenaran Islamnya saja, bisa jadi kita mengupas secara umum gambaran mengenai agama lain, atau dalam materi Islam memandang ekonomi, pola pembinaan masa depan bukan hanya sebatas memberikan solusi dalam bentuk ekonomi Islam, akan tetapi binaan perlu diberikan konsep pemikiran ekonomi lain seperti kapitalis, atau sosialis agar binaan bisa membandingkan antar konsep yang ada, sehingga ketika ia memahami suatu konsep, ia juga memiliki kemampuan untuk memberikan keunggulan serta kelemahan dari suatu konsep ketimbang konsep lain.

Adanya pendekatan dialogis ini membangun keterbukaan antara binaan dan pembina, keterbukaan adalah sebuah poin penting dalam mempengaruhi orang lain. Selain itu pendekatan dialogis juga akan membangun kemampuan komunikasi dan mengungkapkan sesuatu. Indonesia sudah banyak mencetak orang jenius, akan tetapi kita memiliki kelemahan dalam berkomunikasi suatu pemikiran. Kelemahan ini seringkali justru membuat orang Indonesia menjadi pekerja intelektual bagi negara asing.

Permasalahan Nyata

Pembelajaran berbasis masalah ( problem based learning ), dimana binaan akan mencoba menyelesaikan masalah yang timbul di lingkungannya. Masalah keseharian atau masalah yang sedang dihadapi dengan materi yang diberikan. Masalah ini tidak perlu kita berpikir terlalu global terlebih dahulu, kita coba berpikir hal sederhana dengan posisi binaan sebagai mahasiswa dan seorang anak. Dimana seorang mahasiswa biasanya menghadapi masalah manajemen waktu, konflik organisasi kemahasiswaan, persoalan akademik, atau persoalan perasaan terhadap sesama teman lalu sebagai seorang anak, bagaimana seorang anak bisa berbakti kepada orang tua ketika seorang anak sedang jauh dari orang tua ( indekost ). Untuk yang lebih advance bisa saja mulai membahas permasalahan bangsa Indonesia, kondisi ekonomi Indonesia, transformasi sosial budaya, atau mungkin iklim politik Indonesia. Dengan berbasis masalah nyata, materi yang diberikan akan lebih aplikatif dan binaan akan lebih dapat bisa membayangkan permasalahan yang ada dan bagaimana ia akan menyelesaikannya dengan materi yang diberikan. Pola pembinaan berbasis masalah nyata ini juga akan membuat seorang binaan akan dapat dengan mudah membayangkan dan mengilustrasikan bagaimana sebuah materi itu diperuntukkan. Sehingga, ia akan memahami materi dengan baik. Bagian output terpenting dalam pola ini adalah bagaimana seorang kader dakwah dapat merumuskan sebuah permasalahan. Bukan sekedar secara instan menyelesaikan sebuah masalah.

Pembelajar Aktif

Selama ini kita melihat bahwa kiblat dari peradaban maju ada di bangsa barat, kita melihat bahwa corong opini dunia ada di negara barat, kita juga melihat kumpulan masyarakat yang memiliki pengetahuan ( knowledge society ) juga ada di bangsa barat. Kita sulit melihat bagaimana potensi kita sebetulnya, apakah kita bangsa timur terlalu silau terhadap bangsa barat, ataukan kita terlalu rendah hati sehingga tidak mau mengakui kemampuan diri. Ketika kita mencoba memperhatikan lebih lanjut mengenai karaktek masyarakat barat, pengalaman saya satu tahun sekolah di Amerika memberikan gambaran bahwa masyarakat barat adalah masyarakat yang terbuka ( open minded ) dimana ia sangat menerima perubahan, mereka adala pribadi pribadi yang tidak pernah puas akan pencapaiannnya saat ini, mereka gemar dengan tantangan dan bersedia melewati fase “tidak nyaman” untuk mendapatkan sebuah kesuksesan. Berbeda dengan masyarakat timur, beberapa kali kunjungan saya ke negara Asia, saya melihat bahwa kita ( bangsa timur ) lebih menyukai kenyamanan kondisi ( comfort zone ) saat ini, dan berusaha agar kondisi nyaman ini tidak hilang, meskipun untuk sebuah perbaikan kondisi, masyarakat timur juga lebih mengedepankan keseimbangan antara manusia dengan alam, serta masyarakat timur lebih memiliki nilai religius yang tinggi.

Pada dasarnya ada perbedaan mendasar antara kedua masyarakat ini, dan perbedaan ini berdampak pada kondisi yang terjadi di dunia saat ini, yakni masyarakat barat adalah masyarakat yang dinamis,dan masyarakat timur adalah masyarakat yang statis. Kondisi ini sebetulnya terbentu dari pola belajar yang dilakukan, dalam sebuah sesi pelajar lukis di Walnut Bend Elementary School, Houston, saya diminta melukiskan apapun tentang alam ( nature ), teringat saat itu, banyak pilihan alat lukis, seperti krayon, spidol, pensil warna, dan cat kuas. Kami bebas menggunakan apapun dan menggambar apapun. Bentuk pembinaan seperti ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkreasi secara aktif.

Disini bisa kita lihat bahwa pola pembinaan dimana subjek kaderisasi hanya sebagai penyedia akses dan fasilitas serta guidance , dan objek kaderisasi berperan secara mandiri untuk terus belajar ( auto tarbiyah ). Jika kita bisa membangun habit ini kepada semua kader maka akan terbentuk sebuah komunitas pembelajar ( learning community )yang nantinya akan menjadi roda penggerak dari dinamo dakwah di kampus, serta meningkatkan produktifitas organisasi kita kedepannya.

Perumusan Masalah

Ketika kita mengetahui sebuah masalah maka kita secara tidak langsung telah mengetahui solusinya. Akan tetapi seorang kader dakwah tidak dididik sebagai problem solver , ia akan bermanfaat jika ia bisa menjadi problem analyser. Apa perbedaanya ? seorang problem solver adalah seorang yang bisa menyelesaiakan sebuah masalah, akan tetapi tidak bisa menyelesaikan akar masalah, karena ia tidak pernah berpikir apa sebab dari sebuah masalah. Sedangkan, problem analyser adalah seorang yang memiliki kemampuan untuk merumuskan masalah, mensistematika akar masalah, faktor yang mempengaruhi, proses hingga jadi masalah dan dampak yang diberikan kepada lingkungan setelah sebuah masalah muncul. Ketika seorang problem analyser bia merumuskan masalah dan menyelesaikan akar masalahnya, bukan masalah itu sendiri, maka tentunya kejadian serupa di masa yang akan datang dapat dicegah. Perlu diingat bahwa masalah adalah dampak dari sebuah proses yang tidak benar, proses adalah bagian dari sistem, dan untuk membuat penyelesaian masalah secara tuntas, maka yang perlu dibenahi adalah proses yang menyebabkan sebuah masalah muncul. Kemampuan analisis masalah inilah yang dibutuhkan untuk ditekankan pada pola pembinaan kader di masa yang akan datang.

Kemampuan atau daya analisis ini bisa di asah dengan studi kasus, dan pengalaman yang panjang, memang akan butuh waktu, peran subjek kaderisasi adalah memberikan kesempatan kepada objek kaderisasi untuk bersentuhan dengan masalah, dan melatih kemampuannya dalam menganalisa sebuah masalah.

Pemikiran Kritis

Kadang pola pembinaan yang dilakukan dalam lembaga dakwah seperti “mesin pencetak zombie hidup”, saya memang berat menggunakan istilah ini, tapi memang kondisi yang saya lihat seperti itu. Kader tampak hanya menjadi mesin hidup dalam berdakwah, tidak tampak tatapan visioner, perkataan yang berdasarkan pemahaman, dan aktifitas dengan penjiwaan mendalam atas dasar kecintaan. Hal ini diakibatkan adanya pemaksaan konsep dan penyeragaman konsep berpikir dan mencegah kader untuk berpikir diluar sistem atau diluar materi yang diberikan.

Pembunuhan karakter perlahan ini membuat potensi kader sulit muncul, oleh karena itu perlu kiranya ada sebuah pola tersendiri yang memungkinkan kader untuk berpikir sebelum bertindak, dan memungkinkan kader untuk mencari komparasi sebelum menerima sebuah konsep. Pada beberapa kasus seringkali perbedaan pemahaman justru menjadi ancaman bagi organisasi dakwah, perasaan terancam adalah bentuk dari kurang kuatnya pemahaman sebuah konsep berpikir.

Saya sering melihat dan mengamati di beberapa komunitas, dimana ada sekelompok orang atau individu yang mempunyai kemampuan analisan dan daya kritis yang lebih, dianggap sebagai sekelompok yang tidak taat dan tidak bisa “dikondisikan” untuk bergerak bersama. Orang-orang ini menjadi merasa tidak nyaman dan merasa tersingkir atau mungkin memang disingkirkan karena perbedaan pemikiran, yang sebetulnya bukan hal yang salah dalam sebuah pola kaderisasi yang sehat. Membangun jiwa kritis selain baik dalam hal pemikiran, ia juga akan bermanfaat untuk menumbuhkan jiwa empati bagi kondisi lingkungan yang ada. Jiwa kritis ini pula yang membuat manusia dinamis yang akan membimbing ia menjadi manusia pembelajar.

Menuju Insan Pembelajar

pada akhirnya memang pola pembinaan ini akan membentuk sebuah konsep insan pembelajar dimana ia tidak pernah puas terhadap ilmu yang dimilikinya, dan berpikir kritis terhadap lingkungan sekitar, sehingga ia terus berpikir untuk menyelesaikan sebuah problematika yang ada, dan menjadikan keseimbangan kehidupan dan religi sebagai landasan dalam mengambil kebijakan.

Karakter manusia seperti ini akan bermanfaat tidak hanya untuk dirinya, karena human capital ini adalah modal tidak ternilai dalam perkembangan sebuah organisasi. Organisasi masa depan bukanlah organisasi yang besar karena mempunyai dana besar, akan tetapi sebuah organisasi yang memiliki inkubasi pengetahuan ( knowledge incubator ) yang terepresentatifkan dalam human capital yang unggul. Adanya SDM yang berkompeten serta sistem organisasi yang baik, akan menghasilkan konsekuensi logis berupa benefit dan profit bagi organisasi tersebut.

Bagaimana dampak dari kader yang unggul terhadap peningkatan produktifitas dari organisasi. Saat ini atau bahkan untuk selanjutnya, kader adalah aset termahal bagi sebuah organisasi, karena kader inilah yang akan membangun organisasi. Jika di konversi dalam konteks dakwah kampus, kita memulai dari capital yang dimiliki di awal, yakni kader, dana dan lembaga untuk sarana dakwah. Selanjutnya untuk mendukung pola pembinaan yang ada, setiap aktifitas harus berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi ( iptek ) dan iman taqwa ( imtaq ), iptek dan imtaq ini akan membentuk kaderisasi berkarakter sesuai harapan. Selanjutnya insan pembelajar yang terbentuk akan melakukan syiar secara masif dan ekspansi pengaruh semaksimal mungkin, hal ini tentunya sebuah peningkatan produktifitas dakwah. Syiar dan ekspansi pengaruh yang kuat akan mampu menarik masyarakat kampus untuk bergabung dalam barisan dakwah yang kita jalani, bertambahnya jumlah kader dapat diartikan sebagai semakin diterimanya dakwah di

kampus, dan mudah-mudahan usaha ini mendapatkan tujuan inti dakwah kita, yakni ridho Allah semata.

Pada dasarnya memang dalam pengembangan pola pembinaan kita akan banyak meniru dari organisasi lain atau pihak lain yang sudah lebih dahulu mapan. Meniru bukanlah hal yang salah tentunya, akan tetapi mudahnya akses untuk mengikuti pola pembinaan ini jangan dijadikan sebagai sebuah excuse untuk tidak mengembangkan pola pembinaan berbasis potensi lokal ( local advantage based learning ) dimana dalam konteks dakwah kampus, memiliki ciri khas kader yang berbeda. Perlu kiranya dalam pola pembinaan ini kita mengikuti pemikiran BJ Habibie dalam membuat N 250, yakni copy to catch up. Meniru untuk mengungguli atau minimal sama di masa yang akan datang. Meniru untuk membuat lebih baik adalah bentuk dari ciri khas masyarakat yang dinamis.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 21, 2008 by in Dakwah Kampus, Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,216,507 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: