Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Bagaimana Menokohkan Kader


Bagaimana cara agar kader dakwah di kampus dapat dikenal dan diakui kredibiltasnya di masa kampus, agar perannya sebagai da’i dapat optimal ?

Dalam riwayat Rasulullah dan sahabat pada masa perjuangannya kita mengenal ada sebuah kesamaan proses diantara sahabat sebelum masuk Islam, termasuk Rasul sendiri sebelum Allah menurunkan wahyu pertama kepadanya. Hampir semua dari mereka adalah sosok yang telah diakui secara sosial oleh komunitasnya. Nabi Muhammad dikenal sebagai seorang yang dipercaya oleh masyarakat mekkah hingga ia dijuluki Al Amin. Kita mengenal Abu Bakar As Shiddiq yang merupakan saudagar dan seorang yang dihormati di mekkah. Umar ibnu Khattab sebelum mengucapkan syahadat dalam keadaan emosional adalah seorang panglima perang yang sangat disegani. Paman Nabi Muhammad, Hamzah bin Abdul Muthalib adalah seorang yang ahli bermain pedang yang merupakan simbol kekuatan untuk masyarakat saat itu. Khalid ibnu Walid yang kemudian dijuluki pedang Allah dan dikenal sebagai panglima yang tidak pernah kalah, dulunya juga merupakan seorang panglima yang dipercaya untuk memimpin pasukan multi-kabilah ketika perang Uhud. Atau bahkan seorang yang tidak masuk Islam tetapi ia sangat simaptik pada Islam, tiada lain paman Nabi Muhammad, Abu Thalib seorang tokoh sosial politik di kaum Quraisy, sehingga kekuatannya mampu melindungi umat Muslim dari penolakan masyarakat Mekkah saat itu.

Sejarah pun membuktikan peran mereka saat telah masuk Islam sangat berdampak besar dan membawa perubahan dan percepatan perkembangan Islam yang pesat kala itu. Ada sebuah benang merah yang menjadi persamaan dari Nabi dan Sahabat yang saya paparkan diatas, yakni mereka semua diakui oleh masyarakat, bahkan non-Muslim sekalipun. Ketokohan ini digunakan dengan baik untuk memberikan dampak meningkatnya kredibilitas dakwah dan mempengaruhi banyak orang untuk mengajak masuk Islam.

Konsep ini masih sangat relevan untuk digunakan saat ini di kondisi dunia saat ini. Seorang kader dakwah kampus sangat diharapkan dapat memiliki kredibilitas dan pengakuan publik pada skala tertentu tergantung kapasitas pribadinya. Saya sangat yakin seorang kader pasti memiliki kapasitas pribadi yang memungkinkannya untuk diakui secara sosial di masyarakat. Menilik masyarakat Indonesia yang masih bergantung figur dalam memutuskan sesuatu, kekuatan ketokohan kader adalah senjata tersendiri dalam membangun basis kader dan simpatisan dakwah baru.

Setiap kader mempunyai potensi untuk ditokohkan, dan Anda bisa memanfaatkan potensi ini untuk menyebarkan ketokohan kader. Pada dasarnya ketokohan ini tidak bisa dibuat-buat, ia akan muncul dari sebuah kepercayaan publik terhadap kinerja Anda. Itu kuncinya, berikan yang terbaik atas setiap yang Anda lakukan, maka masyarakat akan secara otomatis menilai Anda sosok yang layak untuk diteladani. Lembaga dakwah juga diharapkan dapat mendistribusikan ketokohan kader di semua lini yang memungkinkan. Saya akan membahas “bagaimana menokohkan kader” dengan membagi sesuai lini yang memungkinkan kader untuk menokoh. Saya membagi lini ini dalam 6 lini yang memiliki basis massa didalamnya.

Akademik dan Profesi

Peran sentral mahasiswa adalah akademik dan profesi, dan dalam sebuah kampus, pengakuan yang paling diakui pada struktur sosial masyarakat kampus adalah kapasitas kompetensi akademik seseorang. Seorang yang memilki IPK diatas 3,00 akan lebih dinilai sebagai seorang yang sukses oleh –minimal- kawan satu program studi dan dosen tentunya. Seorang asisten laboratorium atau praktikum juga mempunyai pengaruh terhadap peserta praktikum, ia akan disegani sebagai sosok yang memiliki kepahaman akan sebuah mata kuliah. Seorang yang memenangi lomba penelitian pada tingkat Nasional juga akan menjadi kebanggaan bagi mahasiswa lain dan dosen, ia akan dikenang sebaga seorang mahasiswa yang menyumbangkan prestasi untuk universitas. Atau seorang mahasiswa tingkat lanjut yang sering terlibat dalam proyek atau penelitian dosen atau alumni tertentu, ia akan dinilai sebagai seorang yang telah mampu mengaplikasikan ilmu kuliah dan memiliki jaringan yang luas.

Seorang mahasiswa berprestasi secara akademik tanpa aktifitas non-kulikuler adalah yang lumrah, karena memang waktunya sudah terdedikasi penuh untuk akademik. Akan tetapi seorang mahasiswa berprestasi akademik dan memiliki pula waktu untuk berorganisasi serta mengikuti pembinaan keagamaan, ini barulah sebuah pengakuan lebih bagi dirinya. Seorang kader dakwah yang memang rajin dan pandai dalam akademik dapat mengisi peran ini di setiap program studi. Diharapkan di setiap program studi, pada setiap angkatannya ada minimal satu kader yang memiliki kapasitas ketokohan akademik dan profesi.

Kesenian dan Olahraga

Kesenian dan olahraga merupakan sebuah kelebihan yang tidak semua manusia memilkinya. Daya jangkau ketokohan dari dua bidang ini sangat luas, karena bisa menyentuh semua tipikal manusia. Baik itu yang kuper atau gaul. Menilai bahwa seorang yang pandai dalam hal kesenian ( khususnya musik ) dan olahraga adalah seorang yang ia nilai keren. Mesti diakui bahwa seni dan olahraga pula lah yang bisa menyatukan masyarakat dari berbagai asal dan dasar pemikiran. Seorang yang memiliki prestasi berolahraga akan di elu-elu kan oleh teman-temannya. Seorang musisi dapat menghibur temannya dengan kemampuan musiknya.

Ini merupakan sisi ketokohan yang masih sedikit di kalangan kader, padahl jika dianalisa secara instan, ketokohan ini dapat merangkul lebih mudah masyarakat yang menggemarinya. Seorang yang gemar seni dan olahraga biasanya adalah seorang yang bisa mengisi waktu luang dengan hal positif. Ia juga bukan seorang yang menolak agama secara ekstrem ( pada umumnya seperti itu ). Sehingga untuk pendekatan personal maupun figuritas akan lebih mudah untuk dilakukan.

Sosial Politik Kampus

Kampus juga sebuah wahana dan lingkungan latihan untuk berpolitik, banyak yang mengatakan kampus adalah miniatur Indonesia. Ada golongan yang memperjuangkan prinsipnya, ada pihak yang berkuasa, ada oposisi, ada yang menolak demokrasi, ada yang berpikir nasionalis, religi, anarkis, sosialis, kapitalis dan sebagainya. Dalam setiap kampus pasti ada beberapa orang yang mampu “menghipnotis” masyarakatnya dengan kapasitas pribadinya dari segi kemampuan menstrukturkan pemikiran, kekuatan pemahaman prinsip, mobilisasi dalam bergerak, semangat membela rakyat, kemampuan komunikasi yang kharismatik atau ia dikenal sebagai seorang pemimpin mahasiswa yang saat ini kita kenal dengan Badan Eksekutif Mahasiswa.

Kader dakwah memang tidak perlu sebuah jabatan untuk memunculkan ketokohan ini, tapi ia bisa hadir dalam kesempatan yang melibatkan banyak massa dan menyampaikan pemikirannya. Ia juga bisa sebagai seorang yang selalu aktif dalam setiap kepanitiaan kampus, ia juga bisa sebagai seorang yang selalu menyapa masyarakat kampus dengan kehangatannya, dan ia seorang yang diakui statusnya sebagai “aktifis mahasiswa” oleh teman-temannya. Tipikal ketokohan ini bisa menyentuh masyarakat yang memiliki ideologi yang kuat, dengan kemampuannya memahamkan apa yang ada di pikirannya, memungkinkan dirinya untuk mendapat kepercayaan dari orang banyak.

Religi

Sosok santri atau ulama tidak bisa lepas dari struktur sosial Indonesia, bagaimana pun kondisi bangsa ini, sosok ulama atau santri tetap memilki tempat tersendiri selama ia masih bisa berkomunikasi dengan baik dan bermanfaat bagi lingkungan. Peran ini sebetulnya bisa sebagai lumbung ketokohan kader, akan tetapi sejauh pengamatan saya , masih sangat sedikit kader yang mampu atau bahkan mau untuk menonjolkan kapasitas religinya. Kader sering malu untuk mengakui bahwa ia seorang aktifis masjid, dengan berbagai alasan tentunya. Padahal ia bisa menjadi sosok da’i yang diterima oleh masyarakatnya karena kemampuannya untuk mengarahkan massanya ke arah lebih baik. Dibutuhkan dua hal dalam ketokohan ini, yakni pemahaman yang baik tentang Islam dan kemampuan komunikasi. Kader saat ini lebih nyaman menyampaikan materi atau risalah Islam ke sesama kader saja, ia masih malu ( dan entah sampai kapan ) untuk menyampaikan ke seorang teman yang mugkin masih jauh dari nilai Islam.

Entrepreneur

Mahasiswa biasanya mengakui secara khusus seorang mahasiswa yang mampu berpenghasilan saat masih kuliah. Kekaguman dan rasa salut pun muncul, karena tidak semua mahasiswa mampu untuk melakukan hal ini. Kemampuan entrepreneur adalah sebuah kemampuan yang berasal dari minat dan diasah dengan mencoba langsung. Biasa kader dakwah cukup banyak yang mulai merintis usaha sejak kuliah, entah paradigma apa yang ada, sehingga banyak kader yang ingin menjadi wiraswasta. Ini merupakan sebuah keunggulan tersendiri bagi kader. Ia bisa mencontohkan bagaimana cara mencari uang sendiri, hidup tanpa tergantung orang tua dan mungkin bisa sedikit berbagi rezeki ke kawan-kawannya.

Grass root society

Seorang yang ”merakyat”, ia disebut seperti itu biasanya, yakni seorang yang rela dan senang untuk membicarakan hal yang mungkin menurut sebagian orang “tidak penting”, atau berkumpul bersama mahasiswa untuk membahas berbagai hal. Ia juga seorang yang mau bergabung dalam kepanitiaan kampus, tanpa meminta jabatan, ia mau membantu atau memberikan jaringan kepada lembaga apapun di kampus. Ia biasanya seorang yang penuh stamina dan multi talenta. Orang seperti ini sangat disayang dan diakui totalitasnya oleh seluruh tipikal mahasiswa, atau dengan kata lain, seorang tipikal ini dapat menyentuh mahasiswa. Sangat jarang atau bahkan hampir tidak ada kader dengan tipikal ketokohan ini, akan tetapi saya rasa butuh seorang kader yang dapat memanfaatkan ketokohan dari sisi ini.

Dalam membangun basis ketokohan ini , tidak perlu terlalu direncanakan secara formal. Dimulai dari meng-outsource potensi kader. Biarkan ia memilih akan beraktifitas dimana, dan ketika potensi ketokohannya mulai muncul di salah satu lini diatas, barulah di arahkan dengan baik untuk kepentingan dakwah. Pemanfaatan dari ketokohan ini ada berbagai cara. Secara kelembagaan, ketokohan ini akan berdampak positif pada pencitraan lembaga dakwah. Secara personal, kader yang telah tertokohkan ini dapat mengajak langsung objek dakwahnya untuk beribadah, belajar Islam atau bahkan aktif dalam kegiatan lembaga dakwah.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 12, 2008 by in Dakwah Kampus, Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,999 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: