Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Meningkatkan Kemampuan Argumentasi dan Kepercayaan Diri Kader


Permasalahan yang terjadi di LDK saat ini adalah kemampuan kader untuk berargumentasi dan ketidakpercayaan diri kader dalam bersikap dan berdebat akan sesuatu. Hal ini mengakibatkan kader dakwah dinilai tidak bisa komunikasi dan tidak berkonten dalam berdakwah, bagaimana cara mensolusikannya ?

Sejarah umat manusia telah membuktikan bahwa perbudakan pemikiran jauh lebih menyedihkan dibandingkan dengan perbudakan secara fisik. Kebebasan pemiikiran selalu menjadi bahaya bagi mereka yang takut akan kebenaran dan secara membabi buta mencari pegangan pada masa lampau. Pengorbanan bagi suatu keadaan berpikir bebas, terkadang butuh banyak pengorbanan. Socrates dihukum mati karena berketetapan hati untuk menjadi seorang “pengganggu”. Galileo disiksa dan Bruno dibakar diatas unggunan kayu bakar, karena menentang kepercayaan-kepercayaan yang umum dianut pada masa itu. Bahkan hingga Nabi Isa dan Nabi Ibrahim pun yang telah Allah berikan pemikiran yang luar biasa, tak luput menjadi sasaran dari pihak-pihak yang menyenangi status quo. Kebesaran pemikiran mereka, baru diakui setelah waktu berjalan dalam hitungan tahun, puluhan tahun atau malah berabad-abad.

Lebih lanjut dalam sejarah Islam pertengahan, banyak pula ulama maupun pemikir Islam yang banyak berkembang dan menyampaikan gagasannya. Sejarah pula membutktikan kekuatan dalam berpikir dan berargumen untuk meyakinkan banyak pihak akan sesuatu menjadi semua nilai dan pengakuan tersendiri di mata masyarakat luas. Setiap orang yang pandai berbicara di depan umum dan menyampaikan sesuatu sampai detik ini masih dinilai sebagai seorang yang lebih baik ketimbang manusia pada umumnya.

Memang perlu diketahui bahwa, jumlah orang yang cukup percaya diri dan berani berargumen di depan umum jauh lebih sedikit ketimbang yang tidak berani. Bahkan cenderung seseorang lebih bisa mengkritik dan menyalahkan pihak tertentu tanpa memberikan argument baru yang lebih bisa diterima. Sebagai seorang kader dakwah tentu hal ini perlu kita miliki, kemampuan untuk memahami sesuatu dan berargumen untuk meyakinkan banyak pihak menjadi kekuatan yang dibutuhkan dalam dakwah kita saat ini.

Walau tak bisa dipungkiri saat ini, kita harus miris melihat kondisi kader dakwah yang tidak bisa berkomunikasi dengan baik, lemah dalam beragumen, takut berdebat, tidak percaya diri untuk menyampaikan sesuatu dengan dalih “belum siap, khawatir kaburo maktan…” atau “takut disangkat ujub”. Saya justru melihat bukan belum siap, tapi memang kader dakwah saat ini malas membaca dan menjadi tidak pernah paham akan sesuatu. Saya juga melihat bukan takut disangka ujub karena kerendahan hatinya, justru itu merupakan penyakit tawadhu salah tempat.

Ketika ada seorang kader dakwah bisa mengatakan bahwa itu menjadi alasan kenapa ia tidak berani dalam menyampaikan argumen, maka kita perlu melatih dan membiasakan kader kita untuk bisa menjadi pemikir dan seorang yang argumentatif.

Kita harus mengajar para intelektual yang muda-muda, yang pada suatu saat akan menggantikan kita untuk meneruskan cita-cita bangsa ini. Mendidik bangsa ini agar menjadi bangsa yang rasional dan berpengetahuan. Tujuan akhir dari semua ini adalah untuk mewujudkan suatu keadaan dimana diri kita dan kader-kader kita akan menjadi pemikir, pejuang dan pemimpin bagi agama, bangsa dan kemanusiaan. Ini adalah janji kepada tanah air. Ini merupakan soal prinsip. Soal kehormatan suatu bangsa.” (Muhammad Hatta)

Meningkatkan Kepercayaan DIri

Kepercayaan diri adalah sebuah kunci sukses seseorang dalam menggapai sebuah cita-cita. Kita bisa melihat banyak orang sukses ditentukan oleh faktor ini. Pengusaha bisa sukses karena ia memiliki kepercayaan diri akan strategi pemasarannya. Seorang model bisa sukses ketika ia yakin bahwa ia memiliki inner and outer beauty yang baik. Seorang pembalap F1 akan sukses jika ia yakin bahwa ia memiliki mobil yang baik serta memahami sirkuit balap dengan baik. Begitu pula dalam berdakwah, kita perlu memiliki kekuatan kepercayaan diri yang akan menjadi bekal dalam berdakwah. Meyakinkan diri sendiri bahwa Anda dan dakwah Anda akan sukses dan memiliki kepercayaan diri untuk menggapai cita-cita dakwah yang mulia. Namun pada kenyataannya seperti yang saya paparkan diatas banyak kader saat ini yang hilang kepercayaan dirinya, terutama untuk hal-hal yang berkaitan dengan popularity dan public interaction. Sehingga lenyap pula cita-cita besar dakwah itu karena kepercayaan diri yang sirna.

Beberapa tips singkat untuk meningkatkan kepercayaan diri kader adalah ;

(1)    Percaya Bahwa Anda Mampu. Meyakini pada diri Anda bahwa Anda Mampu untuk melakukan sesuatu. Percaya pada potensi yang sudah Allah berikan dan percaya bahwa Anda memiliki banyak teman dan sahabat yang akan selalu siap untuk mendukung gerak dakwah Anda. Seseorang biasanya pula menjadi tidak percaya diri ketika ia tidak cukup yakin akan kemampuannya, maka meningkatkan kemampuan, kepahaman dan pengalaman diri menjadi cara yang tepat untuk meningkatkan kepercayaan pada kemampuan diri.

(2)    You are special !!!.  Setiap manusia Allah ciptakan dalam bentuk yang sebaik-baiknya dan Allah pula memberikan potensi serta bakat yang berlimpah ruah kepada diri ini. Akan tetapi manusia seringkali fokus pada ketidakmampuannya, coba lah fokus pada hal yang menjadi keunggulan diri Anda, dan katakan pada diri Anda bahwa “saya adalah cipataan Allah yang Maha Memiliki segalanya”. Jadikan pengelolaan potensi diiri sebagai kekuatan untuk menemukan hal istimewa dalam diri Anda.

(3)    Jauhi keraguan.  Sikap ragu bisa terbentuk karena beberapa hal antara lain, terlalu banyak pertimbangan. Terlalu banyak pertimbangan ini akibat kita terlalu banyak mendapat informasi yang tidak semestinya datang kepada diri kita. Sebutlah Anda akan belajar motor, jika Anda diskusi tentang motor dengan orang yang pernah kecekalaan motor atau ditilang polisi dan itu menjadi kekhawatiran tersendiri untuk Anda maka lebih baik jauhi orang semacam itu, cobalah berganti dengan diskusi denga pihak yang eprnah sukses akan sesuatu dan jaidkan itu insipirasi dan motivasi untuk Anda dalam mengambil langkah.

(4)    Belajar dari orang lain. Pasti ada orang yang luar biasa dan memiliki kepercayaan diri yang kuat dalam berargumentasi. Belajar dari mereka, saya sangat yakin setiap orang yang saat ini memegang gelar public speaker dulunya pernah mengalami masa dimana ia tidak berani berbicara di depan umum dan berjuang keras untuk mendapatakan kepercayaan diri. Belajar dari orang sukses akan memberikan sebuah inspirasi tersendiri untuk Anda.

Berpikir Kritis

Berpikir kritis dapat diartikan sebagai proses sebagai suatu kemampuan. Proses dan kemampuan tersebut digunakan untuk memahami konsep, menerapkan, mensintesis dan mengevaluasi informasi yang didapat atau informasi yang dihasilkan. Tidak semua informasi yang diterima dapat dijadikan pengetahuan yang diyakini kebenarannya untuk dijadikan panduan dalam tindakan. Demikian halnya dengan informasi yang dihasilkan tidak selalu merupakan informasi yang benar. Informasi tersebut perlu dilakukan pengkajian melalui berbagai kriteria seperti kejelasan, ketelitian, ketepatan, reliabilitas, kemamputerapan, bukti-bukti lain yang mendukung, argumentasi yang digunakan dalam menyusun kesimpulan, kedalaman, keluasan, serta dipertimbangkan kewajarannya. (sumber : Jenicek M. 2006)

Kemampuan berikir kritis ini menjadi landasan seorang kader dakwah dalam menyampaikan argumentative tertentu. Karena kita tidak hanya mendidik seorang kader untuk bisa menyampaikan pendapat saja. Akan tetapi harus disertai isi dan landasan yang kuat dalam berargumen sehingga orang lain akan melihat ada kepahaman dan kematangan dalam berkata sehingga mereka bisa terpengaruh dengan apa yang Anda sampaikan.

Oleh karena itu seorang kader harus mampu dan dilatih agar dapat ;

  1. Kemampuan memahami argumentasi orang lain
  2. Kemampuan untuk mengevaluasi dan mengkritisi suatu pendapat
  3. Kemampuan untuk mengembangan dan mempertahankan argumentasi dengan landasan yang kuat.

Kemampuan Argumentasi

Untuk itu semua, seorang kader harus memiliki kekuatan AL FAHMU ( kepahaman ) yang oleh revolusioner mesir terkemuka Hasan Al Banna ia tempatkan dalam posisi pertama dari arkanul baiat ( 10 hal yang harus dimiliki seorang kader ). Kepahaman akan sesuatu yang dibicarakan, yang mana bisa dibangun dengan budaya untuk berbagai, diskusi dan debat produktif pada sesame kader. Saya sering sedih karena budaya ini sudah mulai hilang diantara kader. Kita lebih senang untuk mendengarkan ceramah dari seorang muwajih dan menerimanya begitu saja. Pertanyaan yang diajukan juga sering kali hanya pertanyaan basa basi yang tidak berisi sama sekali.

Beberapa langkah kecil untuk berpikir kritis yang nantinya akan menjadi bekal dalam berargumentasi antara lain ;

(1)    Menentukan Fokus Pembahasan tertentu. Sebutlah bidang aqidah, bidang kesejahteraan masyarakat atau keadilan perhukuman.

(2)    Kumpulkan sumber informasi dari berbagai pihak. Sumberi sebisa mungkin variatif dan menjadi landasan kuat kita dalam berargumen. Cari dalil dari pandangan Islam, pandangan tokoh masa lalu dari berbagai ideology untuk komparasi dan tokoh kontemporer saat ini.

(3)    Tanyakan landasan atau asumsi yang dipakai oleh seseorang yang menyampaikan pendapat. Tujuannya adalah untuk membuat hipotesa berpikir seseorang dan mengetahui alasan ia mengemukakan suatu mendapat sehingga kita bisa merekayasa bahan argumentasi.

(4)    Membuat pola algoritma berpikir sederhana akan hubungan pembahasan dengan berbagai hal lain. Kita mencoba menghubungkan kasus atau materi yang dibahas dengan kaitannya pada bidang lain atau kasus lain. Sehingga kita bisa menemukan korelasi antar bidang-bidang yang ada.

(5)    Tanyakan dan diskusikan kepada beberapa orang lain setelah kita membuat pandangan sementara. Diskusi ini bertujuan untuk uji materi dan pematangan konsep serta mencari masukan dari pihak lain.

(6)    Utarakan pemikiran Anda dalam bentuk tulisan atau mimbar terbuka dan lihat bagaimana reaksi atau respon masyarakat terhadap argumentasi yang kita buat.

(7)    Menyiapkan anti-tesis untuk sangkalan yang mungkin muncul. Semakin banyak yang memberikan kritikan maka akan semakin banyak perbaikan konten dari gagasan yang Anda ajukan.

(8)    Uji kebenaran dan kemampuan Anda di depan umum dalam bentuk forum terbuka atau pada kesempatan lain yang memungkinkan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 7, 2008 by in Dakwah Kampus, Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,223,341 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: