Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Pragmatisme Babakan Siliwangi


oleh Ridwansyah Yusuf Achmad*

savebabakansiliwangi3 

Isu Babakan Siliwangi telah menghasilkan pro-kontra publik tentang bagaimana  ruang di kawasan tersebut dimanfaatkan dan dikendalikan. Pemerintah daerah perlu menangkap berbagai asumsi dan argumen yang digunakan oleh mereka yang pro maupun yang kontra untuk mengambil keputusan yang tepat tentang nasib Babakan Siliwangi, dan bahkan tentang cara mengimplementasikan keputusan tersebut nantinya.

Semua sepakat ( khususnya pihak yang kontra pembangunan kembali Babakan Siliwangi ) bahwa saat ini Babakan Siliwangi tidak banyak memberikan manfaat, bahkan tampak kumuh. Maka timbul pertanyaan bagaimana bentuk penataan yang sesuai dengan karakteristik Babakan Siliwangi dan kepentingan publik serta memperhatikan faktor lingkungan.

Adanya rencana pembangunan rumah makan pada lokasi bekas rumah makan yang terbakar oleh Pemerintah dan PT Esa Gemilang Indah (PT EGI) selaku pengembang tentu bisa dijadikan sebuah solusi tersendiri untuk membangun kawasan Babakan Siliwangi ini menjadi lebih tertata. Rencana ini juga didukung dengan fenomena adanya nostalgia yang mendalam tentang keberadaan sebuah rumah makan di era 70-80 an yang menyediakan rupa-rupa makanan khas parahyangan seperti lauk emas dan sayur haseum  yang memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan dari luar Kota Bandung. Serta tentunya dengan adanya rencana pembangunan ini, Pemerintah Kota Bandung akan mendapatkan insentif berupa pemasukan dalam bentuk Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Akan tetapi, kerjasama pemerintah dengan PT Esa Gemilang Indah (PT EGI)  jelas-jelas mengurangi jumlah ruang terbuka hijau di kawasan babakan siliwangi dan tentunya bertentangan dengan kebijakan dan peraturan yang telah ada. Padahal, Hutan kota Babakan Siliwangi, Bandung, memiliki fungsi ekologi dan sosial budaya yang sangat penting bagi masyarakat di Kota Bandung. Hutan dengan luas sekitar 3,8 hektar itu, misalnya, memberikan keasrian, keteduhan, dan kesejukan. 

Dalam undang-undang (UU) Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang disebutkan, RTH sebuah kota minimal 30 persen dari total luas wilayah, sedangkan luas ruang terbuka hijau di Kota Bandung hanya 7,86 %. Selain itu, berdasarkan perangkat peraturan penataan ruang di wilayah Kota Bandung, arahan tata guna lahan dalam rencana tata ruang wilayah Kota Bandung (Perda Kota Bandung No. 02 Tahun 2004, dan  Perda Kota Bandung No. 03 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Bandung), kawasan Babakan Siliwangi diarahkan dengan peruntukan RTH, yang selanjutnya dijabarkan ke dalam Rencana Detail Tata Ruang Kota-Wilayah Pengembangan (WP) Cibeunying (Peraturan Wali Kota Bandung No. 981 Tahun 2006 tentang Rencana Detail Tata Ruang Kota-WP Cibeunying) diarahkan dengan rencana setempat: pariwisata. Peraturan lain dalam RTRW Kota Bandung 2005-2013 menetapkan fungsi Kawasan Babakan Siliwangi sebagai RTH yang merupakan bagian dari kawasan lindung Kota Bandung, serta menetapkan kebijakan pola pemanfaatan ruang berupa pengendalian pembangunan di wilayah Bandung Utara dan mengembalikan fungsi RTH yang telah beralih fungsi secara bertahap.

Dengan direncanakannya pembangunan rumah makan dalam skala besar in tentu akan terjadi berbagai dampak negatif serius. Begitu pula terhadap lingkungan juga bakal terjadi dampak yang harus diperhatikan, misalnya dampak dari ditebangnya vegetasi bagi pembangunan sarana fisik rumah makan dan sarana penunjang lainnya, serta ditutupnya permukaan tanah oleh semen atau aspal. Maka, keindahan alam hutan semi-alami itu akan hilang. Dampak lainnya, iklim mikro akan berubah, seperti udara kota kian panas, gersang, dan pengap oleh polusi udara dari kendaraan. Mengingat jumlah kendaraan diperkirakan juga bertambah padat, kemacetan bakal meningkat dan polusi udara makin berat. Limbah atau sampah domestik pun dapat meningkat. Mengingat pentingnya peran Babakan Siliwangi dalam sistem perkotaan yang berwawasan ekologis, pembangunan rumah makan ini jelas bertentangan dengan rencana tata ruang yang ideal.

Dengan berbagai peraturan dan rencana yang sudah ada serta pertimbangan dampak lingkungan maupun non-lingkungan, pembangunan ini mengundang banyak penolakan dari berbagai pihak. Khususnya pihak pemerhati lingkungan dan akademisi, dimana pihak yang kontra ini menilai bahwa kerugian yang terjadi akibat pembangunan rumah makan babakan siliwangi tidak sebanding dengan pendapatan materi yang akan diperoleh pemerintah kota Bandung. Luas Babakan Siliwangi mencapai 3,8 hektar. Jika diasumsikan lahan efektif Babakan Siliwangi seluas 3 hektar, maka dalam sehari mampu menghasilkan oksigen senilai Rp 117 j uta dan dalam setahun Babakan Siliwangi menghasilkan oksigen senilai Rp 42,7 miliar. Berdasarkan perhitungan tersebut, jika 20 persen lahan di Babakan Siliwangi dijadikan bangunan, maka kerugian minimalnya mencapai Rp 8,5 miliar per tahun. Ini jauh lebih besar daripada pendapatan pemerintah kota yang dijanjikan oleh pengembang sebesar Rp 50 juta per tahun atau kurang dari Rp. 5 juta per bulan.

Dugaan adanya politisasi akan kebijakan pembangunan Rumah Makan Babakan Siliwangi ini pun menjadi berkembang, terutama di kalangan para aktifis. Dugaan ini bukan tanpa alasan tentunya, tidak terbukanya analisis AMDAL yang dilakukan oleh pihak yang berkepentingan disana, minimnya transparansi pemerintah dalam pengambilan kebijakan yang melibatkan masyarakat terkait Babakan Siliwangi, hingga dugaan adanya kedekatan antara pemerintah kota saat ini dengan pihak pengembang yang membuat pemerintah rela “mengorbankan” lahan 3,8 Hektar ini hanya untuk kurang dari Rp. 5 Juta per bulan.

Dengan mempertimbangkan peraturan yang ada seharusnya Rumah Makan Babakan Siliwangi yang direncanakan akan di bangun tidak akan mendapatkan izin resmi. Dengan mempertimbangkan hal lingkungan saja, seharusnya izin itu tidak pernah ada, akan tetapi masyarakat tidak pernah mengetahui adanya proses pengajuan pembangunan ini, dan tiba-tiba sudah ada izin yang dikeluarkan oleh pemerintah.

Baik dari pihak ITB pun tampak mempolitisasi isu Pembangunan Babakan Siliwangi ini, karena bagaimana pun, jika Rumah Makan ini perlu ditinjau ulang dalam pembangunannya, maka Sabuga dan Saraga pun perlu dipertimbangkan kembali legalitasnya. Ini mengapa tidak ada pernyataan resmi dari ITB terkait isu Babakan Siliwangi ini.

 

*Penulis adalah mahasiswa Teknik Planologi ITB Angkatan 2005 dan tulisan ini dalam rangka tugas mata kuliah Teori Perencanan

 hijau-lo

 referensi :

http://savebabakansiliwangi.wordpress.com/

http://tribunjabar.co.id/artikel_view.php?id=18760&kategori=7

http://hetifah.com/artikel/pro-kontra-babakan-siliwangi.html

http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/10/16/15370819/babakan.siliwangi.dan.publik

Advertisements

4 comments on “Pragmatisme Babakan Siliwangi

  1. danar astuti dewirini
    November 19, 2008

    astgfrlh..bapak ucup..
    tau ah *speechless aQ*

  2. ridwansyahyusufachmad
    November 19, 2008

    speechless kenapa ??

  3. Shinta
    December 16, 2008

    Mas Ridwan, boleh tau ga, data valuasi ekonomi lingkungannya dari mana? Pengen tau lebih rinci, buat tugas kuliah nih.. makasih..

  4. Shinta
    December 16, 2008

    Halo.. boleh tau ga data valuasi ekonominya sumbernya dari mana? Pengen tau lebih jelas buat tugas kuliah. Makasih..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 18, 2008 by in Planologi.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,217,349 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: