Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Dilematika Transportasi Ibukota Jakarta


Permasalahan transportasi yang terjadi di ibukota Jakarta bukanlah sebuah masalah parsial yang bisa diselesaikan dengan satu langkah parsial saja. Perlu adanya integrasi kebijakan yang baik untuk menyelesaikan masalah yang menjadi sebuah ciri kota besar ini. Seringkali saat ini, para ahli memandang menambah panjang jalan menjadi solusi, padahal dengan menambah jumlah jalan maka penggua kendaraan pbajajribadi bisa bertambah, atau kebijakan pembatasa jumlah kendaraan yang tidak di iringi dengan perbaikan sistem transportasi massal, atau pembangunan moda transportasi massal ( MRT ) yang tidak diseimbangin dengan konsekuensi perubahan guna lahan yang akan terjadi.

Sumber dari masalah di bidang transportasi ini bersandar pada tataran paradigmatis (bahkan ideologi). Inilah penyebab paling esensial mengapa transportasi Jakarta seperti tidak ada yang mengurus. Transportasi Jakarta dikelola dengan tidak menggunakan prinsip-prinsip dasar pengelolaan transportasi beradab, yaitu kemudahan akses bagi semua, keadilan, keberlanjutan secara ekologis, kesehatan dan keselamatan, partisipasi publik, serta transparansi.

Kemudahan akses bagi semua, dimaknai bahwa masyarakat kota seharusnya bisa bepergian dengan mudah, dengan berbagai moda transportasi yang tersedia, tidak dengan kendaraan pribadi, tapi dengan kendaraan umum. Sejatinya pada tahap ini, Kota Jakarta merupakan kota yang paling komplit (beragam) jenis angkutan umum yang bisa digunakan. Beberapa kebijakan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah transportasi adalah dengan Program Pengembangan Pola Transportasi Makro (PTM) DKI Jakarta atau Jakarta Macro Transportation Scheme (JMaTS). Pola Transportasi Makro itu mengintegrasikan empat sistem transportasi umum, yakni bus Priority (antara lain busway), Light Rail Transit (LRT), Mass Rapid Transit (MRT) dan Angkutan Sungai.

Harus pula diingat, transportasi adalah salah satu jantung kegiatan manusia. Intinya adalah mobilitas manusia, dan untuk ukuran sebuah metropolitan seperti Jakarta, mobilitas penduduk haruslah semakin mudah dan murah bagi para warganya. Jutaan orang menumpukan hidupnya di jalan raya. Bayangkan jika mobilitas manusia di metropolitan ini tersendat-sendat atau sarana transportasi tak memadai. Banyak orang marah, banyak uang melayang karena rapat bisnis batal, banyak orang akan protes, dan bukan tak mungkin kalau akumulasi kemarahan ini akan berdampak besar jika tidak diselesaikan segera.

Sehingga menjadi sebuah konsekuensi logis bagi para pengambil kebijakan untuk dapat melibatkan partisipasi masyarakat dalam merencanakan kebijakan transportasi, karena bagaimanapun masyarakatlah yang akan menggunakan dan menikmati itu semua. Kebijakan yang partisipatif juga akan memberikan peluang kepada warga untuk turut mengontrol pemerintahan, turut mengendalikan, dan memperhatikan bagaimana pengelola pemerintah ini menjalankan kepercayaan publik.

Memang dilematika yang terjadi di pengambil kebijakan adalah bagaimana mengsinergiskan pengembangan kebijakan politik, sosial, ekonomi dan rekayasa teknik agar menghasilkanbus sebuah keterpaduan dan integrasi sistem transportasi yang sesuai dan diandalkan oleh masyarakat Kota Jakarta. Disamping itu ada beberapa Anomali  yang cukup menarik adalah tidak adanya manejemen transportasi masal logistik, saat ini semuanya tergantung pada truk kontainer. Belum ada option akan permasalahan transportasi logistik yang tentunya juga akan berdampak pada transportasi orang yang selama ini menjadi perhatian utama para pengambil kebijakan. Selain itu,  Orientasi kebijakan transportasi Jabodetabek yang masih saja mendukung (tersirat) kendaraan pribadi sehingga menimbulkan sebuah trend penggunaan sepeda motor sebagai solusi instan dan pribadi. Anomali terakhir adalah, mereka selalu membahas secara makro, pernahkah mereka membahas secara mikro, seperti misalnya desain bangunan dan pedestrian – yang secara tidak langsung menentukan keberhasil transportasi massal. Apabila secara makro pun, pernahkan mereka mengintegrasikan dengan Rencana Tata Umum Ruang Wilayah, yang saat ini justru menganjurkan pengembangan wilayah ke pinggiran Jakarta, dan bukannya konsolidasi perkotaan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 4, 2008 by in Planologi.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,216,714 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: