Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

lalu kenapa…


terkadang kita suka berpikir bahwa kawan kita adalah kawan.
kawan yang bisa dipercaya
selalu tersenyum ketika bersapa
selalu memberi ketika berbagi
selalu bersama dalam segala rasa

tapi aku berpikir kembali, benarkah kawan akan selalu jadi kawan
mungkinkan kawan berubah menjadi lawan..

hmhm… kalau hanya jadi lawan mungkin tidak jadi masalah, bagaimana jika kawan kita berkhianat secara diam-diam. dan perbuatannya itu membuat masa depan diri tertutup untuk sebuah jalan.

jika perbuatan baik di balas perbuatan buruk, apakah kita harus juga membalasnya dengan perbuatan buruk.

kadang aku berpikir jika apa yang kita lakukan sudah tidak dihargai  -bahkan- oleh kawan kita. apa lagi alasan kita berada disana.

jika aku sudah tidak diterima, mengapa aku juga tidak boleh berpisah…
lalu kenapa kalian harus menahan aku ketika aku akan keluar dari pintu berkunci ini.
kenapa tidak kalian serahkan kunci itu agar aku bisa keluar dan bebas,
bukan hanya aku yang bebas dari cacian kalian, tapi kalian juga akan bebas atas ketidaknyaman kalian atas diriku.

lalu kenapa kalian harus khawatir jika aku tidak bersama kalian, toh, kalian juga tidak memberikan kepercayaan itu pada aku..

apakah aku salah jika aku mencari orang lain selain kalian, yang mana mereka percaya pada aku.

lalu kenapa kalian tidak mengizinkan aku pergi
lalu kenapa kalian tetap berbicara tentang
lalu kenapa kalian juga takut pada aku…

aku adalah bagian dari kalian…
aku tidak pernah bermaksud untuk pergi
tapi kalian yang membuat aku tidak punya pilihan lain
aku tidak suka kata berpisah
tapi jika berpisah menjadi sebuah kebaikan bersama
maka aku akan pilih jalan itu..

Advertisements

4 comments on “lalu kenapa…

  1. (no name)
    January 23, 2009

    “hmhm… kalau hanya jadi lawan mungkin tidak jadi masalah, bagaimana jika kawan kita berkhianat secara diam-diam. dan perbuatannya itu membuat masa depan diri tertutup untuk sebuah jalan.

    jika perbuatan baik di balas perbuatan buruk, apakah kita harus juga membalasnya dengan perbuatan buruk.”

    saya rasa membalas perbuatnnya dengan perbuatan yang buruk bukanlah solusi terbaik, mungkin dengan tetap tersenyum padanya(meski perih memang), senantiasa mengulurkan tangan di saat ia butuh, serta mendo’akannya, adalah solusi terbaik

    ingat, batu yang keras dapat hancur karena tetes air hujan

    jadi, balaslah keburukan dengan kelembutan, bukan dengan kekerasan ataupun cacian semata

    orang besar memulai hidupnya dengan empati

    cheers

  2. fio
    January 24, 2009

    sepertinya saya ngerti.. apa sok tau ya? 🙂

    konsekuensi hidup secara kolektif itu ya seperti ini akhi.. ketika semua lancar, sesuai dengan yang kita inginkan maka itu tidak menjadi masalah… tapi ketika mulai terasa merugikan.. atau melawan kata hati.. situasi menjadi rumit, antara masih ingin bersama tapi merasa terjerat atau berpisah dan memperjuangkan dirasa benar oleh diri sendiri.

    walaupun dianggap pemberontak..

  3. Nadia Juli Indrani
    January 25, 2009

    Asw..

    mau ikutan yah..

    hemm..

    aku pernah ni berada di situasi kaya gini dan rasanya ga enak bgt da beneran..

    dulu aku tetp betahan dengan segala ketidaknyamanan dan akhirnya berhasil..yeah i do my best..tunjukin aja yang terbaik..

    karena semakintidak enak kita di suatu lingkungan semakin cepat dewasa..(Naoki di Itazura na kiss)..

    sabar ya kang!!

  4. ninahamas
    February 18, 2009

    numpang ngasi komen ya ka..
    itu resiko adi manusia ka..
    ada yang suka,, ada yang ga suka..
    semua orang hidup denga jalan, cara hidup, dan tujuan yang berbeda-beda..
    jadi pasti melakukan cara agar tujuan hidupnya tercapai..
    jadi, tujuan kita,, mencapai tujuan kita dengan tetap menaga hubungan kita dengan orang lain sebaik2nya.. sehingga orang2 juga dapat melakukan hal yang sama seperti kita.. tidak meragukan orang lain..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 23, 2009 by in Aku dan Diri.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,227,326 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: