Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

makna dakwah – Hatta yakfuruu bithaghuti wa yu’minuu billah


Tujuan dari dakwah adalah bagaimana agar manusia meninggalkan thagut atau syirik dan beriman kepada Allah. Thagut pada zaman jahiliyah dikenal dengan hubal, latta, uzza’. Mereka adalah spiritualis pada zamannya dan dibuatkan patung oleh masyarakat mekkah sebagai media untuk berdo’a kepada Tuhan mereka, dan ketika futuh mekkah, salah satu simbol penaklukan adalah dengan merusak patung patung tersebut, dan menjadi simbol kemenangan aqidah bagi masyarakat kota Mekkah. Jelas dalam masa kenabian Muhammad, proses dakwah adalah membuat masyarakat jahiliyah meninggalkan Tuhan selain Allah azza wa jalla.

Allah berfimran dan dua ayatnya, “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak jadikan seorang khalifah di muka bumi.” (Al-Baqarah 30) dan “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariat 5).

Pada kedua ayat diatas, jelas Allah menegaskan bahwa tiada Tuhan selain Allah, prinsip  tauhid inilah yang menjadi pengarusutamaan dalam gerak dakwah Islam. Dan peran kita sebagai khalifah di muka Bumi Allah haruslah di optimalkan sedemikian hingga agar kebermanfaatan Islam di muka bumi terasa sangat. Imam Syahid Sayyid Qutb dalam buku fenomenalnya Petunjuk Jalan mengatakan, “Umat manusia sekarang ini berada di tepi jurang kehancuran. Keadaan ini bukanlah berasal dari ancaman maut yang sedang tergantung di atas ubun-ubunnya. Ancaman maut itu adalah satu gejala penyakit dan bukan penyakit itu sendiri”

Merujuk pada perkataan beliau, bentuk thagut masa kini semakin berkembang dan varian. Tidak hanya sekedar bebentuk patung yang disembah secara langsung. Akan tetapi, berkembang menjadi berbagai macam bentuk yang bentuk penyembahannya tidak selalu tampak atau dalam keadaan sadar akan tetapi justru sudah hampir mendekati atau bahkan sudah masuk dalam kategori syirik. Bentuk thagut masa kini bisa dalam bentuk ; harta, tahta atau jabatan, wanita atau kesenangan dunia lain,ramalan, bahkan fasilitas jejaring sosial bisa juga menjadi thagut saat digunakan berlebihan hingga lalai akan kewajibannya terhadap Allah. Seringkali bahkan, manusia tidak sadar, bawah ia telah lebih mencintai sesuatu yang ada di dunia dan secara tidak sadar “menyembah” sesuatu itu dalam bentuk lebih memberi prioritas, atau lebih sering memikirkan.

Sehingga proses pendekatan yang perlu dilakukan dalam dakwah yang dilakukan perlulah semakin variatif. Aktifis dakwah kampus harus mampu mengidentifikasikan bentuk-bentuk thagut yang ada disekitar objek dakwahnya, dan membuat siasat anti-thagut yang bisa melawan bentuk thagut semu yang merajalela. Inilah tantangan dakwah kita di masa kini, oleh karena itu dibutuhkan pemahaman yang baik dari setiap aktifis dakwah untuk mampu berdialektika dengan objek dakwah agar memberikan pencerahan bagi mereka agar beriman kepada Allah.

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman dengan takdir, yang baik dan yang buruk.” (HR. Muslim)

Bagaimana hakekat dari beriman kepada Allah, akan merujuk pada karya Syaikh Muhammad ibn Sholih Al ‘Utsaimin dalam bukunya Syarh Tsalatsatul Ushul.

Dalam bukunya tersebut, Syaikh Muhammad Ibn Sholih Al Utsmani menekankan pentingnya memahami hakekat beriman kepada Allah, agar seorang muslim tidak sekedar ikut-ikutan (taklid) dalam beriman kepada Allah. Beliau menuliskan bahwa keimanan kepada Allah terkandung di dalamnya empat unsur yang saling berkaitan.

Pertama, keimanan kepada wujudullah (adanya Allah). Maka jelas batillah pendapat yang mengatakan bahwa Allah tidak ada. Bahkan keberadaan Allah jelas nyata, baik secara fitrah, akal, syar’i dan secara indrawi.

Kedua, keimanan kepada sifat rububiyah Allah, yaitu kita mengimani bahwa hanya Allah Rabb semesta alam dan tidak ada satupun sekutu bagi-Nya. Hanya bagi-Nya-lah hak untuk mencipta, menguasai dan memerintah. Tidak ada seorang pun yang mengingkari sifat rububiyah Allah ini kecuali orang-orang yang sombong yang meragukan perkataan mereka sendiri.

Ketiga dari keimanan kepada Allah, yaitu keimanan kepada sifat uluhiyah Allah, yaitu mengimani bahwa hanya Allah-lah yang berhak disembah dan tidak ada satu pun sekutu bagi-Nya. Allah  berfirman, “Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”  ( Al-Baqarah  163)

Keempat, seorang muslim wajib mengimani nama-nama dan sifat-sifat Allah yaitu nama-nama dan sifat-sifat yang telah Allah tetapkan bagi diri-Nya dalam kitab-Nya atau Sunnah Rasul-Nya dengan tanpa melakukan tahrif, ta’thil, takyif, tamtsil  dan tafwidh. Allah  berfirman dalam surat Al-A’raaf, “Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan.” ( Al A’raaf  180)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 30, 2010 by in Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,217,120 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: