Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

makna dakwah – wal maw ‘izhotil hasanah


Seorang mukmin adalah cermin bagi saudaranya, dan nasihat adalah semahal-mahalnya pemberian. Akan tetapi nasihat adalah sesuatu yang paling sulit bila hendak dilakukan. Karena, kebenaran itu pahit; menjelaskan kesalahan itu membuka kekurangan, sementara diri manusia itu suka menentang, dan manusia sangat cinta kepada dirinya. Sehingga, dalam pandangan saya, suatu nasihat akan mendatangkan hasil sebaliknya jika kita tidak menyampaikannya dengan cara yang baik

Dakwah dengan cara yang baik dan sebaik-baiknya. Allah sudah menurunkan value dan content dakwah kita dengan jelas dan tegas sudah Allah turunkan dalam Al Qur’an dan Hadis. Tinggal bagaimana cara kita saja sebagai aktifis dakwah kampus membahasakannnya dengan cara yang tepat dan media yang tepat pula. Karena metode yang tepat akan mempercepat proses penyampaian hidayah, dan metode yang kurang pas bahkan bisa berdampak kontraproduktif bagi dakwah yang dilakukan. Dalam Al Qur’an pun Allah juga menyampaikan firmannnya ;

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah Lembut terhadap mereka. sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” ( Ali ’Imran : 159)

Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, Mudah-mudahan ia ingat atau takut.” (Thaha : 44)

Dari kedua ayat ini sudah jelas bahwa memang dakwah itu harus dengan bahasa yang lemah lembut, atau bisa juga di terjemahkan dengan “bahasa yang tepat”, pemilihan diksi, pemenggalan ayat, serta media yang digunakan haruslah benar-benar berdasarkan kebutuhan objek dakwah itu sendiri bukan dengan bahasa atau cara yang kita sebagai subjek dakwah inginkan. Proses dakwah itu pada dasarnya sama dengan proses komunikasi.

Gambar diatas mencoba memberikan gambaran bagaimana proses dakwah itu berjalan, dan bagaimana cara yang baik dapat dilakukan dalam setiap tahap proses yang ada.

satu, pesan yang akan di sampaikan. Coba betul-betul selektif dalam menentukan pesan apa yang akan disampaikan kepada objek dakwah. Seringkali lembaga dakwah memberikan konten atau pesan dakwah yang terlalu tinggi atau tidak cocok dengan kebutuhan objek dakwah saat ini. Penyesuaian pesan haruslah benar-benar tepat. Penggunaan survei atau kuesioner sederhana untuk melihat bagaimana kebutuhan dari objek dakwah bisa digunakan sebagai landasan untuk menentukan tema, atau pesan yang akan di sampaikan.

Dua, menentukan media atau fasilitas yang digunakan dalam proses dakwah. Apakah dengan sms, selebaran, pamflet, baliho, poster, pemanfaatan jejaring sosial, ta’lim dan variannya, outbound, survival, travelling, permainan dan sebagainya. Media yang tepat dan proses penataan isinya akan sangat menentukan keberterimaan pesan dakwah kepada objek dakwah. Coba gunakan cara pandang seorang seller atau marketer yang mampu berpiikir sebagaimana kebutuhan buyer(dalam hal ini pembeli adalah objek dakwah). Berikan apa yang objek dakwah butuhkan bukan apa yang kita sebagai subjek dakwah butuhkan.

Tiga, pastikan peneriman pesan dalam keadaan siap untuk menerima pesannya. Karena jika mereka dalam keadaan sedang tidak ingin di ganggu, atau keadaan lain yang mana ia tidak siap untuk menerima pesan Islam. Maka, bisa jadi akan justru menimbulkan masalah. Sebutlah, kita memaksa mengadakan ta’lim sebelum waktu ujian, atau mengadakan diklat panjang di saat sedang waktu perkuliahan. Terkadang bisa juga kita memanfaatkan momen seperti ramadhan sebagai penunjang untuk pengsuasanaan dakwah.

Empat, sebagai penyampai pesan, perlu pula seorang aktifis dakwah menunjukkan i’tikad dan niatan yang tulus dalam berdakwah. Merujuk kembali ke buku Bagaimana menyentuh hati, cara yang paling baik agar seorang aktifis dakwah juga bisa menjalan peran dakwah dengan cara yang baik adalah dengan memastikan bahwa ia memiliki kebersihan hati. Dengan kebersihan hati, maka seseorang akan lebih mudah berkomunikasi dengan hati objek dakwah. Dan disitulah pintu hidayah akan lebih mudah dibuka. Selain itu seorang aktifis dakwah perlu pula memahami cara-cara dakwah yang lemah lembut dan persuasif serta menunjukkan antuasiasmenya kepada objek dakwah, bahwa memang ia seriu dan sungguh-sungguh dalam mengajaknya untuk berIslam dengan baik. Ditambah dengan faktor keteladanan yang dimiliki oleh subjek dakwah, maka kombinasi ini Insya Allah akan berdampak pada efektifitas gerakan dakwah baik secara personal maupun komunal.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 30, 2010 by in Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,999 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: