Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Kenaikan TDL, derita UMKM, dan Pengkhianatan Undang-Undang


Kenaikan TDL yang dmulai sejak awal juli 2010 ini memberikan sebuah dampak pada struktur ekonomi masyarakat. Kenaikan yang dinilai tidak bijak di saat rakyat sedang susah ini pun menuai kritik dari berbagai pihak terutama yang merasa dirugikan atas keputusan yang jelas-jelas hanya menambah beban rakyat. Salah satu kelompok masyarakat yang besar dan terkena dampak ini adalah mereka yang bergerak di sektor usaha mikro kecil dan menengah. Dalam keadaan masih susah payah membangun usahanya, para pengusaha kecil ini bukannya mendapatkan subsidi atas usaha mereka membuka lapangan kerja melainkan diberikan beban tambahan oleh pemerintah untuk membayar beban listrik yang naik tarif dasarnya.

Dalam UU no.20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro Kecil dan Menengah di Pasal 5 butir C dituliskan dengan jelas bahwa tujuan dari UMKM adalah “meningkatkan peran Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dalam pembangunan daerah, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pendapatan, pertumbuhan ekonomi, dan pengentasan rakyat dari kemiskinan”. Sebuah tujuan yang sangat mulia tentunya karena ternyata tujuan dari pendirian UMKM ini bukan hanya sekedar semata untuk mencari keuntungan bagi pengusaha melainkan juga hingga mengentaskan kemiskinan.

Jika UU no.20 tahun 2008 ini disandingkan dengan UUD 45 Pasal 33 ayat 2 yang berbunyi “Cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh negara” dan dengan UUD 45 Pasal 34 ayat 2 yang berbunyi “Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan” maka jelas kenaikan TDL hingga 45% bagi UMKM ini tidak hanya sebuah mekanisme sistematik untuk mematikan ekonomi rakyat, melainkan juga ada satu bentuk pengkhianatan terhadap UU dan UUD yang dibuat oleh negara sendiri.

Sungguh ironi memang, kenaikan untuk Industri besar yang hanya 35% sedangkah untuk UMKM melejit hingga 45%. Jika industri besar dengan tarif terbesar naik dari harga Rp 439 per kWh ke Rp 680 per kWh di luar waktu beban puncak (LWBP), maka pengusaha kecil yang tergolong pelanggan I-2 naik dari Rp 440 per kWh ke Rp 800 per kWh. Menjadi sebuah pertanyaan bagi negara ini, apakah memang kebijakan ekonomi Indonesia mendatang akan mengutamakan perkembangan industri besar dan menafikan UMKM sebagai sebuah kekuatan ekonomi rakyat yang juga mampu membuka lapangan pekerjaan dalam jumlah besar. Jika memang itu yang menjadi arahan dari kebijakan ekonomi Indonesia, maka alangkah bijaknya pemerintah segera mengumumkan bahwa negara ini bukan lagi menganut ekonomi kerakyatan melainkan ekonomi pasar bebas. Sehingga masyarakat tidak perlu lagi berharap adanya dukungan apalagi subsidi dalam pengembangan ekonomi kerakyatan seperti UMKM.

Kekuatan UMKM sebenarnya sudah teruji akan kemampuannya bertahan dalam segala keadaan. Dengan azas kekeluargaan yang dianut oleh kebanyakan UMKM, para pengusaha UMKM tentu akan memikirkan cara agar bisa bertahan tanpa mesti memberhentikan tenaga kerjanya. Alhasil, ide dan inovasi pun bermunculan dari UMKM di negara maritim Indonesia ini yang membuat mereka bisa terus berkembang dalam keterbatasan dan ketidakberpihakan pemerintah.

Pemerintah akan jauh lebih bijak jika memberikan insentif dan berbagai kemudahan seperti lebih rendahnya biaya listrik, kemudahan pembuatan surat izin usaha hingga keringanan pajak untuk UMKM, karena dengan UMKM inilah banyak masyarakat masih bisa bertahan hidup. Sebuah tanggung jawab pemerintah pula untuk mengimplementasikan UUD dan UU yang dibuat oleh negara ini dalam tatanan kebijakan yang nyata, dan sangat jelas bahwa kenaikan TDL dalam jumlah yang besar kepada UMKM sangat bertentangan dalam usaha untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 10, 2010 by in Aku dan Diri, Sahabat Kampus ITB.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,227,333 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: