…ini kisahku kawan…


…Ini Kisah Ku Kawan….

Tidak semua masa kecil di isi dengan tawa, bermain dan kebahagiaan. Sebagian anak kecil menghabiskan waktunya di lapangan,  atau di depan televisi. Akan tetapi, buat kami cancer survivor menikmati masa kecil di bangsal dan ditemani jarum suntik dan infus, serta memiliki teman bicara seorang dokter dan suster sudah membuat diri ini bahagia. Karena tidak ada yang lebih membahagiakan dari sebuah kehidupan daripada hidup itu sendiri.

Pada awalnya, aku seperti anak kecil pada umumnya. Menikmati bangku sekolah dengan prestasi yang memuaskan, memiliki banyak teman untuk makan dan bermain bersama, menjadikan lapangan dan bola sebagai teman. Akan tetapi, malang tak bisa di tolak, dan perubahan hidup pun terjadi. Bermula di masa liburan akhir tahun sekolah yang cukup panjang, dimana demam tinggi menghampiri dan lemasnya badan tidak bisa ditolak.

Diagnosa awal dokter yang menduga aku mengidap Typhus, demam berdarah, hingga berbagai jenis penyakit lainnya. Berbulan bulan pemeriksaan demi pemeriksaan di ikuti, dari cek darah biasa hingga MRI (Magnetic Rensonance Imaging). Beberapa dokter pun didatangi, dari Prof.Muslihan, Prof.Cory, dan  Prof.Djajadiman Gatot.

Hingga suatu ketika, dokter sempat mendiagnosis juvenile rheumatoid arthritis, atau sering disebut rematik pada anak. Sayangnya diagnosis ini tidak di ikuti dengan perbaikan pada diri menjadi lebih sehat. Dan hingga pada suatu hari aku terjatuh ketika tidak bisa berjalan, dan itulah saat terakhir aku bisa berdiri. Tanpa di sadari sendi tangan sudah semakin menghitam dan membengkak hingga tidak bisa digerakkan, dengan penuh penderitaan seorang anak kelas 3 SD, aku harus merelakan diri bahwa aku sudah tidak bisa lagi berjalan ( baca : lumpuh setengah badan kebawah ).

Hingga beberapa kali aku hanya bisa menangis dalam hati melihat orang tua aku berjuang sangat keras mengobati aku hingga tidak bekerja dan juga harus mengorbankan adik dan dan kakak aku yang tentunya juga butuh perhatian orang tua. Akan tetapi, saat itu perhatian orang tua banyak dihabiskan untuk aku.

Pernah dalam satu waktu, aku hanya bisa berkata ke mama aku “ma, mungkin lebih baik jika aku mati saja” dan saat itu mama pun langsung memeluk sembari berkata “jangan bicara seperti itu lagi, kamu pasti sembuh”. Ya, itulah kata kata yang selalu terngiang di benak aku hingga detik ini. Yakni “aku harus sembuh”.

Setelah beberapa bulan, keluar masuk rumah sakit, berpuluh kali pengecekkan darah dan berbagai macam cara untuk mendiagnosa, keluarga tampak sudah tidak punya harapan, dengan kondisi kedokteran di Indonesia 14 tahun yang lalu yang sangat berbeda dengan keadaan saat ini, sehingga memaksa orang tua mencari second opinion untuk pengobatan aku. Dan orang tua pada akhirnya memutuskan untuk mencarikan dokter dan rumah sakit yang lebih baik di Negeri tetangga Singapura.

Pada awal bulan Agustus 1996, aku bersama kedua orang tua berangkat ke Singapura, oleh Prof.Muslihan aku di Rujuk ke (Alm) Prof.Wong di Thomson Medical Centre,Singapura dalam keadaan lumpuh dan menggunakan kursi roda. Setiba di sana, aku menjalani rutinitas prosedur pengecekkan standar, seperti pengecekkan suhu dan darah. Seingat aku, obat yang pertama kali diberikan adalah dexamethasone, dan entah mengapa, beberapa hari disana, akhirnya aku bisa berjalan walau masih tertatih tatih.

Saat sudah bisa berjalan, dan melihat hasil diagnosa yang ada, Prof.Wong meminta kami untuk datang ke National University Hospital (NUH) menemui dr.Allen Yeoh Eng Juh untuk pemeriksaan lebih lanjut yang bukan lain adalah pengecekkan bone marrow (sumsum tulang belakang). Hal ini dikarenakan dalam hasil pengecekkan darah ada indikasi penyakit tertentu. Saat pengecekkan sumsum tulang belakang, dugaan kepada penyakit sejenis kanker sudah terasa, apalagi tempat kami menemui dr. Allen adalah di NUH Cancer Center.

Pengambilan sampel sumsum tulang belakang berlangsung sangat tenang, walau pada awalnya aku sempat sangat ketakutan membayangkan tulang belakang dilubangi dan diambil sampelnya, tampak akan sangat sakit proses ini. Akan tetapi ternyata dalam keberjalanannya aku di bius total sehingga tidak merasakan apa-apa dalam proses pengambilan sumsum tulang belakang.

Beberapa hari kemudian kami kembali ke NUH Cancer Center untuk melihat hasil dari pengecekkan sumsum tulang belakang, dan seperti yang sudah aku duga dalam hati, pasti bukan penyakit biasa. Dan ternyata memang benar, aku di uji oleh Allah dengan acute lymphoblastic leukemiai (ALL). Teringat saat itu pemandangan yang tidak begitu menyenangkan, dimana mama aku tampak tidak siap dengan vonis penyakit ini kepada anaknya, sedangkan papa aku hanya terdiam dan mencoba kuat sambil menenangkan mama. dr. Allen pun tampak hanya diam dan mencoba memahami situasi (walau tampaknya ia sudah biasa dengan pemandangan ini).

Pertanyaan yang muncul dimulut aku saat itu adalah, “apakah aku bisa sembuh”, dan dr. Allen menjawab, “ya bisa sembuh, hanya membutuhkan waktu dan kerja keras seluruh anggota keluarga”. Papa ku pun masih mencoba menenangkan mama sambil bertanya ke dr.Allen beberapa pertanyaan mendasar, seperti bagaimana pembiayaan, metode pengobatan seperti apa, dan apakah bisa dilakukan di Indonesia.

Setelah mama sedikit tenang, dr.Allen menjelaskan pelan pelan tentang protokol pengobatan yang akan diberikan selama 2 tahun mendatang. Berbagai jenis pengobatan dengan ritme yang berbeda dalam jangka waktu dua tahun tersebut. Lalu kami diajak untuk melihat kamar tempat untuk opname. WARD 48, khusus untuk paedhiatrics oncology (onkologi anak), disana kami diperkenalkan dengan beberapa pasien lama dan suster serta tim dokter yang akan menangani pengobatan aku. Saat itu aku merasa disambut di dunia baru dan seakan mereka berkata “welcome to your new home, don’t hesitate to call us if you needed”. dan saat itu aku mencoba memahami kehidupan baru ini dan berniat menjadikan bangsal dan jarum suntik sebagai ”my new plaground”.

Esoknya dr. Allen meminta orang tua aku untuk mengajak aku bermain bebas sebelum menjalani chemotheraphy, dan kami bertiga akhirnya memutuskan untuk jalan di sekitar pusat kota dan menonton film nutty proffesor di bioskop. Selama satu hari penuh orang tua mencoba memberikan kebahagiaan kepada aku sebelum masuk ke dunia baru, yakni dunia pengobatan.

Hari hari selanjutnya hingga 2-3 tahun adalah hari hari penuh dengan obat, chemotheraphy,IT, bone marrow dan sebagainya. Menjalani protokol pengobatan yang bertahap, dimulai sejak 2 kali  sepekan untuk chemotheraphy , lalu satu pekan sekali, dilanjutkan dengan 2 pekan sekali, 1 bulan sekali dengan setiap chemotheraphy diharuskan di opname selama 4 hari dan sebagainya. Masa masa yang melelahkan memang, dan melihat kesungguhan orang tua mengobati anaknya menjadikan diri aku semakin kuat dan semakin kuat untuk semakin yakin agar aku sembuh.

Berbagai macam perubahan pun terjadi di keluarga, terutama terkait pola makan keluarga yang menjadi lebih bersih dan lebih anti pengawet. Mama aku pun sempat mengandung anak terakhirnya dan kita memanfaatkan proses persalinan untuk mengambil cord blood (darah tali pusat) untuk kebutuhan pengobatan jika dibutuhkan. Akan tetapi pada dasarnya sejak ujian ini, kami sekeluarga menjadi semakin kompak, solid dan saling menyayangi. Mungkin ujian ini memang ditujukan kepada keluarga agar kami semakin dipenuhi keberkahan. Dan Alhamdulillah kami bisa melewatinya dengan baik.

Kini tahun 2010, sudah 14 tahun sejak kejadian tersebut dan semua yang terjadi masih membekas dan sangat jelas di pikiran. Buat aku dan keluarga, menjadikan pengalaman ini sebagai inspirasi bagi banyak pasien maupun orang tua penderita kanker anak adalah sebuah kebahagiaan bagi kami. Karena bagaimana pun aku yakin, bahwa pasien dan orang tua pasien membutuhkan keyakinan bahwa penyakit ini bisa disembuhkan. Dan aku berani berkata, Ya, penyakit ini bisa disembuhkan dengan kerja keras dan ikhlas seluruh anggota keluarga.

Selepas SMP aku sudah tidak ada lagi pengobatan chemotheraphy, dan hanya pemantauan hingga tahun ke lima untuk memastikan bahwa semua pengobatan berjalan dengan lancar. Sejak SMP dan SMU aku Alhamdulillah di terima di sekolah yang baik dengan prestasi yang memuaskan. Saat ini aku telah menyelesaikan perkuliahan di Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota (Teknik Planologi) Institut Teknologi Bandung (ITB).

 

Jika ada yang bertanya tentang dampak pasca pengobatan, sejujurnya tidak ada dampak dari pengobatan chemotheraphy, aku masih bisa menyerap pelajaran dan bersosial seperti biasa. Akan tetapi satu hal yang aku lihat dari para cancer survivor adalah semangat untuk berjuang dan tahan banting yang sangat tinggi dalam menjalani  kehidupan. Saat masih mahasiswai aku banyak beraktifitas di organisasi kemahasiswaan, dan pernah di percaya oleh Mahasiswa ITB sebagai Presiden Keluarga Mahasiswa ITB untuk periode 2009-2010.

Semoga sedikit kenangan ini bisa menjadi inspirasi untuk kita semua, karena KAMU SEKUAT AKU

 

Sebuah Kisah :

Ridwansyah Yusuf Achmad, ST

Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) Survivor

treatment time : 1996-2001 (cured)

Advertisements

27 Comments

  1. kisah yang inspiratif… (g sengaja ketemunya ^^)
    bahwa kekuatan adalah anughrahNya untuk sebuah perjuangan
    dan sesungguhnya ujian adalah kesempatan berjuang.
    *salut untuk keluarga yang begitu solid.

  2. Subhanallah…..begitu rupanya sedikit kisah tentang ucup kecil…Hasbunallah wa ni’mal wakiil ni’mal mawla wa ni’man nashiir…dan ALLAH hadirkan ucup yang luar biasa sekarang dan nanti (insyaALLAH)…Keep Indonesia Smiling is your promise, rite? InshaALLAH..May ALLAH bless ^___^

  3. subhanallah.. selalu ada banyak cerita untuk mengungkapkan besarnya kekuasaan dan kecintaan Allah bagi hambaNya..
    Semoga ini menjadi bahan pembelajaran yang baik untuk memandang ‘hidup’

  4. Allahu Akbar…Sungguh perjuangan yang tidak mudah ditempuh hingga saat ini..

    Mungkin ini hanya sebagian kecil yang masih dirasakan oleh beberapa orang,,
    Namun perjuangan, pengorbanan, serta doa tak luput dihaturkan setiap waktu…
    Moga hari esok bisa berkarya lebih besar lagi,,,lagi…dan lagi..

    Wallahu’alam

  5. Sungguh, aku sangat terharu bacanya. Tak menyangka mas Ridwan punya pengalaman pahit yang sangat panjang. Tapi benar, yang pahit itu telah membuahkan hasil yang luar biasa pada sosok mas Ridwan,

    salam sukses,,

  6. Subhaanallah…..Wah, sungguh menakjubkan mendengar kisah perjalanan kamu Ridwansyah.
    Allah telah mentakdirkan kamu untuk kembali sembuh, mengabdi ke masyarakat, memberdayakan mereka, menjadi inspirasi bagi yang lain agar tetap optimis tak kalah badai menghantam.
    Selamat berjuang, berkarir, berusaha membuat Indonesia tersenyum memandangmu.
    Jangan lupa untuk selalu mengikhlaskan niat ketika beramal.
    Jadilah yang terbaik.
    see you….

  7. Subhanallah,trnyta khdupn yg brlikulah yg membwt manusia mnjd tokoh2 yg luar biasa.sngat menginspirasi mas…syukrn ibrahnya.

  8. Subhanallah! What a great story Kawan,
    sebuah proses, yang pernah terjatuh akan berusaha bangkit dan berdiri kembali.

    Just want 2 say, Luar Biasa

  9. Subhanallah….tiada yang tidak mungkin kalau Allah berkehendak….ehm..jadi mirip kisahku dan adikku.yang mana adikku yang merasakan bagaimana leukimia itu..Awalnya masuk rumah sakit itu seperti anak yang sehat saja.saat 1,5 bulan menjalani chemotheraphy ada harapan untuk segera sembuh..ketika sudah hampir 3 bulan menjalani chemotheraphy…Adikku dipanggil Allah. itulah yang terbaik…Allah mempunyai rencana indah dibalik itu semua.

  10. tidak ada yang mustahil bagi Tuhan, luar biasa pengalaman ini sangat berharga.percayalah Tuhan selalu memberikan kekuatan kepada kita untuk menghadapi masa2 sulit.
    tetaplah bersyukur atas hidup ini

    Tuhan memberkati

  11. subhanallah, luar biasa banget ceritanya, betul-betul kisah yang inspiratif dan menggugah hati yang kekurangan motivasi ini.
    terima kasih untuk mas ridwan atas kisahnya….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s