Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Surat Terbuka untuk Nurdin Halid


Piala AFF SUZUKI telah usai dengan ditutup oleh Gol dari M.Ridwan melalui sebuah tendangn keras yang melesat tajam ke gawang Malaysia. Berakhirnya peluit panjang yang ditiupkan wasit juga menandakan berakhir pula euforia di akhir tahun 2010 bagi masyarakat Indonesia. Selama sebulan ini seakan-akan masyarakat Indonesia terhipnotis oleh Sepakbola dan melupakan semua pelik yang problematika yang ada. Media pun tak ketinggalan menjadikan Sepakbola, khususnya Tim Nasional sebagai subjek berita yang terus menerus di publikasikan –bahkan di eksploitasikan- secara lebay.

Para politisi dan partai politik bahkan pesantren juga tak mau ketinggalan kereta kesuksesan Tim Nasional kita yang telah menghancurkan Malaysia, Laos, Thailand dan terakhir Filipina di Gelora Bung Karno. Ada ketua Partai yang sengaja datang ke Malaysia untuk menyaksikan pertandingan final, ada partai yang sampai menunda sesaat muktamarnya karena pertandingan sepakbola, atau bahkan ada partai yang mewajibkan kadernya menonton sepakbola. Sebuah fenomena, itu yang dapat saya ungkapkan tentang euforia Sepakbola di akhir tahun 2010.

Tetapi, pada akhirnya jerih payah pemain Tim Nasional kita harus berakhir degan –lagi-lagi- puas sebagai juara kedua. Lebih pahitnya lagi penyerahan juara ini diberikan di Gelora Bung Karno dengan disaksikan oleh lebih dari 80.000 pendukung setia Sepakbola Indonesia. Tanpa bermaksud mencari kambing hitam, tetapi saya sebagai seorang pendukung Sepakbola Indonesia ingin melihat, “apa yang salah dari Tim Nasional kita?”.

Bila dilihat kapasitas pemain, tampaknya kita saat ini memiliki komposisi pemain yang sangat baik. Mereka telah menunjukkan permainan yang sangat apik dan rapih.         Bila melihat pelatih Riedl, jujur saya belum pernah melihat pelatih tegas, disiplin dan bertangan dingin seperti beliau. Bila melihat supporter, bukankah supporter Indonesia adalah para pendukung setia yang rela antri tiket dari tengah malam atau bahkan berdesak-desakkan untuk mendapatkan hak menyaksikan langsung pertandingan Tim Nasional kita di Gelora Bung Karno.

Lalu saya mencoba melihat ke tubuh Badan Sepakbola kita, kita kenal dengan nama PSSI yang memiliki seorang Ketua Umum bernama Nurdin Halid.

Bapak Nurdin Halid yang terhormat, saya mencoba mengerti kenapa Bapak bersikukuh untuk bertahan di kursi empuk Ketua PSSI. Memang jabatan ini sangat nyaman untuk diduduki, mungkin banyak keuntungan yang di dapatkan .Tetapi pak, apakah berdirinya Bapak di singasana PSSI yang nyaman itu telah memberikan hasil yang baik dalam perubahan Sepakbola kita ? Saya bukan penggiat Sepakbola, tetapi saya tidak pernah dengar usaha PSSI dalam melakukan pembinaan sejak dini atau menyiapkan kompetisi sepakbola yang sehat. Saya hanya mendengar kalau PSSI mengundang Uruguay untuk tanding dengan Tim Nasional, atau bila saya menulis nama Bapak di search engine di Internet, saya lebih banyak melihat pretasi Bapak di dunia per-korupsi-an ketimbang prestasi PSSI. saya mendengar kalau Menteri Transportasi Jepang mengundurkan diri saat terjadi kecelakaan kecil di sana.

Bapak Nurdin Halid yang apolitis, saya sangat mengapresiasi usaha Bapak untuk memulihkan kepercayaan publik kepada Bapak.  Apalagi saya yakin bila Piala AFF ini berhasil diraih, akan menjadi kekuatan tambahan untuk melanjutkan roda kepemimpinan Bapak di PSSI. Tapi pak, saya rasa bukan dengan cara menjadikan Tim Nasional sebagai objek dagangan, baik ke media, partai politik, atau bentuk-bentuk eksploitasi kepada publik secara berlebihan. Sepaham saya yang tidak banyak mengetahui tentang sepakbola, belum pernah ada tim yang sedang menjalani fokus latihan dan karantina agar bisa selalu dalam keadaan siap bertanding, diganggu oleh jadwal-jadwal tambahan yang tidak berhubungan dengan Sepakbola. Jika untuk sarapan, saya rasa Hotel Sultan bisa menyediakan sarapan yang baik dan sehat, atau jika untuk berdoa,saya rasa do’a bisa dilakukan dimanapun. Kalau memang Bapak Nurdin mau mencari keberkahan, mungkin jadwal pertandingan bisa di adakan pagi hari saja agar tidak memotong waktu Sholat untuk ibadah umat Muslim.

Bapak Nurdin Halid yang bijak, saya sangat terkejut dengan berbagai pernyataan Bapak belakangan ini. Benarkah ada provokator diantara pendukung yang mengantri tiket final tempo hari. Jika memang pun ada, alangkah baiknya Bapak mengeluarkan pernyataan yang lebih memanusiakan para pendukung yang mengantri. Bagaimana pun setidaknya para pendukung ini telah memberikan keuntungan finansial kepada PSSI. Meski banyak yang kecewa karena pengelolaan distribusi tiket tidak baik, namun mereka tetap setia mendukung Tim Nasional. Tidak ada kata menyerah untuk mendukung Tim Nasional, karena untuk para  pendukung Sepakbola Indonesia tiada kata mundur dalam membela Tim Nasional.

Bapak Nurdin Halid yang sangat sangat memahami mencintai Sepakbola. Pemain Indonesia telah berjuang dengan keras. Pelatih Riedl pun telah menerapkan pola latihan super-ketat dan disiplin kepada pemain kita. Mereka butuh di dukung dengan sepenuh hati, dengan diberikan kesempatan untuk focus berlatih dan mempersiapkan mental. Bukan diberikan pesawat khusus beserta reporter khusus yang mewawancarai pemain satu per satu.

Bapak Nurdin Halid yang baik, mungkin Bapak sudah bosan dengan teriakan atau tulisan “NURDIN TURUN”. Jujur Pak, Saya juga bosan, jutaan masyarakat Indonesia juga sudah bosan dengan padanan dua kata tersebut. Bisa jadi telinga Bapak juga sudah jenuh dengan kata-kata itu. Tapi Pak, mulut dan tenggorokan para pencinta Sepakbola Nasional juga sudah bosan meneriakkan dua kata tersebut. Saya hanya ingin menyarankan, mungkin kini saatnya PSSI melakukan reformasi, peremajaan, dan mengganti wajah PSSI dengan wajah yang lebih fresh. Saya rasa ini adalah sebuah solusi yang tepat yang bisa membuat teriakan atau tulisan “NURDIN TURUN” tak bergema kembali.

Bapak Nurdin Halid, saya bukanlah tokoh pecinta Sepakbola, pengamat Sepakbola atau seseorang yang hidup dari dunia Sepakbola. Saya hanya seorang penikmat Sepakbola. Saya mohon maaf bila ada kata atau data yang tidak sesuai atau berkenan di hati Bapak. Hanya saja, ini merupakan cara yang menurut saya sangat sopan untuk mengekspresikan kecintaan saya pada Sepakbola Nasional.

Salam Hangat,

Dari seorang penikmat Sepakbola

Advertisements

3 comments on “Surat Terbuka untuk Nurdin Halid

  1. Doni
    January 7, 2011

    sepakat, memang seharusnya begitu. Mungkin Pak Nurdin lupa kalo apa yang kita pimpin akan dimintai pertanggung jawabannya kelak oleh Allah swt.

  2. awe
    January 7, 2011

    well, tulisan lo sangat sopan n wise bung! sebenernya saran untuk reformasi, revitalisasi atau apalah itu namanya udah ada dari dahulu kala. Saking gak digubris, ya muncullah gaungan “NURDIN TURUN” dimana-mana.
    Satu-satunya jalan spy NH bisa lengser ya melalui Kongres, tapi herannya dia selalu lolos dari lobang jarum, beberapa kabar (perlu dikonfirmasi lagi), jalannya kongres sarat politik uang, sehingga orang yg udah pernah kena kasus korupsi ini bisa tetep maju terus..

  3. serrrruuu
    January 13, 2011

    carax supaya nh mundur adalah para pemain ISL mogok main sampai ada kata mundur dari nh.atau klub Isl pada mundur semua dikompetisi.pastinya reaksi masyarakat pecinta bola akan demo turunkan nh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 2, 2011 by in Uncategorized.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,217,349 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: