Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Mahasiswa dan Pertumbuhan Kelas Menengah | Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum


Pada tahun 2009, dua lembaga keuangan dunia mengumumkan mengenai jumlah kelas menengah di Indonesia.. ADB mengumumkan, sepanjang tahun 2002-2008, sekitar 102 Juta penduduk golongan miskin di Indonesia telah berhasil naik kelas dan bergabung menjadi kelas menengah. Sedangkan Bank Dunia mengumumkan bahwa kelas menengah di Indonesia berjumlah 131 Juta penduduk.

 

Jumlah penduduk kelas menengah di Indonesia merupakan ketiga terbesar setelah China dengan jumlah 817 juta jiwa dan India dengan jumlah 274 juta jiwa (ADB, 2009). Namun demikian, sebuah pertanyaan pun muncul. Apakah kualitas kelas menengah di Indonesia sata ini sudah cukup berdaya saing ?. Partisipasi kelas ini dalam pembangunan diharapkan tidak saja diharapkan melalui kegiatan konsumsi yang menggerakkan perekonomian. Akan tetapi, lebih jauh dari itu juga diharapkan berperan sebagai agen perubahan.

 

Sulit memang menemukan definisi yang mampu secara tuntas menggambarkan kelas menengah. Pun, tak ada standar yang bisa diklaim sebagai batasan yang tepat untuk golongan menengah. Richard Robison (The New Rich In Asia, 1993), dalam struktur ekonomi politik, mereka terdiri dari kalangan intelektual, teknokrat, manajer profesional, pengacara, aktivis LSM, aktivis partai politik, aktivis mahasiswa, dan pengusaha menengah bawah. Pendekatan lain yang populer digunakan adalah penghampiran absolut, khususnya dengan batasan pengeluaran per orang sebesar 2-20 dollar AS setiap hari, standarisasi ini digunakan oleh  oleh Bank Pembangunan Asia (ADB).

 

Kekritisan anggota kelas ini akan melahirkan suara vokal yang menginginkan pelayanan publik yang lebih baik dan efisien, tata pemerintahan yang lebih bersih, hingga dukungan kepada tokoh tertentu. Pemikiran-pemikiran yang tajam juga akan menjadikan kelompok tengah sebagai sumber pemimpin dan aktivis yang bergerak untuk menciptakan pemerintahan dengan akuntabilitas tinggi. Kelompok kelas menengah ini terbukti telah memberikan dampak yang luar biasa dalam pergolakan iklim politik dan ekonomi di Indonesia bahkan dunia.

 

Sejarah dunia telah membuktikan, kelas menengah yang merupakan kekuatan moral yang tangguh dan pasti mampu menggerakkan dan memberi warna masyarakat sipil (civil society). Sejak memasuki era reformasi ini di tanah air kita sudah terjadi daya gerakan kemanusiaan, gerakan anti-otoriterisme, gerakan memberdayakan dalam wacana masyarakat sipil yang makin bermoral. Kepeloporan gerakan tersebut berada di tangan kelas menengah yang sebelum era reformasi secara sistematik diinjak-injak, dibungkam dan disudutkan ke pinggiran oleh elit politik, kelompok penekan (pressure groups), yang bergaya kebapakan alias paternalistik sekaligus otoriter dan diktator.

 

Daya gerak kelompok menengah ini semakin kuat dan mampu menggalang dukungan dengan cepat dan besar dengan di dukung oleh semakin meningkatnya teknologi telekomunikasi dan informasi. Berkembangnya telepon genggam dan internet membuat pergerakan kelompok menengah ini semakin berkembang. Salah satu hasil nyata dari gerakan dengan pola seperti ini adalah “Koin untuk Prita”, “Dukung Bibit-Chandra” hingga “Revolusi Mesir yang terjadi di awal tahun 2011 ini. Tak bisa dipungkiri bahwa kelas menengah sangat cepat bereaksi untuk isu yang membuat diri mereka gelisah, dan dengan kemampuan serta akses informasi yang mereka miliki, mereka dapat dengan segera berbagi kegelisahaan mereka dan mengundang reaksi dari kelas menengah yang lain untuk juga ikut merasakan kegelisahan mereka.

 

Perkembangan media yang juga saat ini –khususnya di Indonesia- telah memfasilitasi para kelas menengah untuk menyuarakan aspirasi mereka dalam berbagai bentuk. Seperti dengan dialog interaktif melalui saluran telepon, menyediakan akses memberi saran melalui jejaring sosial, hingga mengundang langsung kelompok kelas menengah yang menginisiasi sebuah gerakan atau opini tertentu. Dengan dukungan media, kelompok kelas menengah menjadi memiliki “panggung” tersendiri untuk menyuarakan pesan moral yang mereka –dan kita semua- menilai sebagai bagian dari ekspresi demokrasi di era pasca-reformasi.

 

Seorang peraih nobel di bidang ekonomi asal India, Amartya Sen, dalam bukunya “Democracy as a Universal Value (1999) berpendapat ;

 

The value of democracy includes its intrinsic importance in human life, its instrumental role in generating political incentives, and its constructive function in the formation of values and in the understanding of the force and the feasibility of claims of needs, rights and duties”. (Nilai demokrasi mencakup kepentingan intrinsik dalam kehidupan manusia, peranan instrumentalnya dalam mencuatkan insentif politik, dan fungsi konstruktif dalam pembentukan nilai nilai serta dalam pemahaman akan kekuatan dan kelayakan tuntutan kebutuhan, hak dan kewajiban).

 

Peranan kelas menengah sebagai penjaga demokrasi dan nilai nilai moral (custodian of democracy and moral values ) dalam masyarakat dengan kesadaran hati nurani masing masing yang merasa bagian kelas menengah makin mencuat. Independensi mereka itu senantiasa membawa angin segar dalam wacana demokrasi. Kekuatan moral (moral force). Moral force harus terus bergema dengan dukungan pers yang menyurakan hati nurani rakyat. Kelas menengah merupakan suatu kelompok independen, bergerak maju, tidak terbatas oleh satu generasi saja dan pasti ada kesinambungan karena sebagai pejuang demokrasi dan melalui pendidikan nilai (education of values). Kelas menengah yang jujur/etis tidak mudah tergiur dengan julukan sebagai pahlawan. Hal yang esensial adalah anggota kelas menengah jangan terjebak menjadi arogan, dan berekspektasi yang aneh-aneh, tapi tetap konsisten dengan kesegaran wacana beretika.

 

Namun demikian ada sebuah fakta yang menarik dari kelas menengah, yakni mereka akan bereaksi dengan isu tertentu saja. Isu yang berkaitan langsung dengan diri, hidup atau minat mereka. Seorang yang sangat konsisten menyuarakan isu lingkungan belum tentu cukup tertarik untuk isu terkait reformasi birokrasi, atau seorang yang vokal memberikan pendapat mengenai isu korupsi, belum tentu cukup berminat untuk mengikuti petisi mengenai isu energi. Hal ini tidak bisa di pungkiri, karena kelompok kelas menengah bergerak dengan sebatas pemahaman yang mereka miliki. Mereka bukan tidak peduli dengan isu lain, hanya saja mereka tidak cukup memiliki pengetahuan mengenai isu lain.

 

Bila merujuk pada definisi yang Richard Robinson (1993) utarakan, Mahasiswa juga merupakan kelompok dari kelas menengah. Tidak hanya menjadi kelas menengah biasa, mahasiswa merupakan the selected few dari kelas menengah itu sendiri. Landasan gerak mahasiswa berbasiskan politik nilai telah menjadikan mahasiswa sebagai kelompok yang memiliki kesempatan untuk dapat menggiring opini kelas menengah yang lainnya. Akan tetapi, mahasiswa hanya dapat melakukan fungsi ini ketika mereka tidak menjadi budak gerakan dari patron politik tertentu.

Dirjen Direktorat Pendidikan Tinggi, Djoko Santoso, mengatakan bahwa jumlah mahasiswa di Indonesia pada tahun 2011 adalah 4.657.483. Angka yang sangat kecil bila di bandingkan jumlah penduduk usia 17-24 tahun adalah 25 juta jiwa (BPS,2010). Dengan jumlah yang terbatas ini mahasiswa dituntut untuk dapat menjadi kelompok minoritas yang dipercaya oleh kelompok kelas menengah lainnya dalam memimpin opini serta menggalan dukungan. Untuk itu Mahasiswa perlu menemukan pola pergerakan yang lebih sistematis dan berbasis kompetensi dalam menggiring arah gerak kelompok menengah.

 

Pertama, Inklusifitas Mahasiswa. Mahasiswa perlu mendorong daya inklusifitasnya ke berbagai kalangan kelas menengah yang lain dan meyakinkan mereka bahwa mahasiswa adalah kelompok yang independen dan bebas dari politik praktis. Dengan latar belakang inilah mahasiswa juga di harapkan dapat berbaur secara pemikiran, kegelisahan dan gerakan kepada kelompok kelas menengah lain seperti buruh, petani, nelayan, kaum miskin kota, dan pegawai negeri golongan rendahan. Mereka adalah kelompok yang memiliki akses ke media dan maupun pemegang kebijakan terendah. Namun demikian, fakta mengatakan bahwa kelas menengah sebenarnya di dominasi oleh mereka yang berasal dari kelompok tersebut.

 

Mahasiswa tidak bisa lagi berkata dengan gagah bahwa logika yang mereka miliki adalah logika rakyat bila mereka tidak berkomunikasi dan memahami apa yang berada di dalam pikiran kelompok ini. Bisa jadi tidak semua mahasiswa cukup nyaman atau bahkan berminat untuk membuka komunikasi dengan kelompok ini, namun demikian sesungguhnya representasi aspirasi penderitaan rakyat bisa jadi kita dapatkan dari mereka. Membangun komunikasi dengan kelompok kelas menengah –yang cenderung kelas miskin- dapat dilakukan dengan falsafah berdiri sama tinggi, duduk sama rendah.

 

Kedua, Menghilangkan Patronase Politik. Dengan kemampuan mobilisasi Mahasiswa yang semakin luas, Mahasiswa memiliki kesempatan untuk membuka jaringan dengan tokoh atau figur politik tertentu. Tidak ada yang salah tentunya dengan jaringan politik yang dimiliki mahasiswa. Namun, akan menjadi masalah bila jaringan politik yang mereka miliki dijadikan sebagai patron secara berlebihan. Hal ini dapat menjadikan gerakan mahasiswa terkontaminasi oleh pemikiran dan bisa jadi bergantungan pada seorang atau kelompok patron politik tertentu.

 

Tak bisa dipungkiri, keberadaan patron politik menjadi gerakan sebuah organisasi mahasiswa menjadi lebih berkembang. Kondisi ini di akibatkan oleh dukungan informasi, data, jaringan , hingga pendanaan yang disediakan oleh patron politik tersebut. Akan tetapi, segala dukungan yang diberikan oleh seorang patron politik tidak lebih sebagai sebuah alat yang digunakan oleh mereka agar gerakan mahasiswa dapat seiring dengan kepentingan politik mereka yang pragmatis.

 

Ketiga, Membangun Opini dengan Kajian dan Jurnalistik. Salah satu keunggulan Mahasiswa yang perlu dipertahankan dan ditingkatkan adalah kemampuan Mahasiswa mengkaji sebuah isu secara tepat dan menuangkannya dalam rangkaian kata yang mampu meyakinkan banyak orang. Kajian Mahasiswa yang baik membutuhkan data dan fakta yang akurat yang dapat di ambil dari teori, media, maupun diskusi dengan pakar atau pengambil kebijakan terkait. Namun, segala informasi yang didapat dari Mahasiswa tidak dapat begitu saja menjadi sebuah kesimpulan. Diperlukan sebuah pendalaman dan mengkaitkannya dengan nilai gerak Mahasiswa, yakni berpihak kepada rakyat dengan berlandaskan moral dan intelektual.

 

Setelah sebuah kajian selesai dan menemui kesimpulan serta rekomendasi yang tepat, Mahasiswa perlu menggunakan kekuatan jurnalistik sebagai alat untuk membangun opini di masyarakat. Bila berbicara tentang kelas menengah, maka berbagai media sangat bisa dimanfaatkan seperti media cetak, media elektronik dan jejaring sosial. Semua ragam media ini dapat di isi dengan gagasan dan narasi yang dibawa oleh Mahasiswa dan nantinya dapat berkembang menjadi sebuah opini publik.

 

Keempat, Konsistensi Gerakan. Kritikan paling tajam yang acapkali muncul adalah lemahnya konsistensi gerak mahasiswa. Mahasiswa memang memiliki beberapa keterbatasan seperti kuliah, ujian dan sebagian Mahasiswa perlu mencari penghidupan untuk diri mereka sendiri. Alasan seperti inilah yang sering menjadi alasan klise Mahasiswa dalam menjaga konsistensi gerakanya. Lebih lanjut, sifat gerakan Mahasiswa yang mengalir, dimana pergantian kepenguruan berlangsung setiap tahun sekali membuat gerakan mahasiswa dapat berubah tergantung siapa yang memimpinnya.

 

Masyarakat kelas menengah akan mudah lupa atau tidak bisa merasakan kegelisahan akan sebuah isu bila tidak terus di giring oleh kelompok yang memulai sebuah isu. Disinilah ujian itu berlangsung, apakah mahasiswa mampu menjawab keraguan konsistensi ini dengan strategi dan inovasi dalam gerakan ataukah Mahasiswa akan tenggelam pada arus gerakan yang tidak stabil.

Berbicara tentang kelas menengah yang terus bertambah, berbagai pihak punya persepsi yang berbeda dalam menanggapinya. Beberapa skeptis dan beranggapan bahwa kelompok ini hanya akan meningkatkan semangat konsumtif di, tetapi sebagai masih memiliki optimisme bahwa kelomok kelas menengah mampu membuat perubahan. Mahasiswa perlu melihat pertumbuhan kelas menengah ini sebagai sebuah kesempatan untuk mendukung gerakan mahasiswa agar membuahkan sebuah hasil nyata, yakni sebuah perubahan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 26, 2011 by in Sahabat Kampus ITB.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,123 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: