Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Usulan Seorang Rakyat : Meningkatkan Kapasitas Kelembagaan DPR


Dewan Perwakilan Rakyat atau DPR kini menjadi sorotan publik yang tiada habisnya melayangkan kritik kepada mereka. Sebuah fenomena demokrasi dimana publik sudah tidak percaya pada mereka para legislator yang telah di pilih melalui mekanisme bernama pemilu. Publik pun menilai bahwa apa yang DPR kerjakan tak lebih dari pemborosan uang yang terdiri dari sinetron paripurna, lawakan pleno, sinetron rapat pimpinan, dagelan gedung dan tunjangan baru, hingga telenovela kunjungan keluar negeri.

Sikap kritis publik pun ditanggapi DPR dengan berjuta alasan retoris, tetapi publik kini sudah dewasa dan matang. Komunikasi indah sudah tidak lagi menjadi senjata yang jitu untuk melunakkan hati publik, justru sebaliknya, publik semakin mencerca anggota DPR dengan berbagai justifikasi yang –menurut penulis- sangat sadis. Tapi mungkin untuk sebagai kalangan yang sudah muak dengan DPR, mereka mungkin akan mengatakan, “yah tidak apa-apa menghina DPR, mereka memang layak mendapatkan itu”.

Kondisi saat ini memang sangat dilematis, anggota DPR yang ada bekerja bukan dengan bidang keahlian mereka. Sehingga mereka perlu belajar dari awal lagi ketika mereka menempati sebuah komisi tertentu di DPR. Bidang keahlian bukan selalu harus bidang yang terkait hukum dan tata perundangan, setidaknya seorang anggota DPR perlu menguasai bidang kerja di komisi tempat mereka di tempatkan. Selain itu, masih banyak juga anggota DPR yang tidak begitu aktif di dalam rapat dan hanya menjadikan sidang DPR sebagai kesempatan untuk membuka gadget electronic termutakhir yang telah mereka miliki.

Masih belum pedulinya rakyat mengenai kapasitas diri anggota DPR, rendahnya kualitas kaderisasi partai hingga tidak bijaknya penempatan komisi yang dilakukan partai, ditambah pula krisis integritas dan kepercayaan publik yang dimiliki oleh individu anggota legislatif membuat akumulasi kebobrokan DPR semakin bertambah. Terkadang, sebagai seorang warga negara, penulis seringkali mempertanyakan “bagaimana mungkin beliau-beliau ini bisa menjadi anggota DPR ?”.

Tulisan ini bukan bermaksud menghina DPR atau menambah daftar opini mengenai kebusukan dan kebobrokan institusi terhormat tersebut. Tetapi, tulisan ini mencoba memberikan masukan kepada DPR, khususnya Ketua DPR terhormat, Bapak H Marzkui Ali, yang konon menurut pernyataan beliau di berbagai media ingin meningkatkan kapasitas kelembagaan dari DPR. Tak bisa dipungkiri bahwa meningkatkan kapasitas kelembagaan DPR adalah pekerjaan besar yang amat sangat menantang. Keinginan Marzuki Ali berarti sebuah keinginan agar sistem DPR berjalan secara progresif dan positif, adanya struktur organisasi dan komunikasi yang efektif, efesien dan handal, serta meningkatkan profesionalitas, integritas, dan pengaruh 560 anggota DPR yang ada.

Penguatan Parlementer dan Organisasi Pendukung
DPR membutuhkan kekuatan untuk mengatur dan menata agenda serta program kerjanya. Untuk itu DPR bisa saja bermitra dengan berbagai lembaga/badan/organisasi pendukung yang dapat memberikan DPR data dari hasil analisis atau kajian, serta fakta lapangan yang akurat sehingga DPR dapat mengambil keputusan dengan bijak. Lembaga pendukung ini dapat juga sebagai penyeimbang kekuatan politik di DPR yang terlalu dominan sehingga mengesampingkan aspek akademis maupun realita rakyat yang ada.

Seorang anggota DPR yang ingin bekerja dengan profesional dan penuh integritas juga di harapkan dapat memiliki tim staf ahli dan di dukung dengan sekretariat yang kuat. Staf ahli pun baiknya diberikan pembekalan dan peningkatan kapasitas secara berkala sehingga selalu dapat memberikan rekomendasi yang relevan kepada anggota DPR. Seorang tenaga ahli setidaknya dapat didukung oleh staf ahli yang memiliki latar belakang di bidang hukum, bidang penganggaran, kompetensi komisi seorang anggota DPR, dan seorang staf ahli yang dapat mengambil aspirasi masyarakat melalui teknik sampling, survey maupun observasi.

Anggota DPR juga harus didukung dengan akses yang mudah kepada dokumen pemerintah (legislatif, yudikatif, dan eksekutif) yang akurat, memanggil narasumber ahli dari atau luar negeri, dan tenaga ahli dan administrasi profesional yang dijamin kinerjanya. Tak bisa dipungkiri, seorang anggota DPR yang baik harus dapat bekerja dalam satu waktu untuk menyelesaikan berbagai isu yang rumit dan mengevaluasi anggaran negara secara seksama.

Pekerjaan anggota DPR sangat melekat pada anggaran dan perundangan, sehinggadengan meningkatkan kapasitas mereka di bidang ini –ditambah dengan kapasitas dalam bidang komisi yang di tempati- akan membuat posisi seorang anggota DPR menjadi lebih kuat dan dipercaya oleh publik. Tantangan lain dari DPR dalam membangun kapasitas, adalah kemampuan mereka untuk tetap memperhatikan aspirasi kelompok minoritas serta kemampuan mereka untuk membuka jejaring informasi untuk mendapatkan masukan akan kebijakan yang paling bijak. Ada baiknya DPR juga meningkatkan intensitas komunikasi mereka kepada perguruan tinggi, think tank, dan institusi penelitian.

Lebih lanjut, pembuatan pusat dokumentasi yang didukung oleh perpustakaan yang memadai dan didukung oleh pustakawan profesional, informasi terbaru, jasa penerjemahan, serta fasilitas elektronik untuk akses data ke seluruh duta besar di seluruh dunia untuk mendapatkan data terbaru dari luar negeri dapat menjadi sebuah solusi atas kebiasaan anggota DPR yang gemar melakukan safari keluar negeri. Fasilitas internet bersama dengan telewicara akan menjadi sebuah fasilitas yang sangat efektif dalam mencari informasi dari berbagai penjuru dunia.

Mendorong Profesionalitas dan Kemampuan Komunikasi
Salah satu poin penting dalam peningkatan kapasitas kelembagaan adalah peningkatan kapasitas individu anggota DPR. Catatan yang sangat kritis dari anggota DPR adalah tingkat profesionalitas dan kemampuan mereka menampung aspirasi dari konstituen.

Peningkatkan kapasitas secara berkelanjutan dalam proses legislasi serta peningkatan relasi dengan konsituen secara berkala sangat dibutuhkan oleh anggota DPR. Untuk menanggulangi lemahnya kapasitas anggota DPR dalam membuat peraturan perundangan, dapat dengan memberikan batas minimun kemampuan sebelum mencalonkan diri atau dengan pelatihan rutin untuk meningkatkan kemampuan dalam legislasi dan penganggaran anggota DPR.

Anggota DPR tak bisa dipungkiri adalah teladan bagi seluruh rakyat Indonesia, bila mereka bekerja secara profesional akan dapat memberikan kesempatan bagi mereka juga untuk kembali memikat hati dan kepercayaan rakyat. Profesionalitas ini terdiri dari etos kerja, kedisiplinan, visioner, kerja keras dan cerdas, serta yang terpenting adalah integritas yang membukus profesionalitas menjadi sebuah hasil kerja yang optimal.

Selain itu, meningkatkan kemampuan anggota DPR dalam berinteraksi dengan konstituen juga dapat menjadi salah satu strategi yang diterapkan. Masih banyak anggota DPR yang hanya menjadikan masa reses sebagai masa santai dan tidak mengelola pertemuan dengan konstituen dengan bijak. Padahal salah satu kunci dari demokrasi adalah dengan menjadikan suara rakyat sebagai aspirasi utama yang sangat perlu diperhatikan.
Biasanya saat ini, anggota DPR hanya berkomunikasi dengan konstituen yang itu-itu saja, diperlukan perjuangan dan totalitas tersendiri dari anggota DPR melakukan temu konstituen. Mereka perlu memperhatikan kelompok lemah dan minoritas, atau kelompok di daerah terpencil yang tidak memiliki akses terhadap jalur komunikasi dan aspirasi kepada anggota DPR. Mekanisme yang solutif diperlukan agar agenda di masa reses menjadi efektif dan berbuah hasil yang berharga untuk penyusunan anggaran dan kebijakan kedepannya.

Mengefektifkan Proses Legislasi
DPR dituntut untuk mengembangkan peraturan dan kode etik serta standariasi untuk mengatur anggota DPR yang ada agar bekerja secara efektif, efesien dan handal. Proses legislasi ini termasuk dalam efesiensi agenda rapat, waktu rapat, prioritas, hingga jumlah anggaran yang diperlukan untuk membuat satu perundangan. Pemanfaatan teknologi komunikasi yang semakin handal dapat menjadi sebuah solusi yang efektif untuk mengatasi lambat dan borosnya untuk membuat satu perundangan.

Agenda kunjungan keluar negeri dapat diganti dengan mengundang ahli dari luar negeri, telewicara dengan narasumber di luar negeri, pemanfaatan duta besar untuk mencari informasi yang dibutuhkan hingga mencari secara inisiatif –atau oleh staf ahli- data data terkait. Selain itu bekerja sama dengan NGO asing yang dikenal luas dapat juga menjadi solusi atas kebutuhan data perbanding dari negeri luar Indonesia.

Proses legislasi seharusnya dapat menjadi lebih efektif bila anggota dewa menguasai bidang yang mereka kerjakan di komisi serta didukung oleh staf ahli yang dapat mendukung di bidang perundangan dan anggaran. Agenda rapat cenderung bertele-tele karena anggota DPR masih perlu belajar dengan isu yang mereka tangani.

Peran Media dan Masyarakat
Terakhir, percepatan penguatan kelembagaan DPR tak bisa terlepas dari kuatnya desakan masyarakat dan proganda media dalam mendorong terwujudnya perubahan di lembaga legislatif negara ini. Masyarakat melalui jalur aspirasi bebas maupun LSM diharapkan untuk tetap kritis dengan kinerja DPR dengan terus memberikan masukan, kritik maupun kecaman –bila dibutuhkan- agar anggota DPR bahwa mereka berdiri di atas aspirasi rakyat bukan hanya sekedar kebutuhan perut dan nafsu pribadi saja.Media sebagai pilar ke-empat demokrasi juga sangat berperan untuk terus melancarkan propaganda yang dapat membuat DPR semakin cepat berubah. Saat ini, media telah menjadi tempat bagi anggota DPR untuk memperkalkan diri serta menyampaikan gagasan mereka akan sebuah isu.

***

Penguatan kapasitas kelembagaan DPR tak bisa lagi ditunda, bila memang anggota DPR 2009-2014 tidak bisa membuktikan bahwa apa yang masyarakat sampaikan adalah salah atau sekedar justifikasi penuh emosi. Maka akan menjadi ancaman besar bagi demokrasi Indonesia, dengan sebuah konsekuensi turunya tingkat partisipasi publik dalam pemilihan umum di Indonesia. Dan bila kondisi ini telah terjadi, maka akan sangat memungkinkan rezim atau orde kekuasaan baru akan lahir. Dimana eksekutif terlalu kuat dan legislatif hanya sebagai boneka dari eksekutif untuk melanggengkan kekuasaannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on May 6, 2011 by in Sahabat Kampus ITB.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,217,349 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: