Bagaimana struktur organisasi dan komunikasi dakwah kampus ilmiy yang efektif ?


Bila ditanya mengenai struktur organisasi yang ideal, saya akan mengatakan bahwa tidak ada struktur manapun yang bisa di duplikasi begitu saja. Perlu ada adaptasi struktur yang di sesuaikan dengan kondisi di kampus masing-masing. Setidaknya ada empat variabel yang menentukan dari sebuah struktur, yakni visi dan misi, kapasitas pimpinan, karakteristik anggota organisasi serta wilayah kerja yang akan di emban. Namun demikian, di bagian ini saya akan memberikan beberapa rekomendasi mengenai struktur dakwah kampus ilmiy yang nantinya bisa di adaptasi kan di kampus masing-masing.

Sebelum berbicara mengenai struktur, saya akan sedikit memaparkan kebutuhan dari dakwah kampus ilmiy. Menurut hemat saya, sedikitnya ada lima kebutuhan yang perlu disiapkan perangkat kerjanya, yakni :

  1. Kaderisasi dan Monitoring Kader
  2. Keprofesian dan Penguatan Keilmuan
  3. Riset dan Inovasi
  4. Jaringan Ilmiah
  5. Knowledge Based Entrepreneur / Teknopreneur

Kaderisasi dan Monitoring Kader, bidang ini bertanggung jawab untuk penguatan kapasitas ilmiy dari para kader dakwah. Ruang lingkup dari bidang ini adalah kader ilmiy itu sendiri dan ADK secara keseluruhan. Untuk kader ilmiy tentu akan diberikan penanaman nilai ilmiy secara mendalam, termasuk di dalamnya mendiskusikan bagaimana konsep dan strategi dakwah ilmiy yang efektif, efesien dan handal. Bisa juga dikembangkan semacam usroh calon dosen, atau usroh intelektual muda, dimana mereka yang ingin menyiapkan dirinya untuk menjadi akademisi dapat dikelompokkan secara khusus agar mereka semakin termotivasi dan menyiapkan diri dengan baik. Untuk ADK secara keseuluruhan, dapat diberikan berupa sistem monitoring atau sistem peringatan dini IPK kader, selain itu berbagai agenda ta’lim keilmuan dapat juga diberikan.

Keprofesian dan Penguatan Keilmuan, bidang ini tidak terlepas dari fungsi “syiar ilmiy” yang outputnya dapat berupa kompetisi ilmiah, seminar IPTEKS, tutorial akademik, jaringan belajar, klub keprofesian, serta konferensi intelektual muslim muda. Berbagai agenda ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan keilmuan di setiap masing-masing latar belakang disiplin keilmuan. Memang ada baiknya bidang ini dikembangkan pada setiap fakultas agar tematik keilmuan yang dikembangkan dapat fokus tidak terlalu lebar. Harapannya dengan bidang ini, dapat dijadikan semacam “mainan” bagi ADK untuk mengembangkan kapasitas keprofesian dan keilmuannya.

Riset dan Inovasi, bidang ini fokus pada mencetak ilmuwan, teknokrat, ekonom, atau intelek muslim muda lain. Perlu ada semacam wadah untuk mendorong para ADK dalam mengeluarkan hasil riset dan dipublikasikan daam jurnal atau konferensi ilmiah. Dalam bahasa pragmatisnya, bidang ini benar-benar diperuntukkan bagi mereka yang memang sejak awal berniat menjadi ilmuwan dan akan mendedikasikan dirinya untuk pengembangan keilmuannya. Calon-calon ADK Permanen (Dosen) sangat tepat untuk ditempa di sini, sehingga ketika mereka meninggalkan kampus, mereka telah siap untuk menjalani kehidupan sebagai seorang calon dosen dan nantinya menjadi seorang dosen.

Jaringan Ilmiah, jaringan ilmiah ini berperan untuk mengembangkan jaringan dakwah kampus ilmiy. Beberapa jaringan nasional yang bisa dikembangkan di Indonesia antara lain MITI (Masyarakat Ilmuwan dan Teknolog Indonesia), ICMI  (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia), atau KIN (Komite Inovasi Nasional). Untuk jaringan Internasional dapat pula dikembangkan ke PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di berbagai negara, Young Scientist Association, China Young Entrepreneur, atau AIESEC (Association Internationale et Studiant Sociale Economic Commerciale). Jaringan ini dapat dimanfaatkan untuk pengembangan keilmuan, perbanding hasil riset, meningkatkan pengalaman internasional ADK serta menyiapkan agar para calon sarjana siap untuk menikmati globalisasi.

Knowledge Based Entrepreneur / Teknopreneur, tak bisa dipungkiri bahwa inovasi adalah invensi (temuan) yang mampu menjadi sebuah nilai tambah ekonomi. Sehingga kita sebagai kader dakwah juga harus mampu menyambut tantangan tersebut dengan mencetak teknopreneur baru. Teknopreneur adalah mereka yang mengembangkan bisnis mereka dengan berbasiskan knowledge dan innovation. Ada sentuhan keilmuan disana sehingga bisa mendorong terjadinya inovasi. Inilah yang akan membedakan bisnis biasa dengan knowledge based business. Kedepannya, para ADK dapat dituntut untuk lebih dapat mengembangkan bisnis sejenis ini, karena bisnis seperti ini akan dapat meningkatkan daya saing bangsa kita. Bidang ini dapat berfungsi sebagai pusat inkubasi para ADK yang ingin menjadi teknopreneur.

Kelima hal ini bisa dikatakan menjadi kebutuhan dasar dari struktur dakwah ilmiy. Dengan peran strategis dakwah ilmiy kedepan, sangat dibutuhkan keseriusan dan daya saing dari para ADK itu sendiri. Terkait dengan struktur, jika berlandaskan dari lima kebutuhan yang telah saya utarakan, maka bisa jadi salah satu bentuk usulan mengenai struktur dakwah ilmiy sederhana yang ada, dapat dilihat pada gambar diatas.

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s