Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Strategi Propaganda Opini dan Isu di dalam Kampus


Bagaimana strategi yang efektif dalam membangun opini atau propaganda di kampus ?

Membangun opini ketinggian Islam adalah salah satu tujuan dari dakwah kampus yang menurut pandangan saya cukup krusial. Bagaimanapun, masyarakat kita saat ini sangat bergantung pada informasi atau dalam konteks ini opini. Masyarakat semakin menanti, info terbaru apa yang akan muncul atau isu apa yang akan berkembang dari waktu ke waktu. Bila kita berbicara dalam tema dakwah siyasi, tentu opini yang kita bicarakan bukan tentang opini Islam ansih. Namun kita membicarakan bagaimana isu isu kemasyarakatan, sosial, politik, dan kemahasiswaan yang akan kita angkat –tentunya berlandaskan dengan tujuan dakwah kampus- dapat diterima oleh massa kampus.

Ingat, komunikasi tanpa adanya perubahan pemikiran dan sikap bukanlah komunikasi yang berhasil. Sehingga parameter utama dari upaya membangun opini adalah, bagaimana agar massa kampus tergerak untuk melakukan sesuatu yang kita suarakan. Dalam dakwah siyasi, membangun opin tidak semudah membalikkan telapak tangan, karena aspek yang perlu di perhatikan cukuplah menantang, yakni :

  • Pesan yang berkualitas
  • Metode penyampaian yang efektif
  • Penyampai pesan yang kredibel
  • Citra dari lembaga yang menyampaikan pesan
  • Potensi kelompok yang anti-tesis atau Demarketisasi opini
  • Massa penerima pesan yang cair dan cenderung pasif
  • Konsistensi dalam menyampaikan opini

Setidaknya ada tujuh aspek yang perlu kita perhatikan dalam membangun opini di dalam sebuah kampus. Pada bagian ini, kita akan coba untuk mengupas kedelapan aspek ini dengan seksama, agar nantinya kita dapat mengembangkan opini dengan efektif, efesien dan handal.

Pesan yang Berkualitas

Memilah dan memilih pesan yang tepat dalam membangun opini menjadi bagian pertama yang perlu disiapkan. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan “tema apa” tetapi juga dengan “dari perspektif apa” dan “kapan”. Sebutlah tema mengenai korupsi di Indonesia. Tema ini cukup luas, tetapi kita bisa memfokuskan pada isu yang strategis,seperti contohnya korupsi yang berkaitan dengan BBM, karena BBM sangat berkaitan erat dengan kehidupan dan penghidupan masyarakat. Dengan mengangkat opini dari perspektif yang tepat, kita akan lebih mudah juga untuk meyakinkan dan menyentuh pemikiran masyarakat pada umummnya.

Mengenai “kapan?”, ini juga perlu di perhitungkan dengan matang dengan melihat momentum apa yang tepat dan waktu kapan yang sesuai agar opini tersebut dapat berkembang dengan signifikan. Sebutlah, kita mengangkat isu pendidikan di momen hari pendidikan atau mengangkat opini mengenai integritas akademik saat menjelang UAS. Dengan mempertimbangkan “apa”, “perspektif”, dan “kapan”, maka kita akan dapat membangun sebuah opini yang berkualitas, dan dengan opini yang berkualitas kita akan dapat lebih mudah untuk mengembangkan selanjutnya.

Metode Penyampaian yang Efektif

Metode penyampaian pesan ini perlu di rencanakan dengan matang jelas, metode ini bisa melalui satu metode saja atau kombinasi dari bebeberapa metode yang akhirnya membentuk rangkaian metode penyampaikan yang efektif.

Pada umumnya, kita memanfaatkan metode yang bersifat publikasi sebagai andalan, seperti pemasangan poster, pembagian leaflet atau belakangan cukup marak dengan menampilkan informasi melalui jejaring dunia maya. Namun, bila hanya mengandalkan metode satu arah, maka penyebaran opini tersebut akan memiliki limitasi hanya pada mereka yang membaca publikasi kita. Membangun opini sama seperti menjual sebuah barang, sederhananya, bagaimana agar setiap orang dapat menjadi agen penyebar opini kita, dalam bahasa komunikasi sering dikenal dengan urban spread, atau dalam bahasa infotaintment gossip.

Kita perlu memanfaatkan potensi dan hobi manusia dalam berbicara dan membicarakan sesuatu, bila sebuah opini itu cukup penting dan seksi  bagi mereka, maka mereka dengan sendirinya akan memulai dan menyebarkan opini tersebut. Sebutlah opini mengenai keterlibatan pengurus partai dalam korupsi sebuah proyek pemerintah. Bisa dibayangkan, masyarakat sendirilah yang mengembangkan opini tersebut, mereka tanpa di minta memasang status di facebook atau twitter mereka, atau mereka membuka thread  di forum komunikasi dunia maya dan saling berdiskusi. Bila gejokal pembicaraan ini terus berkembang, maka opini yang akan kita angkat dapat menjadi happening di kalangan yang menjadi objek tujuan kita.

Opini juga sangat berkaitan dengan repetisi atau pengulangan, sehingga sangat penting bagi kita untuk dapat juga konsisten mengulang dan mengulang opini yang akan dikembangkan. Repetisi ini akan mendorong terbangunnya lintasan pikiran di objek tujuan opini dan lintasan pikiran ini akan mendorong terbangunnya gagasan. Dan saat gagasan itu bertransformasi menjadi tindakan, saat itulah opini kita dapat dikatakan berhasil.

Penyampai Pesan yang Kredibel

Bila opini disampaikan oleh seorang individu, maka kita perlu dengan cermat memilih individu mana yang akan menyampaikan pesannya. Karena kondisi masyarakat kita yang saat ini lebih melihat “siapa” yang berbicara ketimbang “apa” yang dibicarakan. Kredibilitas dan integritas penyampai pesan akan sangat penting untuk dipertimbangkan. Sebutlah, kita berbicara mengenai isu pendidikan yang berkelas dunia, namun yang berbicara adalah seorang yang secara akademik bermasalah, tentu akan hanya memberikan persepsi negatif terhadap kita.  Pemimpin di organisasi kemahasiswaan diharapkan adalah mereka yang memiliki kredibilitas dan karismatik sebagai seorang pemimpin. Dengan itu, opini apapun yang akan diangkat dapat dipercaya oleh massa kampus yang menjadi objek tujuan opini.

Citra dari Lembaga yang Menyampaikan Pesan

Tidak berbeda jauh dengan kredibilitas seorang penyampai pesan, organisasi yang menyampai pesan harus membuktikan rekam jejak yang terpercaya juga. Terpercaya dalam konteks organisasi kemahasiswaan sangat berkaitan dengan netralitas dari organisasi, kapasitas pemimpin organisasi, kualitas kajian dan diskursus yang dikembangkan oleh organisasi, serta bagaimana organisasi tersebut melakukan komunikasi publik.

Citra lembaga yang bersih, profesional dan ber-etika perlu dibuktikan tentunya, tidak mudah untuk membangun citra lembaga agar lembaga tersebut dapat dijadikan corong dan rujukan opini. Kadang, karena satu kelalaian saja, citra tersebut dapat terdegradasi dan membuat opini apapun yang kita coba angkat menjadi tidak di hiraukan oleh massa kampus. Tak pelak, citra lembaga merupakan representasi dari citra indvidu. Untuk itu sangat penting bagi kita untuk memastikan bahwa ADK yang mengisi sebuah organisasi kemahasiswaan adalah mereka yang memiliki kapasitas dan kredibilitas baik.

Potensi Kelompok yang Anti-tesis atau Demarketisasi Opini

Sebelum mengangkat sebuah opini, kita perlu juga memahami peta relasi kelompok yang kontraproduktif dengan gerakan kita. Pemetaan ini bertujuan untuk mlihat potensi kelompok yang akan meng-anti-tesis opini yang akan kita angkat. Kelompok ini cenderung selalu ada di setiap kampus dan kita perlu menyikapi dengan bijak bila mereka mendemarketisasi opini yang kita angkat. Bentuk antisipasi yang dapat dilakukan adalah dengan menyertakan data sebagai landasan dalam membangun sebuah isu, selain itu perkuat juga basis debat dari para pemimpin kemahasiswaan agar dapat menyerang balik bila mereka melakukan upaya demarketisasi.

Massa penerima pesan yang cair dan cenderung pasif

Inilah tantangan terbesar dalam membangun opini di kampus, yakni massa kampus itu sendiri yang kini kian pasif, dan bahkan bisa dikatakan tidak peduli dengan urusan selain kuliah. Perlu upaya yang serius dan kreatif agar mereka dapat tertarik setidaknya untuk mau peduli dengan opini yang akan kita angkat. Strategi yang perlu diperhatikan dalam menyikapi hal ini adalah melalui branding yang menarik. Saat ini banyak sekali produk desain atau publikasi yang sangat menarik, meski pesannya berat, tetapi bila dikemas dengan baik akan memberikan manfaat yang besar.

Konsistensi dalam Menyampaikan Opini

Opini tidak akan terbangun hanya dengan secarik kertas yang ditempelkan di papan pengumuman. Opini adalah rangkaian informasi yang di sebarkan secara berkelanjutan dan dengan jangka waktu yang relatif panjang. Konsistensi menjadi sangat penting dalam membangun opini, siapa yang mampu bertahan lama dalam menyampaikan opini, dialah yang akan memenangkan pertarurang opini yang terjadi.

Advertisements

2 comments on “Strategi Propaganda Opini dan Isu di dalam Kampus

  1. seli_usel
    August 12, 2011

    terimakasih atas infonya.

  2. anshary
    August 15, 2011

    menggugah, menyadarkan kita. Bahwa Dakwah bukan hanya dari mimbar ke mimbar. Namun media adalah perwujudan dari dakwah modern d zaman globalisasi ini..

    Satu hal kang, yang ana tanyakan. Apakah yg dmaksud dngan membangun basis kritis demi melawan demarketisasi opini kita, adalah dengan membuka debat2 terbuka?..

    Syukron

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on July 31, 2011 by in Dakwah Kampus, Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,123 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: