Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

STRATEGI PENGUATAN INDUSTRI LOKAL : KLUSTER INDUSTRI KECIL MENENGAH


Oleh : Ridwansyah Yusuf Achmad

Seiring dengan globalisasi dan pasar bebas yang semakin terbuka lebar, pertumbuhan Industri di Indonesia pun juga semakin bertambah. Salah satu kawasan industri yang berkembang dengan pesat adalah kawasan industri di Bekasi-Cikarang yang juga merupakan yang terbesar di Asia Tenggara. Kini telah dibangun lebih dari 4000 Industri besar yang didominasi oleh perusahaan Asing. Amerika, Jepang, Cina dan Korea menjadi perusahaan-perusahaan yang paling banyak membangun pabrik di kawasan industri ini.
Dari 4000 industri yang ada, industri otomotif menjadi sektor industri yang paling banyak berproduksi di kawasan industri Bekasi-Cikarang. Sebutlah Toyota, Honda, Yamaha, Nissan, dan Suzuki, beberapa contoh label otomotif Asia timur yang produknya kini dapat kita lihat dengan sangat mudah di jalan raya. Data menunjukkan bahwa perusahaan sekelas Honda memproduksi satu sepeda motor dalam waktu 20 detik dan pada Oktober 2011, Honda telah menorehkan penjualan sebesar 415.071 unit sepeda motor hanya dalam waktu satu bulan.

Angka tersebut baru merupakan angka untuk kendaraan roda dua dari satu perusahaan saja, jumlah total keseluruhan produksi kendaraan atau produk otomotif dari kawasan industri di Bekasi-Cikarang tentu jauh lebih besar dari angka tersebut. Dengan data kasar tersebut kita bisa membuat sebuah hipotesa bahwa kehadiran perusahan asing ini akan berbuah pada lahirnya Industri kecil menengah baru yang didirikan oleh pengusaha lokal. Karena, untuk membuat sebuah sepeda motor saja, akan membutuhkan lebih dari 200 komponen yang bisa di sub-kontrakan kepada Industri Kecil-Menengah (IKM) yang bergerak di bidang machining, fabrikasi dan welding.

Namun, data menunjukkan lain, para perusahaan asing tersebut telah membawa perusahaan sub-kontrak dari negara asal mereka, dan melakukan kerjasama produksi dengan perusahaan tersebut. Ini artinya, mata rantai produksi yang terjadi merupakan mata rantai perusahaan asing (dari industri kecil-industri menengah-industri besar) yang di jalankan di Indonesia. Lalu, apa manfaat dari kehadiran perusahaan asing tersebut, maka jawabannya adalah “membuang limbah industri yang sebagian diantara bisa di daur ulang dan sebagian lain mencemarkan lingkungan”.

Keputusan para perusahaan asing ini menggunakan IKM dari negara asal mereka pun bukan tanpa alasan. Belum terjaminnya kualitas produksi Industri Kecil Menengah lokal menjadi alasan utama dan tidak bisa di kompromikan oleh perusahaan asing tersebut. Dengan dipergunakannya mekanisme produksi massal dalam mata rantai produksi otomotif, jaminan kualitas dalam setiap komponen menjadi sangat mutlak diperlukan. Kesalahan produksi akan berakibat fatal di jalan raya.

Industri asing menuntut setidaknya 5 hal kepada IKM lokal agar dapat terjalin kerjasama bisnis diantara keduanya, yakni ; (1) Kualitas , (2) Ketepatan Waktu Pengantaran, (3) Harga, (4) Keamanan, dan (5) Inovasi. Untuk memenuhi tuntutan ini bukan hal yang mudah bagi IKM lokal. Dengan pengelolaan yang masih belum menganut manajemen mut berstandar internasional, mereka sangat sulit untuk membuat ribuan komponen produksi tanpa ada cacat sekalipun. Industri asing menuntut hanya 2 kesalahan dari 1 juta produksi yang dilakukan. Ada sebuah anekdot diantara pengusaha IKM, “namanya IKM lokal ya, kalau bikin 1-2-3 masih bagus, tapi kalau sudah 100-1000-5000 sudah kedodoran”.
Keterbatasan ini bukan hanya sekedar dilatarbelakangi oleh keterbatasan modal saja, melainkan juga keterbatasan pengalaman serta wawasan mengenai quality control  dan manajemen mutu. Tidak semua pengusaha IKM juga berkeinginan untuk berinvestasi dalam bentuk pelatihan bagi teknisinya atau belajar untuk menerapkan standar internasional yang dituntut oleh Industri Besar, seperti salah satunya standar ISO.

Untuk itu diperlukan sebuah strategi agar para IKM ini memiliki pengetahuan dan pengalaman bagaimana memproduksi barang dengan baik. Mereka bukan hanya membutuhkan sekedar pelatihan, melainkan sebuah pendampingan jangka panjang dari seorang yang memang memahami nature produksi dari IKM pendukung industri ini.
Lahirnya ide kluster IKM sebagai salah satu alternatif strategi dalam memecahkan permasalahan kualitas dari para IKM lokal agar mereka lebih berdaya saing di masa mendatang. Meski memang preseden kegagalan menghantui pembangunan kluster IKM baru, dikarenakan beberapa kluster terdahulu yang telah dibangun kini hanya sekedar menjadi “perumahan” IKM saja tanpa adanya dinamisasi didalamnya.

Kluster IKM yang dapat dibangun bisa setidaknya harus memiliki konsep yang dinamis, artinya kluster bukan hanya sekedar aglomerasi IKM dalam satu area saja, melainkan perlu ada proses pendampingan dan pelatihan bagi para IKM, kluster dapat juga di topang oleh teaching factory yang berperan dalam mendistribusikan order dan menjamin kualitas produksi para IKM. Konsep Inti-Plasma dapat dikembangkan dalam pengembangan kluster model baru ini, yakni tempatkan 1-2 buah Industri Menengah yang sudah menerapkan standar mutu yang baik, dan biarkan industri menengah ini yang membuka jalur mata rantai ke Industri besar untuk nantinya di distribusikan produksinya ke industri kecil di dalam kluster.

Dengan keberadaan beberapa IKM dalam sebuah area, proses pemantauan, penjagaan mutu, serta jarak mata rantai akan lebih efektif, efesien dan handal. Selain itu beberapa standar internasional seperti ISO 14001 mengenai pengelolaan lingkungan dapat dilakukan secara kolektif bila para IKM berada di dalam sebuah kluster.

Kluster IKM dapat juga berperan sebagai wadah untuk mendidik tenaga kerja baru yang profesional dan bisa di andalkan. Bangun dan integrasikan lembaga pendidikan setingkat SMK atau Politeknik di dalam kluster tersebut, dan jadikan IKM yang berada di dalam kluster sebagai tempat untuk berlatih secara nyata dengan produksi yang dilakukan oleh IKM, sehingga proses transfer teknologi dan pengetahuan dari Industri ke Lembaga Pendidikan dan sebaliknya dapat terjalin.

Kini, beberapa negara asing seperti Cina telah memulai penjajakan untuk membuat kluster IKM khusus untuk IKM yang berasal dari negara asal mereka. Bila Indonesia tidak segera membuat sebuah kluster IKM, maka tinggal menunggu waktu hingga IKM Cina yang menguasai mata rantai produksi yang ada di Kawasan Industri Bekasi-Cikarang. Penguatan IKM lokal pendukung industri adalah salah satu strategi yang baik dalam mendorong daya saing industri nasional.

*penulis adalah seorang peneliti di Sekolah Arsitek, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan. Institut Teknologi Bandung.

Advertisements

4 comments on “STRATEGI PENGUATAN INDUSTRI LOKAL : KLUSTER INDUSTRI KECIL MENENGAH

  1. neevsfc
    December 5, 2011

    Padahal grafik penjualan sepeda motor secara umum tidak pernah mau menurun. TPT kend. bermotor terus muncul. Sepertinya memang bangsa kitanya yang kurang gesit dan strategik ya..
    :/

  2. ibnu
    December 21, 2011

    sebuah bagian politik dari pemilik modal besar kepada negara dunia ketiga agar negaranya berjaya

  3. Buntu Sijagat
    January 17, 2012

    konsep pengembangan klaster industri di kawasan bekasi-cikarang berbasis teknologi tinggi hakikinya membutuhkan kesepahaman dan dorongan dari berbagai stakeholder, antara lain peran pemerintah daerah dalam menyiapkan perangkat kebijakan baik yang terkait dengan perizinan lokasi, kemudahan bagi para calon industri untuk mendapatkan layanan dan kemudahan dalam proses perijinan, juga pemda harus mampu mengelola tenaga terdidik dan terlatih. Pengembangan ide yang diprakarsai oleh penulis dalam penyediaan infrastruktur di dalam klaster industri memang mutlak dan sangat diperlukan. Hal ini, untuk menjamin tersedianya tenaga terampil (teknisi) dan tenaga kerja profesional madya. Keterkaitan dampak dari proses produksi menghasilkan limbah berujung pencemaran, oleh karena itu terutama pengolahan limbah seperti B3 (logam berat) dari proses elektroplating perlu dikendalikan guna menjamin keselamatan masyarakat banyak. Inovasi teknologi pada umumnya dihasilkan dari proses pemutakhiran litbang, oleh karenanya keberpihakan lembaga litbang dalam mendifusikan teknologi kepada IKM harus menjadi bagian dalam membangun terwujudnya IKM lokal.

  4. aira
    February 19, 2012

    ijin copas,, uda…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 5, 2011 by in Planologi, Sosial dan Politik.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,217,120 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: