Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Ini Mimpiku Kawan (bagian ketiga-akhir)


… Ini Mimpi ku Kawan…

Sent       : Thursday, October 28. 4.01 PM

From     : Bunda Sayang

“ayah, makan malam di Rumah kan ? bunda masak gulai ijo dan telor balado kesukaan ayah.. ditunggu yaa ^^”

 

Replied

 

To           : Bunda Sayang

Sent       : Thursday, October 28. 4.10 PM

“iya bunda, ini udah mau pulang kok,, tunggu yaa.. sebentar lagi insya Allah ^^”

 

Sore ini begitu indah, langit memerah merona seakan tersipu malu di pandang insan manusia yang tertawa riang di Bumi Allah ini. Senja merah, aku begitu suka menikmati senja. Untukku berjalan santai dalam selimut senja adalah hal indah yang selalu dinanti. Langkah ini mengarah ke parkir motor khusus dosen.

 

“harus segera pulang, ditunggu istri” aku berkata kepada diriku.

 

Kawan, aku sangat bersemangat pulang sore ini, bukan karena hanya sekedar untuk melepas lelah di rumah. Tetapi buatku, berbagi cerita dengan Istri dan memandang wajah anakku adalah momen yang selalu ditunggu.  Setiap hari kami tak pernah habis akan cerita, tetapi untuk cerita sore ini, aku yakin Istriku akan lebih banyak bercerita, karena ia baru saja menghabiskan harinya di kampus dengan berbagai acara. Untukku, raut mukanya yang sangat sumringah dan bersemangat menceritakan detail kisahnya setiap hari adalah  kado terindah setiap harinya.

 

Aku pun melajukan sepeda ku ke arah rumah kami, rumah sederhana tetapi sangat estetis karena kami mendirikannya dengan sepenuh hati. Rumah kami memiliki teras kecil yang di isi dengan beberapa hiasan bambu, di sisi lainnya ada beberapa bunga ditanam salah satunya bunga lavender ungu yang menari setiap paginya. Aku memarkirkan sepeda ku di teras kecil tersebut, dan melangkahkan kaki ke pintu rumah yang di sisinya digantungkan sebuah pot cantik yang ditumbuhi dandelion yang sedang berbunga.

 

“assalamualaikum” aku mengucapkan salam sembari membuka pintu

“waalaikumsalam ayaah” jawab istriku sambil bergegas ke pintu rumah menyambut kepulanganku

“capek ya ayah sayang?” tanya istriku seraya membantu melepaskan dasi di kerah kemeja ku

“iya nih, padahal belum pekan UTS, nanti kalo udah pekan UTS bisa lebih sibuk lagi” jawab ku sambil membuka sepatu

 

“ayah mau makan kapan ? “

“nanti abis magrib aja ya bunda”

“okey, abis nasi nya juga baru di bikin… sayang, mau denger cerita bunda hari ini gakk?”

“iya sayang, ayah mau denger, sambil minum teh jepang yuk. Masih ada sisa kan yang waktu kita beli di osaka bulan lalu?”

“yuph, masih ada… kita minum di teras belakang rumah ya”

 

Kawan, rumah ku memiliki halaman belakang yang cukup luas. Kami sengaja menyiapkan halaman belakang yang lebih luas dan tertutup agar kelak kami sekeluarga dapat mengisi waktu luang yang ada. Di halaman belakang tersebut kami tanam beberapa pohon yang sudah besar dan digantungkan sebuah ayunan sederhana. Selain pohon dan ayunan terdapat juga beberapa bunga dan tumbuhan lain yang sengaja ditanamkan untuk memberikan keasrian di halaman belakang rumah.

 

“ayah, ini teh jepangnya”

“makasih ya bunda, gimana hari bunda ? menyenangkan kah?”

“iya ayah, bunda mau cerita… ayah mau denger gakkk?

“iya bunda… ayah mau denger” aku menjawab dengan penuh senyum

……….

 

Hari-hari baru kumulai di negeri tercinta setelah beberapa tahun bersama suami mendalami ilmu dan pengetahuan di negeri orang. Dari benua eropa dan amerika, walau dunia sudah kujajaki, tak bisa kupungkiri bahwa Indonesia lah negeri paling Indah. Bersama ridwansyah yusuf, seorang dosen muda yang baru saja menyelesaikan Ph.D nya di Harvard, aku memulai hari ini dengan beberapa agenda di kampus dan masjid kampus dengan bersama mahasiswi lainnya.

Setelah melepas kepergian suami, aku segera menyiapkan diri untuk juga pergi ke kampus. Semua semangat baru menyelimuti, karena pagi ini aku akan bertemu dengan adik-adik muslimah para aktivis dakwah di masjid kampus almamaterku. Sekitar pukul delapan pagi aku melangkahkan kaki keluar rumah.  “jangan lupa mengecek kompor dan pastikan lampu dimatikan” itu pesan dari suamiku setiap akan meninggalkan rumah. Dan aku pun memastikan semua pesan itu terpenuhi sebelum aku mengunci pintu rumah.

 

Pagi itu aku menaiki angkutan umum ke masjid kampus, cukup hanya satu kali angkot saja yang perlu kunaiki untuk tiba di kampus. Aku duduk di pinggir sudut angkot, kebetulan saat itu angkot hanya ada satu orang ibu-ibu. Aku duduk dan menaruh tas ku diatas pangkuan. Tak selang setelah aku naik angkot tersebut, ada tiga akhwat yang juga menaiki angkot tersebut. Mereka tampak sedang tertawa riang sambil bercerita satu sama lain.

 

“ukhti, udah tau kan siang ini akan ada ta’lim ?” tanya seorang akhwat ke temannya

“iya udah dong, sama teteh yang baru balik dari luar negeri itu kan ?” jawab akhwat yang lain

“kabarnya rame loh yang hadir…dan kebanyakan ammah yang hadir” timpal seorang yang lain

 

Aku memperhatikan pembicaraan mereka, mereka tampak sangat anggun dan terpancar aura ramah dari tutur kata dan senyum yang terurai. Sejujurnya aku sangat penasaran dengan bagaimana kondisi ke-akhwat-an yang berkembang saat ini, itu juga yang menjadi alasan bagiku untuk kembali melihat dan mendukung kembali dakwah di almamaterku. Dan aku pun kembali memperhatikan pembicaraan ketiga akhwat yang berada di angkot bersamaku.

 

“ukh, aku punya cerita bahagia loh” seorang dari mereka berkata dengan penuh semangat

“apa ukhti?” jawab kedua temannya

“alhamdulillah, binaan aku pekan lalu pake jilbab, si itu loh, padahal dulunya pas dia mulai ikut mentoring pake rok aja susahnya minta ampun”

“wah subhanallah, seneng dengernya, penuh perjuangan ya , setelah satu setengah tahun mentoring ya ukh?”

“iya perjuangan banget, tapi aku yakin kalo petunjuk Allah pasti dateng, jadi aku tetap jaga dia hingga hidayah itu datang juga”

 

Pembicaraan berlanjut ke topik yang lain

“ana baru dapat kelompok binaan lagi nih, isinya adik-adik tingkat satu yang sedang bersemangat belajar Islam, belum satu pun pakai jilbab”

“wah tantangan banget tuh ukh!”

“iya nih, amanah Allah, ntar mentoringnya harus heboh dan dinamis. Sekarang kan yang ikut mentoring kebanyakan belum pakai jilbab, jadi kita sebagai mentor harus bisa lebih persuasif dan sabar membina mereka”

“tau kan ada kelompok binaan yang secara kompak anggotanya memulai pakai jilbab semua ?, itu subhanllah banget, mereka menggunakan momen satu muharram untuk momen perubahan bagi mereka”

“iya Alhamdulillah, kalau lihat semangat adik-adik yang ikut mentoring sekarang, kita-kita para mentor harus lebih bersemangat nih”

 

Silih berganti mereka bercerita dan berbagi kisah yang mereka ketahui, aku hanya melihat lembut dan tersenyum dalam hati melihat perubahan yang sangat baik di kampusku. Aku mengetahui kembali dari percakapan tiga akhwat ini bahwa ada seorang perempuan mualaf baru di sebuah jurusan yang sedikit perempuannya, mualaf ini hasil perjuangan dakwah fardiyah yang dilakukan oleh para akhwat  di jurusan tersebut.

 

Tampaknya mereka menyadari bahwa diriku memperhatikan pembicaraan mereka, dan dengan senyum ramah mereka mengucapkan salam kepada ku, “Assalamualaikum teh”, dan kujawab dengan senyuman pula “Waalaikumsalam, ceritanya seru ya, saya jadi ikut menyimak juga”. Mereka pun menjawab lagi,  “ya teh, Alhamdulillah, kami sedang menikmati dakwah di kampus”

 

Kami pun berbincang, perbincangan singkat dan hangat hingga tak sadar bahwa kami sudah akan tiba di tujuan. “payun aa”, aku menyahut ke supir angkot sambil mengetok jendela. Dan angkot tersebut pun berhenti tepat di depan masjid kampus. Ternyata para akhwat  yang berkenalan denganku barusan juga turun di masjid kampus.

 

Kawan, mimpiku adalah Islam bisa diterima tanpa paksaan di antara mahasiswa dan mahasiswi. Islam bukan dipahami sebagai sekedar ibadah saja, melainkan Islam sebagai esensi, prinsip dan lifestyle  kehidupan. Islam tidak dilihat sebagai sesuatu yang menakutkan, Islam justru dilihat penuh dengan keindahan. Ketika mahasiswa sudah bisa melihat yang haq sebagai sebuah kebenaran dan yang bathil  untuk dijauhi, dan itu semua tanpa paksaan. Disanalah letak perubahan yang aku mimpikan.

……

Setiba di masjid kampus, aku berjalan perlahan memperhatikan lingkungan sekitar masjid. Tidak banyak yang berubah, semua pemandangan yang aku lihat seakan-akan melahirkan berjuta kenangan beberapa tahun silam di kampus ini. Rapat dengan papan tulis, mentoring di taman, anak-anak berlari-lari, atau para ibu muda yang menemani anak-anaknya, tak lupa pula asrama putri masjid kampus yang sering kujadikan tempat singgah saat siang hari ketika masih kuliah.

 

Kawan, masji kampus ku sangat unik, masjid tanpa kubah, hanya berbentuk kotak tanpa pilar di tengahnya. Sebuah mahakarya seorang arsitek yang ingin menunjukkan keindahan kolaborasi agama dan teknologi. Menurutku, ini merupakan bentuk yang sangat cocok untuk kampus berbasis teknologi. Maka tak heran bila pada akhirnya masjid ini diberi nama SALMAN, seorang sahabat yang dikenal dengan kemampuan engineering nya, dan membuktikan kemampuannya saat perang khandak.

 

Sembari berjalan pelan, aku menikmati film lama yang sedang tayang dalam imajinasiku, koridor masjid tempat aku menghabiskan waktu dengan rapat, bersendau gurau dengan sahabat, hingga mengerjakan tugas. Taman-taman masjid yang apik, tempat aku selalu tertawa bahagia, atau saat aku menggendong bayi-bayi yang sering di bawa oleh orang tua jamaah masjid kampus. Buatku bayi adalah karunia, hal terlucu menurutku, dan memang bayi itu lucu.

 

Rumah kayu masjid kampus, tempat secretariat lembaga dakwah kampusku berada, beberapa kepanitiaan syiar telah kulewati. Dari sebagai peserta, panitia, panitia inti hingga steering committee, semuanya telah kulewati selama tiga setengah tahun di kampus. Teringat saat kepanitiaan pertamaku, sebuah kegiatan bakti sosial. Dimana saat itu aku pertama kali mengenal suamiku. Saat itu dia adalah ketua lembaga dakwah kampus. Tak pernah ku menyangka, seorang yang dulu hanya selintas kukenal, hanya dari jauh saja mampu melihat. Kini, ia adalah imam bagi hidup ku. Seperti pepatah sering berkata, “jodoh tidak akan kemana”.

 

Seiring langkahku ke arah masjid, aku mendekat kearah tempat wudhu perempuan, di depannya terdapat koridor yang sering digunakan oleh para muslimah untuk berkumpul, belajar bersama, dan berbagi mimpi. Berjuta kenangan tertinggal disana, aku pun tak akan pernah berencana untuk melupakan kenangan tersebut. Untukku, kenangan tersebut adalah jenak mimpi yang tak tergantikan.

 

Lamunanku berakhir sesaat ketika seorang muslimah memanggilku, “uniii”. Ia pun berjalan menghampiriku dan bergegas menempelkan kedua pipinya, atau istilah bekennya cipika cipiki.

 

“uni, pipinya masih empuk ya” ia berkata setelah melepaskan pipinya

“enak aja kamu, masa setelah beberapa tahun tidak bertemu, komentar kamu tentang pipi uni?” aku menjawab

“hehehe, maaf ya uniii, uni makin seger aja mukanya, udah ada yang ngerawat ya sekarang ?” ia mencoba menggoda ku

“bisa aja kamu, nikah dulu makanya, nanti baru uni cerita lebih banyak, hehe” aku menjawab santai. “jadi uni ngisi acara ta’limnya?”

“iyalah uni, masa gak jadi. Itu peserta udah mulai datang. Sekitar seratus muslimah yang tampaknya akan hadir. Udah siap menginspirasikan uni ?” ia berkata dengan penuh semangat

“iya insya Allah siap” aku menjawab tenang

“yuk uni, kita masuk, aku mau kenalin uni ke adik adik yang lagi semangat-semangatnya berjuang di dakwah kampus”

 

Kawan, perubahan bukan selalu membicarakan sesuatu yang besar atau luar biasa. Perubahan pun tak identik dengan pergantian tampilan atau sistem yang kompleks. Terkadang, ketika membicarakan perubahan, kita cukup berbicara sesuatu yang sederhana yang di jalankan dengan cara yang luar biasa.

……

 

Aku memulai ta’lim ku dengan salam terindah yang mampu kuungkapkan. Sebuah ekspresi kebahagiaan melihat para muslimah dengan berjuta ekspresi menanti apa yang akan kuceritakan. Untukku, ta’lim ini sangatlah hebat, terlalu hebat. Bila dulu aku hanya melihat muslimah dengan jilbab saat acara ta’lim seperti ini, maka kini aku melihat mereka yang belum mengenakan jilbab sekalipun sudah menikmati acara ta’lim penggugah inspirasi ini.

 

Aku mencoba mengamati raut wajah adik-adik di hadapanku. Mereka tampak sangat antusias mengikuti acara ini, meski aku juga tidak mengetahui alasan mereka antusias. Beberapa peserta yang tampak terlambat hadir. terlihat tergesa-gesa dan bergegas bergabung ke dalam shaf kegiatan. Panitia juga tampak bersemangat menyambut para peserta yang datang satu per satu. Mereka seakan mendapatkan energi  tambahan dari kehadiran peserta yang sangat banyak ini.

 

Aku memulai ceritaku dengan memperkenalkan diri dan sedikit bercerita tentang aktivitasku semasa kuliah. Lalu kulanjutkan dengan menceritakan kehidupan setelah aku menyelesaikan perkuliahan, “saya setelah sidang langsung menikah, mungkin banyak yang bertanya awalnya mengapa saya memilih langsung menikah dan bukan bekerja. Bahkan beberapa sahabat dan keluarga merasa menyayangkan keputusan saya. Mereka menilai buat apa saya kuliah susah payah dan akhirnya langsung menikah” aku memulai kisahku

 

“tetapi saya punya keyakinan bahwa empat tahun di kampus adalah masa aku menempa diri dan menyiapkan menjadi penopang keluarga yang baik.  Saya berpikir, akan lebih baik dan berkualitas bila seorang anak di asuh oleh seorang bunda yang berpendidikan dan merawatnya dengan sepenuh hati, ketimbang seorang anak yang di asuh oleh pengasuh sementara bundanya sibuk menjadi kuli kantoran yang menghabiskan waktu di luar rumah” aku melanjutkan, aku memperhatikan banyak peserta yang mengangguk dan menyimak ceritaku ini.

 

“islam tidak mengajarkan perempuan untuk tidak berkarya atau sekedar di pingit di rumah dan tidak memiliki mimpi.  Akan tetapi, jangan sampai hasrat untuk menggapai prestasi mengalahi fitrah kita sebagai perempuan. Saya meyakini bahwa mimpi suami saya sangatlah besar, dan menjadikan mimpi suami saya sebagai mimpi saya adalah karunia yang sangat indah bagi saya dan keluarga” saat aku mengatakan ini, beberapa senyum penuh makna. Mungkin karena mereka juga mengenal suamiku

 

“saat suami saya diterima di inggris untuk melanjutkan studinya, kami berdiskusi tentang masa depan kita. Maklum saat itu ternyata jumlah beasiswa yang diterima olehnya sangat ngepas  untuk biaya hidup berdua. Beberapa orang sempat menyarankan agar hanya suami saya yang berangkat dan saya tinggal disini, menimbang juga bahwa lama waktu kuliah hanya satu tahun. Namun suami saya dengan tegas mengatakan bahwa saya harus ikut dan kita akan berjuang bersama membuat keluarga kita penuh keindahan bersama benua biru” aku bercerita dengan ekspresi berbinar-binar, tak bisa kusembunyikan rasa haru ku jika mengingat momen tersebut. Aku merasa telah memilih suami yang sangat baik.

 

“perjalanan hidup kami mulanya memang cukup sulit, tetapi dengan tabungan yang kami miliki, kami bisa memulai mempertahankan hidup. Suami saya kerja paruh waktu di sebuah toko swalayan serta menjadi penulis bebas di beberapa media di Indonesia, beliau pun masih mendapat loyalti dari beberapa buku yang pernah dituliskannya. Sedangkan saya menjadi pengajar kelas bahasa Indonesia serta membuat pengajian untuk anak-anak muslim di tempat kami berada.  Dari situlah kami bisa bertahan hidup dan beradaptasi dengan negara baru tempat kami tinggal” aku pun semakin bersemangat cerita hingga aku memajukan badanku sedikit sebagai ekspresi bahwa aku sangat bersemangat. Peserta pun tampak sangat tertarik, apalagi saat aku bercerita, aku menampilkan beberapa foto saat saya dan keluarga di inggris.

 

“saat ekonomi keluarga kami sudah lebih baik, sekitar setelah empat bulan kami tinggal di negeri orang, suami saya mendorong saya untuk juga mendapatkan beasiswa magister di kampus tempat ia kuliah. Saat itu memang masih sulit untuk mendapatkan beasiswa magister secara penuh dalam waktu singkat. Akan tetapi, akhirnya saya mendapatkan beasiswa untuk mengikuti short-course  di bidang astronomi selama enam bulan. Saya sangat senang dengan aktivitas baru ini, karena astro adalah dunia saya dan Alhamdulillah saya memiliki suami yang sangat memahami minat saya”

 

“kehidupan kami pun berjalan sangat baik, kami bersamaan menyelesaikan studi di inggris dan bersiap untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi. Atas izin Allah, Amerika menjadi tempat kami berteduh dan melanjutkan hidup. Sebelum meninggalkan eropa kami menyempatkan diri untuk backpacking  keliling eropa berdua” aku pun menutup  cerita ku dengan berbagai hikmah yang                bisa dipetik. Sebelum mengakhiri cerita ini, aku memberikan sebuah sajak indah dari seorang pujangga Jepang bernama Kenzo Takeda,

 

“pohon itu hijau

Pepohonan itu hijau

Kita terlalu sering melihat pohon hijau

Sehingga kita sering lupa bahwa

Ada pula pohon merah

Tetapi bila semua pohon berwarna merah

Aku akan senang berkisah padamu

Tentang pohon yang hijau

Betapa indahnya dunia”

 

Riuh tepuk tangan yang lembut dengan ritme yang hangat menyambut akhir dari cerita ku, aku pun sangat senang bisa mengajarkan kesederhanaan hidup, esensi seorang perempuan, maupun kekuatan mimpi kepada adik-adik. Buatku berbagi adalah sesuatu yang selalu di tunggu. Suamiku selalu berpesan, inspirasi itu ada dimana-mana, yang perlu kita lakukan adalah mencari dan menyerapnya. Kunci sukses hidup pun sebenarnya juga sederhana, menginspirasi dan di inspirasi.

 

Tanya jawab pun berlangsung sangat seru, terkadang  juga di selingi oleh pertanyaan yang membuat tersenyum bahkan tertawa.

 

“uni, apa tips kehidupan uni, apa sih tujuan hidup yang uni tetapkan?”

“saya mau bertanya, terkadang kita terlalu sibuk dengan aktivitas rutin sehingga sulit untuk mengembangkan diri ?”

“uni, minta saran, cara memilih suami yang tepat ?”

“hmmm… kenapa ya terkadang saya selalu merasa diri saya yang paling susah di dunia, seperti kurang mensyukuri ?”

 

Pertanyaan pertanyaan tersebut pun aku jawab dengan sebaik mungkin, mencoba meyakinkan mereka bahwa hidup itu indah selama kita mau berpikir dan berzikir. Aku pun mengajak mereka untuk juga memiliki esensi, prinsip dan tujuan hidup masing-masing. Dan tak lupa aku meyakinkan mereka bahwa mentoring atau pembinaan rutin adalah wadah yang sangat penting untuk menjaga kualitas dan visi hidup.

 

Acara pun berakhir setelah sekitar dua setengah jam berlangsung, panitia juga mengungkapkan ekspresi puas dan terima kasih. Aku sangat senang bisa berbagi, buatku indahnya hidup sangat terasa saat kita mampu berbagi kepada sesama.

 

Kawan, perubahan itu dimulai dari sesuatu yang kecil, dari sesuatu yang tak terlihat. Seperti partikel-partikel atom yang membentuk galaksi yang tak terhingga, seperti unsur-unsur bebatuan yang mengisi bintang dan seperti butiran bola api yang menyelimuti matahari. Dari sesuatu yang kecil bahkan tak terlihat, terbentuklah perubahan yang sangat tampak dan terasa. Begitu pula dakwah, sentuhan personal yang tulus dan ikhlas adalah tindakan yang sangat berharga untuk mengakumulasikan potensi kebaikan setiap kader dakwah menjadi sebuah perubahan tingkah laku dan pola hidup dari setiap individu. Dan bila semua kader melakukan hal sederhana ini, perubahan besar akan tampak dikemudian hari.

………

Setelah sholat zuhur, aku bersama beberapa akhwat yang tadinya merupakan peserta dan panitia ta’lim makan bersama di kantin tempat masjid kampus ku. Kantin yang masih tampak seperti dulu dengan lauk-lauk yang dapat dibeli dengan harga yang sangat terjangkau. Aku mengambil terong balado, ikan dan bakwan. Bersamaan ketika aku duduk, telepon genggamku berbunyi,

 

Sent       : Thursday, October 28. 12.10 PM

From     : AyahGanteng

bunda, jangan lupa makan siang ya ^^”

 

Replied

 

To           : AyahGanteng

Sent       : Thursday, October 28. 12.12 PM

“iya ayah, ini lagi mau makan di kantin masjid kampus, ayah juga jangan lupa maem yaa  ^^”

 

Seorang akhwat melihat aku senyum sendiri membaca sms dari suamiku dan ia berkata setengah menggoda “ehem ehem,  dari suami tersayang ya uni ? bilang ke kak yusuf kalo istrinya baik-baik saja sama kita-kita” . Aku pun tersipu malu dan berusaha tenang sembari berkata, “urusan orang dewasa, mau tau aja, hehe,, yuk makan”

 

Aku lagi-lagi memperhatikan lingkungan sekitar, pemandangan di kantin tampak berbeda. Antrian lebih rapih dan tertib, pemisahan antara perempuan dan pria juga terlihat jelas. Pelayanan tulus dari petugas kantin juga sangat terasa.  Semua sungguh damai dan nilai-nilai kebaikan sungguh terasa dalam setiap jejak yang kulangkahkan.

 

Kawan percayalah, tiada kedamaian yang lebih indah daripada senyum yang ikhlas, tidak ada perbuatan yang lebih mulia ketimbang membuat orang lain tersenyum. Dan hariku bersama akhwat ini telah membuktikan keduanya. Mereka telah memberikan sebuah nuansa postif bagi lingkungannya. Buat mereka berbagi lebih mulia ketimbang hanya memperkaya diri, mereka sangat yakin bahwa apa yang mereka lakukan untuk mengajak teman-temannya berbuat kebaikan adalah sebuah tanggung jawab moral yang melekat pada dirinya.
Aku melihat dengan seksama, bagaimana para muslimah itu menyapa teman-temannya, tiada ada rasa beda dan membedakan bagi mereka. Tidak peduli teman mereka belum mengenakan jilbab atau pun masih terlihat auratnya, mereka tetap menyapa, merangkul, dan menempelkan pipi mereka dengan sangat bahagia.

 

….

Ah, waktu sudah menjelang pukul dua siang, tampaknya aku harus bergegas pulang dan segera menyelesaikan novel terbaru ku, sebelum ide yang terlintas terlupakan. Kawan, sejak kuliah aku suka menulis di blog, Alhamdulillah banyak mendapatkan respon positif dari berbagai kalangan. Ketika menemani Suami saya kuliah di luar negeri, saya punya waktu menulis lebih banyak.  Buatku menulis tidak sekedar menyampaikan pikiran, tetapi mengekspresikan rasa.

 

Beberapa sahabatku pernah berkata, “tulisannya uni ocha pakai perasaan, kalau tulisannya kak yusuf pakai mikir banget. Uni pakai otak kanan, kak yusuf pakai otak kiri. Kalau baca tulisan kak yusuf pasti berat banget, tapi tulisan uni ocha menyenangkan dan menenangkan, ah seru deh pokoknya”. Kadang mendengar itu suami ku selalu meyakinkan dirinya, “ah itu kan cuma tentang segmentasinya aja”. Aku selalu senang melihat ekspresi suamiku yang tak pernah mau kalah, yah begitulah dia. Sabar dan ikhlas menerimanya adalah cara terindah untuk memuliakan suami, kami sangat sadar bahwa pernikahan bukan sekedar untuk menerima kelebihan dan kekurangan, lebih dari itu, untuk saling menutupi kekurangan dan menguatkan kelebihan.

 

“adik-adik, uni tampaknya harus segera pulang nih, kalian masih ada kuliah setelah ini?” aku pun mulai berpamitan dengan panitia yang menemaniku.

“iya uni, kuliahnya tapi masih nanti, setelah Ashar, Insya Allah mau nunggu di masjid kampus saja sambil cerita-cerita dengan yang lain.” Salah satu dari panitia menjawab

Aku pun bertanya lagi, tiba-tiba ingatan ku kembali ke masa beberapa tahun silam, ketika aku tak ubahnya mereka, menanti kuliah di masjid kampus yang sangat asri, “tempat kumpul akhwat masih di dekat tempat wudhu dan di bawah tangga kah?”.

Dan ternyata mereka mengiyakan pertanyaanku sembari terkaget mengetahui bahwa kebiasaan mereka sudah menjadi kebiasaan ku juga ketika kuliah. Aku pun sedikit bertutur mengenai pengalamanku ketika masih mahasiswa.

 

“Uni duluan ya, salam buat adik-adik yang lain, kalau mau ngobrol-ngobrol dateng aja ke rumah, nanti uni siapin masakan khas minang deh”, aku berkata sambil salaman dan menempelkan pipiku ke adik-adik.

“iya uni, Insya Allah, nanti kita main-main ke rumah uni ya, pengen belajar gimana cara jadi Ibu yang baik buat suami dan anaknya”.

“Assalamualaikum semuanya”, sembari berjalan meninggalkan mereka.

“Waalaikumsalam uni, nanti kalau ngisi lagi, Langitnya di ajak yaa.” Mereka berteriak ringan karena aku sudah agar menjauh.

….

Aku berniat melintasi kampusku dan menaiki angkot melalui gerbang belakang kampus, pilihanku ini membuat aku punya kesempatan untuk menikmati suasana kampus yang sangat sejuk siang ini. Mentari tampak tersipu dibalik awan yang pekat, angin pun menyanyikan nada sepoi-sepoi yang membuat hari sangat indah untuk dinikmati.
Suasana gerbang kampus tampak sangat berbeda dengan ketika aku kuliah dulu, kini para PKL telah ditata dengan sangat apik. Mereka berbaris dalam kedai-kedai yang didesain sangat unik dan penuh seni, mereka menjajakan barang mereka dengan semangat. Aku melihat beberapa pedagang yang sudah berdagang sejak aku masih kuliah; lumpia basah, otak-otak, yoghurt, susu murni, hingga gorengan favorit mahasiswa kampusku sejak dulu masih ada hingga kini.

 

Ah aku ingin mencoba kembali lumpia kesukaanku, apakah rasanya masih sama atau sudah berubah mengikuti selera lidah mahasiswa masa kini, “bang lumpianya satu, yang pedes banget ya”, aku jadi teringat dengan cara aku memesan lumpia dulu, selalu ditambahkan pedes banget sebagai penanda aku penikmat cabai.

 

Tidak sampai 3 menit aku menunggu, dan pedagang lumpia tersebut menyodorkan lumpia yang telah dimasak olehnya. “berapa harganya bang?” aku bertanya, dan ia menjawab “4000 rupiah teh”.

 

Umm, aku mencari-cari dimana uang kecilku dan aku memberikan lipatan kertas uang seribu rupiah yang kuyakini berjumlah empat buah. “ini bang empat ribu”. Aku pun memalingkan badan dan mulai berjalan menuju kampus. Akan tetapi, belum cukup 3 langkah aku berjalan, ada yang memanggilku dari belakang, “teh, teteh, ini uangnya kelebihan seribu rupiah”.

 

Aku terkaget, Subhanallah, betapa jujurnya pedagang tersebut, ia bisa saja mengambil uang yang kelebihan tersebut, tetapi ia lebih memilih menjaga integritasnya di mata yang Maha Kuasa ketimbang sekedar mengambil seribu rupiah. Aku sangat tersentuh oleh kejujurannya, dan aku hanya berkata “ambil aja bang, rejeki abang hari ini”. Ia pun mengucapkan dengan spontan, “Alhamdulillah ya Allah, terima kasih banyak ya teh”.

 

Aku melanjutkan langkahku memasuki almamaterku, tidak banyak yang berubah bentuk fisiknya. Baliho di depan kampus, tugu kecil yang terdapat sebuah jam ditengahnya. Aku selalu ingat kalau jam tersebut selalu lebih cepat 10 menit, dan tampaknya sampai saat ini jam tersebut masih lebih cepat dari waktu semestinya. Ya, setidaknya jam tersebut bisa sedikit menenangkan mahasiswa yang terlambat.

 

Pemandangan menarik aku lihat di dalam kampus adalah pernak-pernik gantungan pesan-pesan positif dari himpunan mahasiswa salah satu program studi. Aku coba baca satu persatu, sembari melintasi lorong yang telah di hiasi oleh gantungan pesan kebaikan tersebut.

 

Wanita yang cerdas adalah yang mampu menempatkan diri dengan baik sebagai anak, istri, dan ibu serta mampu membaca potensi kebaikan dimanapun dia berada. (Abdullah Gymnastiar)

 

Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. (Pramoedya Ananta Toer)

 

“Wanita tercipta bukan lah dari tulang ubun-ubun, sejatinya agar ia tidak menjadi tinggi (hati) Dia juga tidak tercipta dari tulang tumit kaki, agar tidak di injak-injak (harga dirinya) Namun ia tercipta dari tulang rusuk sebelah kiri, didekat hati agar ia dicintai… dan terletak di dekat tangan,sejatinya agar ia dilindungi….” (Novel 5 cm)

 

Wanita yang cantik tanpa peribadi yang mulia ,umpama kaca mata yang bersinar-bersinar, tetapi tidak melihat apa-apa – Anonim

 

Aku mencermati dan menikmati iringan kata-kata penuh makna ini dengan baik, semua tulisan dihias dan dicetak dengan sebaik mungkin. Memasuki lorong ini seakan memasuki lorong inspirasi, karena inspirasi ada dimana-mana, yang perlu kita lakukan hanya melihat, membaca, dan menikmatinya.

 

Aku takjub, bukan main indahnya ketika kebaikan ditebar dimana-mana, hebatnya gantungan kata bijak ini dibuat oleh Himpunan Mahasiswa yang dulu lebih saya kenal sebagai tempat bermain-main saja, kini telah menjadi gudang amunisi kebaikan yang siap ditebar kapanpun. Subhanallah, Maha Suci Allah yang telah memberikan kesejukan pikiran kepada mahasiswa saat ini. Mereka tidak lagi merujuk pada lagu-lagu barat yang kadang memiliki lirik yang tidak sepantasnya, dan mereka telah beralih ke para inspirator hebat untuk mendapatkan kebahagiaan batin.

 

Aku pun melanjutkan langkah ku melewati boulevard kampus, semacam jalan lebar yang bisa menampung ribuan mahasiswa, tempat mahasiswa lalu-lalang dan saya yakin telah menjadi meeting point paling strategis di kampus.

 

Daun berguguran, satu-dua-tiga-empat dan lebih banyak lagi, angin yang menari menjatuhkan daun daun yang telah mongering. Pengalaman yang sangat menyenangkan, berjalan di sebuah pedestrian lebar sembari ditemani angin sejuk dan daun berjatuhan.  Tetapi, pandanganku teralihkan dengan cepat ke beberapa muslimah yang membaca Qur’an di undankan tanah ditepi boulevard tersebut. Mereka mengaji sembari bersandaran di badan pohon, berteduh dalam rindangan pohon, dan menambah kesejukan hati dengan membaca kalimat Allah.

 

Sungguh sangat indah kawan, ketika membaca Qur’an tidak perlu malu-malu lagi, tidak hanya di masjid kalimat Allah yang Maha Tinggi ini dilantunkan, melainkan di semua sudut kampus kalimat ini dapat bergetar dan menghangatkan hati manusia yang berada di dekatnya. Kawan, kamu mungkin akan terkejut dengan apa yang aku lihat sekarang, ada seorang mahasiswi yang mendekati muslimah yang sedang mengaji tersebut, dan ia hanya duduk untuk menikmati lantunan Qur’an tersebut. Artinya apa kawan ? pesan-pesa kebaikan telah membuka hati insane manusia yang berada disekitanya. Dakwah tidak lagi menjadi konsumsi terbatas, dakwah telah terbuka dan menjadi milik semua, Islam Rahmatan Lil ‘alamin.

 

Kakiku melanjutkan pijakannya ke arah campus centre, undakan anak tangga dari bebatuan ini kulangkahi perlahan. Aku berpikir, adakah kejutan baru lagi yang akan kutemui di kampus ini?. Sebegitu cepatnya perubahan yang ada, kampus bukan hanya sebagai tempat untuk memuja intelektualitas, tetapi juga tempat untuk merendahkan diri di mata-Nya. Semakin tinggi ilmu semakin kuat Iman seseorang, itu fitrah yang seharusnya terjadi.

 

Melihat ke selasar campus centre, kejutan baru pun aku alami. Sekitar satu-dua-lima-tujuh-dan Sembilan kelompok mentoring sedang melingkar di selasar yang sangat luas itu. Mereka mengisi waktu antar kelas mereka dengan kegiatan menimba ilmu agama. Aku perhatikan para mentor tengah bersemangat menyampaikan mentoringnya, tak ada muka lelah di wajah mereka. Aku tau mereka melakukannya tanpa pamrih, ah, atau mereka sangat yakin jerih payah dakwah mereka akan berbalas surga-Nya kelak.

 

Kawan, sungguh sejuk rasanya bila melihat pemandangan mentoring ini. Tak pernah kubayangkan dapat mengisi mentoring di luar masjid. Dulu kita masih sedikit tertutup, entah belum percaya diri atau pemalu, tetapi kini, keagungan dakwah terbuka lebar, tiada lagi tabir yang membatasi, semua insan di kampusku dapat mengakses dakwah dengan sangat mudah. Mereka bisa belajar agama dengan sangat cepat, karena wadah pembinaan dan jumlah Pembina yang ada telah lebih dari cukup untuk membina seluruh mahasiswa.

 

Aku tersenyum sendiri melihat semua kebaikan yang tertebar dan tersebar di kampus ini, jilbab seakan telah menjadi kebutuhan, hijab telah menjadi bagian dari etika kehidupan, dan tutur sopan telah menjadi nilai yang tidak terpisahkan dari kehidupan mahasiswa. Kawan, perubahan yang dihasilkan dari jeri payah dakwah butuh waktu yang tidak pendek. Apa yang dulu aku dan suamiku lakukan di kampus ini baru terasa dampaknya beberapa tahun kemudian, saat kami sudah mulai merasakan apa yang disebut asam-garam kehidupan yang sebenarnya lebih banyak pahitnya ketimbang manisnya.

 

Tiba-tiba aku teringat sebuah puisi pendek yang pernah aku coret-coret ketika masih menjadi mahasiswa, tentang ramadhan dan keindahan di dalamnya, kala itu aku dipercaya teman-teman sebagai koordinator akhwat untuk kegiatan syiar ramadhan yang dulu kami beri nama Inspiratia Flava, dan beberapa tahun kemudian suamiku menjadikan nama kepanitiaan tersebut sebagai salah satu judul bukunya.

 

Ramadhan adalah kembang api yang anak-anak gantungkan di ranting kayu

Adalah jalan setapak yang dulu sering saya lewati

Adalah hiruk pikuk ibu-ibu menyiapkan banyak hal

Adalah kemurahan Tuhan,

kerinduan saya sejak takbir berkumandang di penghulu syawal.
Kawan, aku ingin bercerita tentang salah satu syiar yang sangat berkesan dan mengesankan buatku, tebak kawan, apa syiar terbaikku ?

 

Bukan sebuah seminar yang mengundang tokoh nasional, bukanpula pentas seni Islami atau sekedar kegiatan buka puasa bersama se-kampus yang selalu ramai diminati oleh mahasiswa.

 

Syiar terbaikku adalah pelayanan sholat ketika orientasi studi mahasiswa baru, kenapa pelayan sholat ? ada apa dengan pelayanan sholat ? mau tau alasan ku kawan ?

 

Kawan, aku percaya ada satu rasa universal yang dimiliki manusia. Siapapun dia. Rasa puas, senang, atau apalah namanya yang hadir setelah melakukan kebaikan, setelah membuat orang lain senang. Indah sekali sehingga susah aku gambarkan. Mungkin inilah yang saudara dan saudarku, kader Gamais rasakan juga waktu pelayanan sholat. Aku tau tidak mudah untuk mau berlelah-lelah menyiapkan batas shaf sekitar 3000 mahasiswa baru, menempel-nempel koran untuk jadi sajadah, mengisi botol untuk air wudhu, bahkan menghibahkan diri sambil tersenyum ramah mengucurkan air bagi mereka yang berwudhu.. Dan selalu saja ada yang bergetar ketika aku melihat ribuan mahasiswa berbondong-bondong menegakkan sholat, memuja Rabb yang meniupkan ruh mereka.

 

Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat. (An- Nashr:1-3)

 

Subhanallah… Pada pelayanan sholat aku selalu melihat kebaikan melimpah limpah. Aku tidak peduli mereka ikhlas atau tidak. Aku tidak peduli apa niat mereka. Aku benar-benar hanya melihat kebaikan melimpah-limpah. Dan malaikat mungkin saja sedang sangat sibuk mencatat itu semua. Dan satu hal, Malaikat tidak pernah peduli siapa sebagai apa, malaikat tidak pernah tau istilah koordinator akhwat, steering committee, staff atau apalah. Malaikat hanya peduli siapa bersungguh-sungguh atau tidak, siapa yang ikhlas atau tidak. Di lautan mahasiswa baru, di pelayanan sholat, aku selalu merasa menjadi kecil sekecil-kecilnya….Sebuah sensasi yang sangat amat ku suka.

 

Langkah kecilku pun berhenti di ujung gerbang belakang kampusku, mengulangi kisah klasik lalu yang kerap aku lakukan, menunggu angkot berwarna ungu favorit ku. Eh bukan angkotnya yang favorit ya, tetapi ungunya yang favoritku. Tak lama menunggu, angkot itu pun datang dan aku pun pulang ke surgaku di dunia, rumahku tercinta.

…..

 

Di rumah, aku melihat-lihat in memoriam kami berdua ketika masih kuliah, korkade kepanitiaan yang diikuti tergantung disalah satu dinding rumah, mungkin puluhan kepanitiaan telah kami ikuti. Puluhan plakat pun juga tertata rapih di lemari, kami suka mengumpulkannya, bukan untuk bersombong diri, tapi kami suka dengan bentuk-bentuknya yang menarik. Beberapa buku yang telah aku dan suamiku tulis pun masih terjaga dengan baik, buat kami in memoriam sangatlah berharga, karena dari masa lalulah kami belajar dan terus berbagi.

 

Dari masa lalu kami bisa bermimpi, apa yang kami torehkan di masa lalu berbuah mimpi yang dinikmati di masa kini dan sebuah cita di masa depan. Dulu kami suka bermimpi tentang melihat dunia, saya dan suami sangat ingin bisa melihat dunia, dan mengambil inspirasi darinya. Itu mimpi kami dulu, kini ? sebagian dari dunia sudah kami pijakkan, buat kami mimpi adalah energi yang mendorong kami untuk selalu berbuat baik dan bermanfaat.

 

Kawan, aku mengisi sisa hari ku di depan meja kerja ku, merangkai kata demi kata, menyambungkan kalimat dengan kalimat dan mengharmoniskan paragraph menjadi sebuah cerita yang tak terlupakan.

 

Jika saja hujan urung datang. Jika saja tak ada cukup kristal air di angkasa. Jika saja panjang gelombang cahaya mustahil diindra dan tidak dibiaskan dalam sudut yang sempurna…

 jika saja…

Benar-benar tidak ada yang tidak terencana

Maka saya percaya, selepas hujan reda. Kapanpun. Dimanapun saya berada. Pelangi yang merona di tangga langit tercipta khusus untuk saya. Tak peduli orang lain melihat pelangi yang sama.

Dan terserah saja Newton bilang tujuh warna, atau enam, atau lima..

Bagi saya ia sejuta.Atau lebih.

Sungguh. Tidak ada yang tidak terencana. Terserah saja siapa bilang apa. Likat-likat saya percaya, selepas hujan reda, pelangi merona dalam berjuta warna. Saya percaya…

….

Ini Mimpi ku Kawan…

Apakah mimpimu juga seindah mimpiku ?

 

Advertisements

11 comments on “Ini Mimpiku Kawan (bagian ketiga-akhir)

  1. neevsfc
    January 24, 2012

    waaaaaaw…

  2. awan putih
    January 24, 2012

    Subhanallah…
    Sy pernah coba menulis mimpi di blog, impian tentang kehidupan dn kampus idaman di masa datang, tp sampai sekarang belum bisa menyelesaikan..
    Salam kenal ya Uni Ocha n Uda Yusuf..

  3. Zakiyah
    January 24, 2012

    subhanalloh 🙂

  4. Pandu
    January 25, 2012

    Subhanallah mimpi ny..
    (n_n)

  5. Salim
    January 26, 2012

    SUPERRRR!!! 😀
    Hayuk-hayuk. . mulai wujudkan dgn langkah-langkah kecil!!
    abdi ge punya mimpi kang!!

    nanti menyusul ya!

  6. zhaafirahzahrah
    January 28, 2012

    keren habis….tulisannya…

  7. diki saefurohman
    January 29, 2012

    Kalau impian saya kayaknya lebih indah dari ka yusuf 😀

  8. diki saefurohman
    January 29, 2012

    Mantaph, baru kali ini saya baca impian yang tergambarkan dengan cerita 🙂
    Jazklh atas inpirasi sastranya…

  9. sandy syam
    February 11, 2012

    kerenlah..

  10. astiZ
    February 19, 2012

    keren banget kak.. subhanallah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 24, 2012 by in Dakwah Kampus, Islam dan Dakwah.

Twitter @udayusuf

Error: Twitter did not respond. Please wait a few minutes and refresh this page.

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,216,507 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: