Hari keenam, “Salju” Beku di Pamukkale


Setelah 10 jam perjalanan dengan bus metro dari Goreme, akhirnya kami sampai di Denizli. Dari Denizli, perusahaan bus metro menyediakan shuttle bus ke Pamukkale. Perjalananan ke Pamukkale sendiri memakan waktu lebih kurang 15 menit.

Ketika sampai di Pamukkale, waktu setempat masih menunjukkan jam 07.30 pagi. Pamukkale berembun karena beberapa jam sebelumnya diguyur hujan. Dan tau tidak, belum ada satupun restoran yang buka untuk kami bisa sarapan. Maka biro perjalanan seperti Metro memanfaatkan peluang ini dengan menawari kami sarapan 10 TL per orang di hotel dilanjutkan dengan tawaran 80 TL per orang untuk jasa tour guide. Tentu saja ini mahal.

Dan umm, menyebalkan. Karena mas-masnya maksa dan ngotot. Apalagi setelah dia berhasil menjual paket “sarapan+tour guide” nya pada sekeluarga turis Jepang. Katanya, “buat kalian aja, jangan bilang-bilang yang lain, karena kalian muslim, maka kalian cukup membayar 70 TL saja”. Ah, cara lama. Dimana-mana sama. Si cowok saya hampir luluh dengan rayuan so sweet mas-mas itu, untung saya yang bijak masih berpikir rasional dan berusaha meyakinkan cowo saya untuk tidak tertipu jurus rayuan membolongi kantong wisatawan ini sembari menguatkannya bahwa jalan berdua saja pasti lebih menyenangkan #eaa.

Selain karena biasanya paket-paket tour guide memang mahal, saya juga tidak membutuhkan penjelasan apa-apa, dan karena saya sedang hamil, maka saya tidak ingin diburu-buru oleh tour guide.

Pintu masuk travertine tidak jauh dari perhentian bus Metro, cukup dengan berjalan kaki 5 menit. Karena, travertine baru dibuka untuk wisatawan sekitar jam 09.00, maka kami memutuskan untuk bermain-main sebentar di Pamukkale National Park yang masih berada satu lokasi dengan travertine. Tidak dipungut biaya apapun untuk masuk ke sini.

 Taman ini terdiri dari danau berair hijau dengan bebek-bebek yang bebas bermain, berbagai jenis bunga terutama mawar, mekar sempurna membuka musim semi di Pamukkale, dilengkapi dengan bangku-bangku yang nyaman yang seperti sengaja dibuat untuk duduk berlama-lama memandangi keelokan travertine dan mengagumi keindahan taman. Ah, pokoknya berada di taman ini seperti berada di negeri dongeng. Heheh.

Perut yang lapar karena belum sarapan memang tidak bisa dibohongi. Akhirnya kami memutuskan untuk menyusuri desa kecil Pamukkale berharap menemukan tempat makan yang buka. Alhamdulillah, setelah tak lama berjalan kaki, kami menemukan tempat makan rumahan yang sudah buka, mungkin lebih tepatnya dibuka karena kami datang, hee..  Kami memesan dua porsi apple tea dan dua porsi Pancake turki yang tampaknya merupakan makanan khas Pamukkale lengkap dengan image “dibuat oleh tangan mak-mak Turki di atas tungku pembakaran konvensional”.

Hampir di depan semua tempat makan memajang gambar mak-mak turki lagi bikin pancake. Sepertinya pancake ini sesuatu banget. Sayangnya setelah saya menyantapnya, saya definisikan pancake turki sebagai dadar kentang basi yang dicampur ntah apalah itu. Huks, rasanya saya rela menukar apa saja demi seporsi nasi padang #norak. Btw, untuk sarapan ini kami cukup membayar 13 TL berdua. Jauh lebih hemat dari yang ditawarkan oleh mas-mas, ya, you know who.

Setelah sarapan, kira-kira jam 10.00 kami memutuskan untuk langsung masuk ke lokasi travertine. 20TL per orang untuk seluruh lokasi, Travertine dan Hierapolis. Jauh amat sangat lebih hemat dari yang di tawarkan oleh mas-mas, ya, you know who. Saya merasa menang, dan menyempatkan menunjukkan ekspresi tuh-kan-apa-ade-bilang di depan cowok saya di setiap ada kesempatan.

Pamukkale atau Travertine atau Cotton Castle adalah salah satu dari sekian banyak situs warisan dunia UNESCO yang berada di Turki. Travertine yang terdapat di lembah sungai Menderes ini adalah sejenis batuan mineral karbonat putih bersih bersisir yang ditinggalkan oleh air yang mengalir, terbentang dalam kawasan yang sangat luas. Air-air ini mengisi kolam-kolam alami yang terbuat dari bebatuan tersebut, bervariasi dari yang dingin hingga hangat.

Makanya, kolam-kolam ini sudah digunakan untuk berendam sejak ribuan tahun hingga sekarang. Di atas “benteng kapas” ini lah berdiri kota Hierapolis, sebuah kota Bizantium, Yunani-Romawi Kuno yang puing-puingnya masih utuh terawat. Kami hanya bisa tercengang-cengang melihatnya.

Untuk masuk ke travertine, kita harus melepas alas kali. Pertama, karena alas kaki kita tentu akan mengotori travertine. Kedua, demi keamanan kita sendiri, sebab menyusuri travertine dengan alas kaki akan lebih licin. Tapi, dasar ya turis-turis masih ada aja yang ngeyel pakai alas kaki, akibatnya setiap saat petugas keamanan harus meniup peluit dan mengomel-ngomel. Hihi.

Kami menghabiskan waktu lebih kurang satu jam jalan kaki untuk menyusuri travertine. Sama sekali tidak lelah, karena sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan luar biasa yang membuat kami takjub. Lelahnya baru terasa setelah sampai di atas. Akhirnya kami memutuskan istirahat di taman sebentar sebelum menyusuri Hierapolis. Dan akhirnya kamipun tertidur di bangku taman, lebih kurang 2 jam. Bzzzzt…

Setelah kami terbangun dan sempat celingak-celingak dengan ekspresi saya-dimana?, 10 menit loading dan set up setelah bangun tidur, akhirnya kami berjalan kembali menyusuri Hierapolis. Nah, ini menyita energy banget, berhubung Hierapolis adalah sebuah kota, jadi jarak satu spot ke spot lain jauh-jauh, jadilah akhirnya kami memutuskan untuk mendatangi spot-spot yang gede-gede aja seperti amphiteater, gerbang-gerbang, necropolis, gymnasium, latrine, dan.. dan.. ntahlah saya lupa namanya.

Oya, kenapa kota ini diberi nama Hierapolis, karena di kota ini dibangun kuil untuk menghormari Hiera, salah satu dewa Yunani. Setelah jatuh ke tangan Romawi, berbagai bangunan bergaya romawi dibangun di atas Hierapolis seperti amphiteater dan kolam-kolam pemandian.

Setelah puas menyusuri Hierapolis, jam 3-an kami turun untuk mencari makan siang. Sebenarnya ada beberapa lokasi wisata lagi, seperti museum dan kolam pemandian. Kami tidak masuk museum karena museumnya sepi sekali dan harus bayar 5 TL, dan juga tidak masuk kolam pemandian karena memang tidak mau mandi-mandi dan juga harus bayar kalau tidak salah 15 TL.

Kami makan siang di restoran Mustafa, tidak jauh dari pintu gerbang travertine. Makanan di sini disajikan dengan porsi besar dan harga yang murah. 33 TL untuk seporsi besar ikan dengan pilav, kebab dengan pilav dan sepiring sayuran, ditambah seporsi besar spaghetti bolognaise dan air minum. Setelah makan siang, kami berjalan ke mesjid terdekat untuk menunaikan sholat. Sepertinya mesjid yang kami datangi adalah satu-satunya mesjid di Pamukkale, karena dari atas travertine kami hanya melihat satu minaret yang menjulang.

Hari beranjak sore, sembari menunggu jadwal keberangkatan kembali ke Istanbul, kami memutuskan bermain-main lagi di Pamukkale National Park sekedar memberi makan bebek-bebek. Tapi kegiatan tersebut tak bisa bertahan lama, karena harus ada adegan seekor anjing mendekati kami. Kami sempat ber”help-help” ria memohon pertolongan dan sebelum sempat terjadi apa-apa, kami kabur secepat kami bisa. Huks.

Akhirnya kami kembali ke loket bus Metro menunggu jadwal keberangkatan ke Istanbul setelah sebelumnya sempat menyantap es krim turki di pinggir jalan untuk menghabiskan persediaan receh yang kami punya. Istanbul, we come back!

*ini adalah tulisan dari istri saya, Dwi Yoshafetri Yuna. Jika pembaca merasa tertarik untuk baca tulisan beliau lainnya dapat mengunjungi blog beliau http://www.dwiyoshafetriyuna.wordpress.com 

Advertisements

3 Comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s