Buku, Diskusi, dan (sedikit) rokok, kopi, dan bir


Den Haag, 29 Oktober 2012

 

Ceritanya, kalau melihat struktur sosial dan latar belakang mahasiswa dari Indonesia nya di kampus saya saat ini. maka terbagi dua. aktivis NGO yang pemahamannya ke kirian, dan PNS mid-carrier yang telah melalang buana di Indonesia.

saya katakan terbagi dua, karena memang benar-benar cuma dua ini. Mereka kesini dengan berbagai beasiswa, Stunned, NFP, DIKTI, Ford Foundation, World Bank, dan ada sebagian kecil yang sponsor mandiri.

Mereka ini (yah termasuk saya tentunya) punya kesamaan, yaitu : berpikir kritis, masih nasionalis, tapi sudah terlanjur kecewa karena tau bobroknya dan busuknya “pemimpin” negeri ini.

Disini, kita ada kebiasaan sebagaimana mahasiswa di Indonesia. kajian dari sore hingga malam. mungkin juga sampai pagi. dimulai dari kumpul-kumpul biasa, atau dari makan malam barengan, hingga ngalor ngidul bicara ttg pembangunan Indonesia.

Kopi, kacang, kueh, sedikit makanan atau snack, rokok (buat yg ngerokok), atau bir (buat yg minum juga) menjadi teman diskusi. Gak jauh beda dengan apa yg terjadi di Indonesia.

Yang kuat ngerokok, makin banyak lintingan yg di hisap, otaknya makin topcer.

Yang kuat minum, makin mabuk makin jitu analisisnya.

Yang kuat ngopi (ini mah gw), makin kentel tuh kopi, makin melek mata, makin tajam diskusinya.

kalau di pikir-pikir seharusnya memang mahasiswa di Indonesia di luar negeri itu terus menerus berpikir dan mengkaji ttg Indonesia. rutin diskusi, bikin publikasi ringan, argumentasikan gagasan.

Kita mahasiswa, maka memiliki hasrat intelektual adalah keniscayaan. kalau mahasiswa aja malas baca buku, diskusi, kajian dan menulis. maka perlu dipertanyakan status kemahasiswaannya.

Perkumpulan mahasiswa seharusnya menjadi kawahcandradimuka ide ide besar dari mahasiswa Indonesia. bukan sekedar tempat hura hura dan mencari bahagia saja. Setidaknya itu sedikit kesimpulan yg saya dapatkan disini.

Sejauh ini, saya mendapatkan refleksi bodoh dari diskusi yg saya jalani selama ini disini.

“Kekhawatiran terbesar dari negara barat terhadap Indonesia adalah ketika pemuda yg berkualitas, bermoral, dan nasionalis memimpin Indonesia”

Bagaimana menurut kamu ?

#refleksimahasiswabodohesdua

Advertisements

2 Comments

  1. setuju dengan konklusi yang coba ditawarkan oleh kang ucup.
    tapi permasalahannya, kang.
    moral pemuda Indonesia itu sendiri udah sangat meragukan dengan dihiasi berita amoral pemuda setiap harinya di layar kaca.
    nasionalisme pun, nasionalisme yang seperti gimana dulu. karena nasionalisme itu sendiri sering kali disalahpersepsikan dengan marhaenisme.
    kualitas pun, sepertinya kita masih belum memiliki pemuda berkualitas yang siap memimpin bangsa.
    mungkin kang ucup sudah meiliki kecakapan atas ketiga aspek yang menjadi konklusi kang ucup tersebut. ana rasa seperti demikian dengan melihat sepak terjang kang ucup di dunia ADK. 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s