Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Ke-khas an ISS


Den Haag, 1 November 2012

 

Ceritanya kemarin saya mengikuti sebuah workshop, tema nya tentang ‘apakah pendanaan luar negeri baik atau membahayakan bagi sebuah negara’.

sesuatu yang menarik dan selalu semakin menarik yang saya dapatkan dari kuliah saya disini adalah selalu adanya berbagai jawaban yang berbeda, bertolak belakang, dan membuat diskusi semakin hangat.

mungkin itulah yang menjadi ke-khasan ISS sehingga kampus ini berani memposisikan diri sebagai pusat studi pembangunan dunia.

Saya memulai argumen dengan mengatakan pendanaan asing selalu ada ‘conditions’ nya. selalu ada udang dibalik bakwan. seperti ketika IMF gelondongin dana saat krisis 1998 yang memaksa subsidi untuk industri strategis di hilangkan. Atau FDI dari Jepang dalam bidang industri otomotif yang tujuan lainnya adalah agar mobil mereka laku di pasar Indonesia.

Rekan dari turki menceritakan pengalaman mereka tahun 2001, saat itu pemerintah turki menggunakan kebijakan defisit anggaran untuk mendorong pembangunan. Singkat cerita pemerintah turki meminjam yang dengan bunga 20% dr Bank Nasional di Turki dalam mata uang Turkish Lira. Namun saat itu ternyata Bank Turki tidak punya uang cash yang cukup, sehingga mereka meminjam lagi uang ke Bank di Amerika dalam mata uang US Dollar dengan Bunga 4%. Menariknya, selang beberapa waktu setelah kesepakatan tersebut kurs Turkish Lira terhadap US Dollar anjlok drastis hingga 300%. akibatnya ? ‘bubble itu meledak’.

Sahabat saya dari Cina mengatakan, ‘kami sih seneng-seneng aja banyak investasi yang masuk, silahkan aja perusahaan itu bikin perusahaan yang bikin polusi, rakyat kami juga butuh kerja dengan upah yang rendah juga tidak masalah’

Teman saya dari Kenya mengatakan, kenya memang penghasil coklat yang besar di Afrika, tetapi 80% nya dimiliki perusahaan di eropa dan 20% milik perusahaan Libya.

Tema saya dari Latin Amerika, kolombia lebih tepatnya mengatakan kalau mereka pernah mendapatkan bantuan berupa permesinan pertanian dengan harga murah dari amerika. ternyata mesin tersebut adalah barang yang sudah tidak dipakai oleh amerika dan daripada di buang, lebih baik dijual ke kolombia dengan harga murah. dan dengan ditambah label “aid” , maka amerika sudah lagi-lagi menjadi pahlawan.

menarik bukan ? diskusi 2 jam berakhir tanpa kesimpulan (seperti biasa). hehe

refleksi bodoh saya mengatakan politik dan ekonomi itu seni. seni dalam meyakinkan, seni dalam negosiasi, seni dalam memanipulasi, seni dalam menyusun anggaran, seni dalam merekayasa dunia perbankan, seni dalam memimpin.

yah setidaknya saya mendapat sedikit pencerahan kenapa mereka akan kasih saya titel master of arts setelah selesai dari kampus ini.

#refleksibodohmahasiswedua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 1, 2012 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,123 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: