Masa Kecil Bersama Saudara Kandung


Den Haag, 6 November 2012

 

Ceritanya sewaktu masih kecil, saya selalu berpikir yang namanya adik-kakak itu selalu tinggal bersama. Kami empat bersaudara, saya anak kedua. Pemikirian ini menurut saya wajar karena ya kita memang selalu bersama sejak kecil.

Lalu perlahan perubahan demi perubahan terjadi. dan ini semua sangat unik. Awalnya aband saya karena keterima di ITB, ia harus meninggalkan rumah dan tinggal di bandung.  selama dua tahun saya jadi ‘kakak tertua’ di rumah.

Lalu saya juga kuliah di ITB, saya satu kost dengan abang saya. kami tinggal berdua di bandung. Dan kedua adik saya di rumah. kita ketemu setidaknya sebulan sekali saat kami pulang atau keluarga ke bandung.

dua tahun berselang, adik saya kuliah juga di ITB. karena akhirnya kami bertiga di bandung (abang saya melanjutkan S2 di ITB juga). Orang tua saya ‘merumahkan’ kami di satu rumah. Jadi, kami bertiga bersama, dan adik kami yg paling kecil pisah sendiri di rumah.

Lalu dua tahun berselang lagi, abang saya ngungsi ke Jepang untuk belajar disana. sehingga saya dan adik di bandung, adik paling kecil di rumah, abang saya di Jepang.

Selanjutnya, setelah adik saya selesai kuliah. Ia tinggal di rumah kembali. maka saya di bandung, dua adik saya di rumah, abang saya di jepang.

lalu sejak tiga bulan lalu. karena saya merantau ke negeri penjajah, dan adik saya juga mengungsi ke negeri penjajah yg lain. struktur berubah lagi.

saya di den haag, abang saya di sendai, adik saya di tokyo, adik saya paling kecil di jakarta.

dulu kita kemana-mana bareng sampai bosen. sekarang kita komunikasi dengan whatsapp, YM!, facebook, dan skype. curiga paling cepet ketemu lagi lebaran tahun depan.

entah bagaimana lagi bentuk struktur nya dalam beberapa waktu mendatang. abang saya katanya mau kerja dulu di luar negeri tapi bukan di jepang. saya pengen S3 di amerika. adik saya yang kecil curiga mau masuk ITB juga, atau kalau ada beasiswa pengen juga S1 di luar negeri.

yah saya percaya, akan tiba saatnya kita tidak terpisah sejauh ini lagi. dan hanya bisa berinteraksi dengan ‘kata-kata di layar maya’.

refleksi bodoh saya mengatakan, walau mungkin kamu bosan sama saudara kamu karena ketemu terus setiap hari. tetapi manfaatkanlah masa tersebut untuk saling berbagi, menyayangi dan menguatkan satu sama lain.

karena sentuhan dan interaksi saat masa kecil itu sangat berpengaruh terhadap karakter kamu saat kamu dewasa.

percayalah akan ada masa dimana kamu rindu masa – masa kecil bersama kakak dan adik mu. dulu kami masih anak-anak, sekarang kami telah punya anak.

ah cepatnya waktu berlalu. 🙂

di saat terpisah benua seperti ini, hanya doa yang bisa dipanjatkan agar kita selalu dalam lindungan Allah.

🙂 Nuhansyah Sulaiman Nadhilah Shabrina Muhammad Rizqi

salam sayang dari dinginnya negeri belanda.

Advertisements

2 Comments

  1. Ternyata seperti itu ya rasanya kalo terbiasa berkumpul kemudian terpisah. Saya saat ini masih terus berkumpul dan belum terpisah, sering muncul rasa bosan. Yachh…. semoga saya segera mendapatkan pencerahan.
    Amin….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s