Catatan SekJend – Menjadi Indonesia


Menjadi Indonesia

Sebuah catatan tentang sumpah pemuda

Den Haag, 11 November 2012

Tahun 1922, 90 tahun lalu para pemuda negeri ini telah banyak menjadi pelajar di negeri Belanda. Mereka berkuliah di berbagai bidang, utamanya adalah ilmu sosial. Para pemuda ini belajar ilmu sosial bukan tanpa alasan, mereka meyakini suatu hari negeri ini (dulu disebut Hindia-Belanda) akan merdeka. Ketika kemerdekaan itu hadir, maka berbagai rekayasa sosial pun sangat dibutuhkan.

Saat itu, teknologi komunikasi belumlah secanggih apa yang kita rasakan saat ini. Telegram masih menjadi andalan, kereta uap masih menjadi sahabat perjalanan, dan surat menyurat selalu digunakan. Tetapi, ditengah keterbatasan itu, para pemuda ini melakukan manuver yang tidak main-main. Majalah Hindia Poetra yang ditulis secara konsisten dan penuh kecintaan terhadap rakyat Indonesia menjadi sebuah fenomena tersendiri di Belanda sata itu. Para pemuda sempat ditangkap dan dipenjarakan dengan tuduhan ingin melakukan gerakan ilegal.

Tahun 1923, lahirlah sebuah catatan yang saya menyebutnya salah satu cetak biru pertama yang dibuat diaspora Indonesia. Catatan ini berjudul Gedenkboek Indonesische Vereeniging, bagian-bagian dari cetak biru pra-kemerdekaan ini adalah ‘kilas balik’, ‘maju mundur’, ‘rintisan-rintasan baru’, ‘Indonesia dalam masyarakat dunia’, ‘sejarah nasional’, Indonesia di tengah revolusi Asia’, hukum nasional’, ‘jalannya waktu’,’penerjemahan astabrata’, ‘kerjakanlah sendiri pendidikan dan pengajaran anak-anak kita’, ‘300 tahun penjajahan’, ‘serikat sekerja di Indonesia, ‘pengaruh komunisme di timur’.

Saya hanya tidak bisa membayangkan diskursus tentang nasional, Indonesia, hukum, pendidikan, ekonomi, budaya, dan globalisasi telah dipikirkan oleh para pemuda saat itu. Tentu bukan pemuda sembarang yang mampu memikirkan kondisi Indonesia yang bahkan namanya saja belum ada.

Adalah para pemuda yang tergabung dalam Indonesische Vereenigning (IV) yang menjadi motor dan duta perubahan bagai negeri kita. Mereka memperjuangkan identitas ‘Indonesia’ untuk menggantikan ‘Hindia Poetra’. Bukan pekerjaan mudah tentunya, tetapi mereka melakukannya. Bukan untuk diri mereka, tetapi untuk Indonesia. Bukan sekedar wacana atau ‘gaya-gaya-an’, tetapi tulus dari dalam hati mereka.

Tahun 1924, pemuda Indonesia di Belanda membuat sebuah ‘label’ baru untuk majalah yang mereka buat. Mereka dengan berani menamakannya Indonesia Merdeka. Salah satu kutipan yang membakar semangat nasionalisme dan kebanggaan kepada pemuda saat itu adalah

‘cepat atau lambat pada suatu ketika bangsa yang terjajah memgambil kembali kemerdekaannya, itu adalah hukum besi sejarah dunia. …. apakah lahirnya kemerdekaan itu sejalan dengan penumpahan darah dan air mata atau sejalan dengan proses perdamaian’

Tahun 1927, sebuah kongres antikolonial dilakukan di Brussel, Belgia. Perwakilan Indonesia tidak hanya menjadi peserta dalam kongres tersebut, tetapi juga dipercaya sebagai presidium dari kongres tersebut. Saya tidak bisa membayangkan kemampuan lobi, negosiasi, komunikasi, dan bahasa yang dimiliki oleh pemuda saat itu. Suatu kemampuan diatas rata-rata pemuda pada umumnya. Merekalah yang kelak menjadi penggerak Indonesia meraih kemerdekaan.

Tahun 1928, sekelompok pemuda dipenjarakan oleh pemerintah Belanda dengan alasan gerakan ilegal berhasil meyakinkan pengaacara pro bono untuk bisa bersama dengan perjuangan mereka. Para pemuda ini tiada menunjukkan kegetiran dan keputusasaan. Mereka meyakini apa yang mereka lakukan di Belanda adalah sesuatu yang benar. Sesuatu yang baik untuk masa depan Indonesia.

Sejarah telah mencatat, para pemuda ini telah menghasilkan dan mengucapkan dengan lantang dan percaya diri sebuah pledoi di hadapan hakim dan jaksa di pengadilan Belanda.

‘kami percaya masa datang bangsa kami dan kami percaya atas kekuatan yang ada dalam jiwanya. Kami tahu bahwa neraca kekuatan di Indonesia senantiasa berkisar ke arah keuntungan kami.

Sinar merah masa datang sudah mulai menyingsing sekarang. Kami menghormati itu sebagai datangnya hari baru. Pemuda Indonesia harus menolong kami mengemudi ke jurusan yang benar. Tugasnya ialah mempercepat datangnya hari baru itu.

Mudah-mudahan rakyat Indonesia merasa merdeka di bawah langitnya dan mudah-mudahan mereka menjadi Tuan sendiri dalam negara yang dikaruniakan Tuhan kepada mereka.

Hanya satu tangah yang dapat disebut Tanah Airku, Ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu adalah usahaku’

Tahun 2012, para pemuda yang dikisahkan sebelumnya telah tiada. Kisah mereka bukan sekedar menjadi catatan yang berdebu, melainkan menjadi penggelora semangat pemuda saat ini. Mereka berjuang dalam keterbatasan, saya harus akui keadaan pemuda saat ini lebih baik. Mereka bahkan tidak takut di kriminalisasi demi memperjuangkan Indonesia.

Tantangan zaman berbeda, saya sepakat. Tetapi ruh perubahan dan perbaikan negeri tidaklah pernah berubah. Ada tiga nilai yang bisa petik dari perjuangan para pemuda ini.

Pertama, mereka jujur. Mereka jujur dan tulus dalam memperjuangkan kebenaran. Mereka jujur pada diri mereka sendiri dan rakyat Indonesia.

Kedua, mereka berani. Mereka berani mengatakan yang benar meski itu berujung pahit untuk mereka. Buat mereka bukan siapa yang mereka hadapi, tetapi apa yang mereka perjuangkan, Indonesia Merdeka.

Ketiga, mereka setia. Tiada terlintas pun pikiran untuk berhenti berjuang. Mereka setia pada tanah air, dan meyakini usaha mereka akan sampai pada sebuah hasil yang mereka perjuangkan.

Tiga ruh ini adalah fondasi bagi para pemuda Indonesia dalam berjuang. Fondasi ini lalu menjadi tempat berdirinya hasrat intelektualitas para pemuda. Ia selalu ingin tahu, selalu haus ilmu, selalu lapar akan perubahan.

Saya meyakini, bahwa perubahan itu adalah ketika potensi bertemu dengan momentum. Lantas, apakah momentum itu selalu hadir dan kita cukup menunggu ? Tidak, momentum bisa di rekayasakan. Bila kita merujuk pada perhitungan fisika, maka kita akan menemukan bahwa momentum adalah massa dikali dengan kecepatan.  Maka, untuk mempercepat momentum kita membutuhkan pemuda berkualitas dalam jumlah banyak dan mereka berlari kencang. Maka usaha inilah yang akan menghasilkan perubahan.

Perubahan itu keniscayaan, pertanyaannya kapan perubahan itu akan hadir. Pemuda memiliki peran krusial dalam menghadirkan perubahan sesegera mungkin ke pangkuan rakyat Indonesia.

Tahun 2045, seratus tahun Indonesia merdeka. Saat itu, catatan perjuangan kitalah yang akan diceritakan oleh pemuda Indonesia.

Advertisements

4 Comments

  1. pencerahan bagi setiap insan muda untuk tetap terus berkarya dan berjuang berdikari untuk negeri, apa yang muda lakukan sekarang dan rencanakan masa depan adalah daya untuk menghasilkan kemajuan dan perubahan untuk Indonesia, mari muda bisa !!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s