Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Catatan Sekjend – Pelajar dan Pekerja


Pelajar dan Pekerja

Sebuah catatan tentang pekerja migran Indonesia

            Den Haag, 12 November 2012

buruh tani mahasiswa rakyat miskin kota

bersatu padu rebut demokrasi

gegap gempita dalam satu suara

demi tugas suci yang mulia

 

marilah kawan mari kita kabarkan

di tangan kita tergenggam arah bangsa

marilah kawan mari kita nyanyikan

sebuah lagu tentang pembebasan

 

berjuta kali turun aksi

bagiku satu langkah pasti

Ahmad Supriadi (Indonesian Migran Worker Union) dan Ridwansyah Yusuf (SekJend PPI Belanda)Lirik lagu berjudul ‘buruh tani’ ini seringkali dinyanyikan oleh para pelajar dan buruh (pekerja) ketika melangsung berbagai aksi bersama. Dalam lirik ini tergambar jelas bagaimana pelajar dan pekerja memperjuangkan sesuatu. Mereka satu suara, mereka bersatu padu, dan mereka mengemban tugas yang mulia.

Ada masanya memang, ketika pekerja masih sangat termajinalkan dan kurang akses untuk menyampaikan suaranya. Sehingga bersatu padu dengan pelajar adalah pilihan yang ditempuh. Pelajar menjadi pendongkrak suara pekerja. Pelajar yang kerap diagungkan dengan istilah agent of change, dan middle class ini memang pernah menjadi harapan buruh, tani, dan rakyat miskin. Berjuta rakyat menanti tangan pelajar, rakyat ini lapar dan bau keringat, dan mereka selau tersenyum sembari menyampaikan salam perjuangan.

Memang, pernah ada masanya ketika pelajar menjadi tulang punggung pekerja.Namun, tampaknya kini para pelajar perlu bertanya pada dirinya sendiri. Masih sudikah para pelajar berangkul dengan pekerja. Untuk sebuah tujuan yang masih mulia tentunya. Ataukah para pelajar kini lupa bahwa mereka pernah bersama.

Bisa jadi ada perubahan cara pandang dari para pelajar, bahwa pekerja adalah mereka yang berdasi dan beraktivitas di balik meja dan komputer di dalam gedung megah bersuhu sejuk. Dan pelajar menilai kalau mereka yang bekerja di sektor informal bukanlah pekerja, lantas mereka apa ? Apakah pelajar terlalu sombong sehingga tidak mau mengakui kalau mereka jugalah pekerja, yang membutuhkan jaminan keamanan, keselamatan, dan kebebasan menyampaikan pendapat.

Tak ada bedanya mereka yang kerja di gedung tiga puluh lantai dan mereka yang bekerja di selokan bawah tanah membersihkan sampah. Mereka sama-sama diberi upah, harian maupun bulanan. Lantas, apa bedanya ?

Kita di negeri Belanda ini berkuliah di kampus yang konon berkelas dunia, dengan dosen terbaik di bidangnya, dengan akses perpustakaan yang sangat lengkap, dengan fasilitas perkuliahan bintang lima, dengan rekan-rekan dari berbagai belahan dunia, dengan segala kebanggaan karena kita bisa mengatakan ‘saya jebolan Belanda’.

Cukup semua kebanggaan itu, biarkan kebanggaan itu kamu simpan, dan jadikan cerita untuk memotivasi anak cucumu. Tetapi jangan jadikan itu sebagai alasan kamu lupa tanggung jawab kamu sebagai agen perubahan. Ingat juga sahabat lama kamu, para pekerja, mereka selalu menanti senyum dan sapa terbaik dari pelajar.

Sahabatku, keadaan pekerja negeri kita di negeri kincir angin ini tidaklah lebih baik. Banyak dari mereka tidak berdokumen. Jangan bertanya kenapa, tetapi bertanyalah apa yang bisa kita bantu. Mereka memilih berada di Belanda bukan tanpa alasan, ketiadaan lapangan kerja di negeri kita memaksa mereka mengorbankan harta yang tersisa untuk bisa mencari kehidupan yang lebih baik.

Mereka bekerja di sektor informal; pelayan, di kebun, pekerja domestik, petugas kebersihan, loper koran, pekerja bangunan, dan berbagai lainnya. Tak sedikit yang menjalani lebih dari profesi dengan jam kerja diatas rasionalitas manusia. Tetapi, itu harus ditempuh. Pilihan ? mungkin belum ada.

Saat ini saya pun juga belum tau harus berbuat apa, tetapi setidaknya kita harus selalu ingat kalau mereka adalah bagian dari kita. Masyarakat Indonesia yang merantau ke negeri Belanda untuk kehidupan yang lebih baik. Bukankah alasan pekerja dan pelajar merantau itu sama ?

Mari kita bersama, pelajar dan pekerja. Bersatu padu membuat Indonesia Tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 12, 2012 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,216,714 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: