Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Green and Sustainable ? Kampanye Naif Negara Barat


Den Haag, 13 November 2012

 

ceritanya dunia saat ini sedang demen bener sama tema-tema seperti ‘green’ dan ‘sustainable’. pokoknya apapun kalau udah ditambah green atau sustainable pasti langsung jadi bertambah nilainya.

green company, sustainable development, green industry, sustainable environment dan berbagai terminologi lainnya. saya tidak bermaksud mempertentangkan ini. saya mendukung. saya juga tidak bermaksud bilang ini semua konspirasi, atau perubahan iklim adalah propaganda.

tapi saya bermaksud mengangkat tentang ketidakadilan, dan kesemena-menaan itu negara-negara barat thd negara berkembang tentang isu ini.

PBB punya banyak sekali institusi pendukungnya, sebutlah UNICEF, UNESCO, FAO, ILO, WHO dan lainnya. menariknya, semua institusi ini berada di Eropa atau di Amerika. Hanya satu institusi yang berada di Afrika yaitu UNEP (UN on Environment Programmes), tepatnya di Nairobi. Ini seakan-akan ingin mengatakan ‘kalau masalah lingkungan itu adalah masalah kamu di Afrika, bukan kami di eropa atau amerika’

Tesis yang seringkali diberikan oleh para pakar dari barat adalah kemiskinan identik dengan pencemaran lingkungan. bahkan itu si peraih noble, Kuznets, membuat sebuah diagram yang menunjukkan kalau sebuah negara kaya akan semakin peduli dengan lingkungan. sedangkan negara miskin masih berjuang untuk penghidupan mereka.

Okelah negara-negara maju mereka mengaku sustainable dan green dalam bisnisnya. kalau hanya melihat produk jadinya atau sekedar manajemen di perusahaan dan kita lagi-lagi di bodohi dengan ISO dll, bisa jadi mereka memang ‘hijau’. Sebutlah iPhone, produk canggih, tapi itu cobalt nya dari mana ? dari pertambahan afrika yang mereka kelola juga dan tidak ramah lingkungan. atau coklat semacam mars dan nestle, itu pekerja coklat di ghana, pantai gading dan indonesianya melibatkan tenaga kerja anak-anak, tidak ada kebersihan dan keamanan kerja disana, apalagi sustainable.

di latin amerika ada sebuah kawasan konservasi bernama amazon. negara berkembang sewot aja dengan mengatakan kalau itu miliki dunia. tidak boleh dikembangkan, tidak boleh ditebang. demi keselamatan manusia, climate change dan segala alasan lainnya. lah itu amerika dan eropa dulu ngerusak alam di tanah mereka kenapa boleh. lalu kenapa seakan-akan kita negara berkembang harus menanggung kesalahan dan kebodohan mereka dulu ?

mereka gak inget apa, kalau dulu mereka membangun industri dengan merusak lingkungan di eropa, amerika, dan bahkan dunia (wilayah jajahan mereka).

sekarang di kawasan yasuni ITT di ekuador, kawasan konservasi. tuh amriki sewot jangan di rusak. dibawah kawasan itu ada cadangan minyak besar. ekuador kan gak makmur juga negaranya. tapi sama amerika ga boleh ditebang hutannya meski untuk kebutuhan ekonomi ekuador. lalu ekuador minta hak nya, mereka mau tidak tebang itu hutan asal dunia berikan 1/2 dari nilai minyak yang terkandung di bawah hutan tersebut. dan tidak ada yang merespon.

kenapa negara berkembang seperti ekuador harus tidak bisa mengeksplorasi minyaknya karena negara maju tidak mengizinkannya ?

tiap selang waktu tertentu ini negara maju selalu muncul dengan istilah baru yang beda-beda dikit. dulu kolonialisme, lalu pembangunan, sekarang post-pembangunan, yah dan pembangunan berkelanjutan. mereka menilai pembangunan yang sekarang itu gagal dan butuh pendekatan baru (yang cuma beda dikit) yaitu pembangunan berkelanjutan.

lalu sekarang kelompok neoliberal sedang mengkampanye kan agar barang publik dan konservasi alam agar di privatisasi. artinya itu bisa di jual beli. biarkan pasar bekerja dan akhirnya mencapai titik equilibrium. dan seperi kalimat sakti kelompok neoliberal.

‘saat demand dan supply mencapai equilibrium, itu adalah saat dimana semua orang bahagia’ ah sakti bener emang itu mantra. apalagi ditambah dengan hitung-hitungan matematika mereka jadi bisa membuat negara berkembang yakin.

sekarang negara afrika, latin amerika, dan asia (non asia timur) menjadi target dari kampanye hijau dan keberlanjutan. padahal kadar Co2 terbesar itu ada di amerika dan eropa, kadar polusi terbesar juga disana, tingkat footprint paling padat juga disana.

harusnya mereka menanggung donk apa kesalahan dan keserakahan mereka dimasa lalu. kenapa harus negara berkembang yang menanggung.

ah jadi emosi deh saya.

refleksi bodoh saya mengatakan kalau kampanye hijau dan keberlanjutan ini baik, sanga baik. kita harus mendukungnya. tetapi jangan sampai kita mengikuti standar yang barat lakukan. mereka tidak pernah benar-benar menjalankan apa yang mereka ajarkan kepada kita (baca bukunya Chang Ha-Joon (2002), ‘kicking away the ladder’). Indonesia khususnya punya banyak kearifan lokal yang sangat hijau dan keberlanjutan. kita lah yang seharusnya mengeluarkan standar, indikator dan panduan hidup hijau dan berkelanjutan.

yah itu setidaknya saran saya buat kita semua, terutama para pakar Indonesia yang berkecimpung di bidang ini.

#refleksimahasiswesdua

Advertisements

One comment on “Green and Sustainable ? Kampanye Naif Negara Barat

  1. Citra Taslim
    November 19, 2012

    Sekarang negara afrika, latin amerika, dan asia (non asia timur) menjadi target dari kampanye hijau dan keberlanjutan. padahal kadar Co2 terbesar itu ada di amerika dan eropa, kadar polusi terbesar juga disana, tingkat footprint paling padat juga disana.

    Bila dikatkan dengan equilibrium bumi dalam transfer panas, maka green and sustainable juga patut dipertanyakan. Dalam ilmu perpindahan panas. jelas disebutkan kalau panas di bumi itu akan mengalami aliran dari suhu dari suhu yang lebih tinggi ke suhu yang lebih rendah untuk mencapai equilibrium. Dengan kata lain, negara2 berkembang digadang negara maju untuk menjaga pohon guna menanggung beban panas bumi yang digenjot oleh industrialisasi mereka. sementara negara berkembang layaknya Indonesia yang diberi bantuan dana guna penanaman pohon atau menjaga hutan tidak sebanding dengan keuntungan yang mereka dapatkan guna menggenjot industri.

    Saya sepaham bila dengan paparan di atas, negara-negara berkembang saat ini harus punya dan bisa mengambil sikap, khususnya Indonesia. tidak bisa dipungkiri sejauh ini kemajuan Industri juga berbanding lurus dengan eksplorasi sumber daya alam. Alam masih menjadi sumber utama khususnya di negara berkembang untuk memperoleh manfaat yang besar lewat eksplorasi di berbagai bidang.

    PR besar bagi generasi engineer muda, pemangku kebijakan untuk kembali menggali potensi kearifan lokal yang diwariskan turun temurun untuk kemudian digabungkan dengan kemajuan ilmu pengetahuan untuk mencapai kemakmuran bagi rakyat.

    Nice post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 13, 2012 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,124 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: