Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Jabatan Dunia : Semu dan Fana


Jakarta, 30 Januari 2012

Ceritanya saya telah menghabiskan beberapa hari terakhir di tanah air. Waktu saya banyak di isi dengan aktivitas dengan keluarga; menemani anak imunisasi dan bikin passport atau sekedar mengisi waktu dengan bermain bersama istri dan anak.

namun, terlepas dari kegiatan yang melepas rindu yang melekat selama berpisah 10.503 km. Tuhan memberikan tanda-tanda pelajaran hidup yang sangat menarik kepada saya. Tuhan mengingatkan kepada saya bahwa segala label jabatan dunia tidak pernah akan kekal, maka janganlah diri ini bergantung kepadanya.

Saat berada di bandara di padang-pariaman untuk terbang menuju jakarta saya bertemu dengan mantan wakil menteri. Beliau saya cukup kenal dengan baik, pernah berkolaborasi dan juga pernah memberikan rekomendasi studi untuk saya. Dulu, saya mengenal beliau sebagai seorang pejabat yang dipenuhi protokol, harus membuat janji, VVIP dalam setiap perjalanan, dan salam penuh hormat harus selalu disampaikan.

pernah suatu waktu, kita satu pesawat, ia di kelas bisnis dan saya di ekonomi. saya pikir beliau juga akan menaiki kelas bisnis dalam pertemuan kami tempo hari, namun ternyata ia menaiki kelas ekonomi; antri bersama, naik bis bersama, dan berjalan bersama.

Pekan lalu saya juga bertemu dengan mantan menteri, saya pernah bertemu beliau beberapa kali dan juga pernah mengundang beliau dalam kegiatan yang saya selenggarakan. kali ini kami bertemu di kantor imigrasi. Beliau duduk santai dan tenang menanti antrian yang sangat panjang. Sama seperti saya yang juga mengantri, beliau pun melakukan yang sama. Padahal, ada masanya, banyak orang mengantri untuk bertemu beliau.

pelajaran hidup yang saya dapatkan dari pertemuan dengan dua sosok ini adalah, mereka tiada merasa kehilangan jabatan dunia mereka. mereka menikmati hidup sebagaimana adanya, dan menjadikan jabatan sebagai amanah yang bisa hadir dan pergi tergantung kehendak-Nya.

refleksi bodoh saya mengatakan, jangan sampailah kita merasa jumawa dengan label yang melekat pada diri ini. karena percayalah, ia tidak akan kekal. janganlah bergantung pada label tersebut, karena itulah tipu daya dunia yang membuat manusia lupa hakekat kehidupan. janganlah kita terlalu mengejar label itu, karena itu hanya akan membuat mu lelah mengejar ambisi semu kamu.

percayalah, hidup itu akan lebih indah bila sekitarmu memanggilmu dengan namamu, bukan dengan jabatanmu.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

3 comments on “Jabatan Dunia : Semu dan Fana

  1. johan saputra
    December 31, 2012

    Reblogged this on Johan Saputra.

  2. nurulhuda27
    January 3, 2013

    Reblogged this on NurulHuda27 and commented:
    Setujuhhhhh!!!

  3. Diah Mitasari (Mita)
    January 4, 2013

    Keren !!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on December 30, 2012 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,123 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: