Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Insan Akademis dan Hasrat Intelektual


Salah satu hakekat pelajar adalah memaknai proses pembelajaran yang dialaminya dan mengekspresikannya dengan karya. Sebagai pelajar, sudah sewajarnya pula, kita mencari ilmu tidak hanya dari apa yang didapat di kelas, tetapi juga di luarnya. Saya percaya, seorang pelajar yang paripurna adalah ketika ia bisa belajar ilmu pengetahuan, ilmu bersosial, dan idealism. Ketiga hal ini merupakan sebuah kesatuan yang akan membentuk sebuah kapasitas diri yang mumpuni.

Kesadaran kita sebagai insan akademis merupakan sebuah tantangan tersendiri. Apalagi dengan kondisi nyaman serba ada di luar negeri, bisa jadi membuat kita lupa bahwa kita berada di sini, untuk belajar, pada akhirnya untuk berkontribusi untuk Indonesia. Kita perlu selalu di ingatkan bahwa segala yang dipelajari di sini, bukan lain untuk memajukan bangsa.

Setidaknya ada dua ciri yang melekat dari seorang pelajar yang bisa mendalami makna insan akademis. Pertama, ia selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapai tantangan masa depan. Kedua, ia senantiasa mencari dan membela kebenaran ilmiah, sesuai dengan watak ilmu itu sendiri. Dengan selalu mengikuti watak ilmu, maka seorang pelajar mengemban peran untuk membentuk tatanan masyarakat yang benar dengan dasar kebenaran ilmiah.

Proklamator Indonesia yang juga pernah memimpin ‘PPI Belanda’ (dulu:perhimpunan Indonesia), Bung Hatta, mengatakan, indicator keberhasilan seorang di perguruan tinggi adalah bila ia keluar sebagai seorang manusia yang susila dan demokrat, yang mana ia memiliki keinsafan tanggung jawab atas kesejahteraan masyarakatnya; cakap dan mandiri dalam memelihara dan memajukan ilmu pengetahuan; dan mumpuni memangku jabatan dan atau pekerjaan dalam masyarakat

Pertanyaan yang selalu saya tanyakan pada diri sendiri adalah, sudahkah saya seperti itu ?

Langkah mendasar untuk melahirkan sebanyak mungkin insan akademis dari rahim PPI Belanda adalah dengan mendorong tumbuhnya hasrat intelektual diantara kita semua. Sebagaimana Bung Hatta dan kawan-kawannya lakukan di era sebelum kemerdekaan. Mereka kerap berdiskusi, berpikir berhari-hari untuk menyusun sebuah gagasan yang tajam, bekerja siang malam untuk menelurkan sebuah publikasi yang tidak hanya sekedar menjadi coretan melainkan sebuah pengaruh bagi dunia global.

Kala saat itu belum ada jejaring internet, para pendahulu kita bisa berbuat banyak. Mereka berkumpul, bukan untuk sekedar bersenang-senang, tetapi berpikir keras untuk memperjuangkan Indonesia Merdeka. Saat itu, dengan segala keterbatasan mereka berhasil memperkenalkan kata Indonesia kepada khalayak luas.

Apa kunci daya tahan para pendiri negeri ini? Buat saya, Hasrat Intelektualitas adalah jawabannya. Mereka tak pernah berhenti untuk belajar dan mengekspresikannya dalam koridor memerdekakan Indonesia. Mereka haus akan perubahan, dan perubahan selalu melekat pada diri mereka. Mereka lapar bukan oleh makanan, melainkan dengan ilmu pengetahuan yang tak terbatas. Mereka geram melihat penjajahan fisik, lebih dari itu, mereka sadar dan menyadarkan bangsa Indonesia bahwa kita saat itu dijajah secara intelektual, dan itulah penjajahan terburuk yang bisa dilakukan oleh umat manusia.

Kini, hampir 70 tahun Indonesia merdeka. Masihkan semangat insan akademis dan gairah hasrat intelektual pemuda kita masih sama dengan para pemuda 90 tahun silam?

Mari kita jawab bersama, belajar membuat Indonesia selalu Tersenyum.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 21, 2013 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,251 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: