Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Mengikuti ‘barat’, perlukah?


Den Haag 21 Januari 2013

Ceritanya saya kembali menghabiskan sore dan malam hingga pergantian hari dengan membaca dan membaca. Entah berapa halaman yang dibaca, tetapi akhirnya saya harus mengakui saya kalah dengan rasa kantuk. dan saatnya untuk mengatakan ‘cukup’.

ah, saya tidak mau cerita tentang baca dan mengantuk tentunya. saya mau bicara tentang sejarah yang tak diungkap.

Negara-negara yang menamakan dirinya ‘barat’ seakan menutup sejarah kelam mereka sebelum abad 15/16. mereka hanya menyebut masa reinansance sebagai titik balik dari era kegelapan mereka. Apa yang terjadi di masa sebelum itu ? menurut mereka tak perlulah di bahas, kita sudah berada pada era maju dan bebas. lupakan masa lalu.

Okay, tetapi apakah mereka ingat kalau saat revolusi industri mereka telah menabuh gendang perkembangan teknologi yang sangat tidak ramah lingkungan dan sangat kejam terhadap hak asasi manusia?

Kini mereka bicara tentang inovasi yang bertanggung jawab, demi alam mari kita peduli terhadap perubahan iklim dan sebagainya. Mereka melakukan itu setelah mengeruk dan merusak terlalu banyak dari negeri ini.

Dulu mereka mengaung-gaungkan tentang keunggulan komparatif sebagai kunci menguasai dunia. Kini, keunggulan tersebut tak lagi berlaku, mereka unggul secara kompetisi, sedangkan negara berkembang tidak berhak.

Lantas, mereka datang kembali ke negara berkembang dengan sejuta standarisasi dan berkembang menjadi model bisnis yang menjanjikan.

lagi-lagi negara berkembang di jajah secara intelektual.

Ah, memang mereka sulit dipercaya. Teringat saat ke lapangan matador beberapa hari silam. Di era gelapnya, mereka mempunyai permainan melempar tombak dan pedang ke kepala seorang bangsa moro/mur yang telah dipenggal. Saya tau sejarah, tetapi ia yang mengaku pemandu mengatakan bukan kepala beneran yang dijadikan permainan, melainkan boneka saja. Apakah saya perlu percaya hal tersebut ?

refleksi bodoh saya semakin menguatkan hipotesa saya bahwa strategi untuk menjadi negara yang mengasai ekonomi dunia adalah dengan melakukan hal yang bertolak belakang 180 derajat dari apa yang di ajarkan oleh negara yang menyebut dirinya ‘barat’.

Setidaknya saya jadi mengetahui kenapa saya belajar disini.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 21, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,690 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: