mencari ‘coat’


Den Haag, 22 Januari 2013

 

Ceritanya sejak bulan dingin mulai datang saya meniatkan diri untuk membeli sebuah jaket, mantel, atau apapun namanya. bahasa inggrisnya ‘coat’, saya kurang tau terjemahan Indonesia yang tepat apa. Kala itu sekitar akhir oktober awal november.

Maklum, saya kesini hanya bermodal sebuah jas tipis yang dibeli saat wisuda sarjana, lalu mendapat lungsuran jaket tebal hangat casual dari senior, dan sebuah jaket sedang yang pernah saya beli tahun lalu di Indonesia.

kenapa saya butuh ‘coat’ ? sederhana saja, tampaknya saya butuh sebuah pelindung dingin yang lebih formal dan tampak agak keren dikitlah. sejak saat itu, dengan keyakinan saya akan tinggal lama di negeri yang empat musim, saya mulai mendatangi satu per satu toko yang kebetulan saya lewati. dari kelas massimo dutti, zara, hingga kelas tanpa merek.

tentunya untuk memilih sebuah pakaian, pertimbangannya antara lain rasa puas di desain/model, rasa nyaman di badan, rasa ganteng di cermin, dan rasa ikhlas di dompet.

namun, setelah 3 bulan musim dingin berlangsung, dan salju tampaknya mulai bosan ‘memutihkan’ jalan-jalan. saya tak kunjung juga membeli ‘coat’ tersebut. ada saja alasan hingga saya tak beli. Ada model bagus, tapi tak pas di badan. ada yang ukurannya pas tapi saya tak merasa ganteng dengannya, ada yang sudah cocok semuanya tapi dompet tak bisa di negosiasi.

alhasil, saya terus menggunakan kombinasi jaket/jas yang saya miliki sejauh ini. dan melihat musim dingin yang akan berlalu, bisa jadi rencana membeli ‘coat’ ini hanyalah tinggal wacana. saya sadar, bisa jadi teman-teman saya sudah bosan dgn pertanyaan ‘beli coat yg bagus tapi murah dimana ya?’

ah sudahlah, mungkin memang belum berjodoh saja 🙂

refleksi bodoh saya mengatakan, untuk mencari pakaian yang cocok saja, kita berpikir dan berpikir keras, banyak pertimbangan dan penuh keraguan, hampir membeli lalu tak jadi, hingga akhirnya ketunda. kita gak yakin itu yang terbaik, dan hasilnya kita perlu bertahan dgn keadaan yang ada.

yah sama seperti ketika seorang mencari sahabat hati nya, sering awalnya penuh ragu, lantas tertunda, hampir jadi, lalu tak cocok di akhir langkah, sudah menemukan yang tepat, tapi keluarga tak sesuai.

pada akhirnya kita hanya dituntut untuk berusaha dan sabar. berusaha untuk terus mencari, dan sabar dengan keadaan yang ada. dan berdoa agar kita tidak gila sebelum ‘pakaian’ itu melekat.

selamat berusaha untuk yang sedang mencari tulang rusuk yang hilang, selamat bersabar buat yang tengah dag-dig-dug menunggu sahabat hati, dan sampai jumpa tahun depan untuk yang masih mencari ‘coat’ yang cocok 🙂

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

1 Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s