Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Budaya Pelajar, Budaya Diskusi


“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.”

-Mohammad Hatta

BungHatta

Salah satu identitas yang melekat dari seorang pelajar adalah rasa ingin tahu yang sangat besar. Dari rasa penasaran inilah, keinginan untuk memecahkan masalah, menemukan solusi, hingga membuat perubahan. Pelajar membuat perubahan? Tidakkah itu terlalu utopis dan hanya akan berakhir pada wacana yang tertiup debu?.

Buat saya tidak, saya selalu percaya ada harapan besar dari pendiri bangsa ini, penyusun bahasa kita terhadap pelajar. Salah satu sinonim dari pelajar adalah Mahasiswa, sebuah pilihan diksi yang menarik, karena di berbagai bahasa dunia; tidak ada pembedaan antara siswa sekolah dan siswa perguruan tinggi. Student is a student, there are no such word as great or big student for college student

Sedangkan kita menggunakan kata Mahasiswa, kata Maha ini identik dengan sesuatu yang bersifat ketuhanan, sesuatu yang tak terbatas. Siswa artinya mencari ilmu. Sehingga kita bisa mengambil kesimpulan sederhana kalau Mahasiswa adalah mereka yang selalu mencari ilmu dimanapun dan kapanpun.

Pertanyaan yang kerap muncul adalah, sudahkan kita menjadi mahasiswa yang benar?

Salah satu ekspresi yang gerakan pelajar bisa lakukan adalah diskursus intelektual; baik itu diskusi, seminar, paparan ilmiah, bedah film, bedah buku, orasi budaya, dan konferensi. Berawal dari sinilah, kita berharap pelajar bisa belajar, sadar, dan berkontribusi untuk kebaikan bangsa.

Sebagai bagian dari keluarga besar pelajar Indonesia di luar negeri, sudah sewajarnya juga bila kita bisa melakukan hal-hal ini dengan seksama dan konsisten. Bukan hanya untuk sekedar memenuhi kewajiban sebagai pelajar, melainkan juga sebagai ungkapan ‘sayang’ kita kepada Indonesia.

Malulah kita pada Indonesia, bila waktu kita di luar negeri hanya dihabiskan untuk bersenang-senang, tanpa upaya inspirasi kepada negeri. Percayalah, negeri kita ini haus akan inspirasi. Suara pelajar Indonesia di luar negeri menjadi kerinduan tersendiri, mereka berharap ada generasi emas penuh semangat yang dapat membimbing mereka dari kemiskinan yang sistemik.

Dalam kaitannya dengan ini, PPI Belanda beserta PPI Kota yang berada di dalamnya memiliki tanggung jawab untuk membangun kebiasaan diskusi ini secara rutin. Bentuk diskusi bisa dalam beragam cara, sebagaimana yang telah disebutkan. Bila ke-17 PPI Kota menjalankan 1 buah diskusi saja setiap dua bulan. Maka kita bisa memiliki lebih kurang 8 diskusi setiap bulannya, dan bila setiap diskusi diteruskan ke pengambil kebijakan dan juga media, maka akan memberikan dampak yang lebih besar.

Kebiasaan diskusi ini adalah bagian dari karakter pelajar. PPI Belanda perlu selalu melakukan benchmark terhadap bagaimana Bung Hatta dan kawan-kawannya mengelola Perhimpunan Indonesia saat itu. Budaya diskusi, gerakan intelektual, semangat menulis, dan berbagai gebrakan sosial dan media dilakukan. Apa yang dilakukan Bung Hatta saat itu sejatinya masih sangat relevan dengan apa yang bisa kita lakukan saat ini.

Bukankah kita pelajar kawan? Mari buktikan dengan ekspresi hasrat intelektualitas kamu yang besar.

Advertisements

One comment on “Budaya Pelajar, Budaya Diskusi

  1. ikram
    February 3, 2013

    Yuk mari LANJUTKAN Mas !! 😀 *semangat 45 ala Indonesia sampe capsnya jebol

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on January 31, 2013 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,227,333 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: