Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Belajar Membuat Indonesia Tersenyum


Indonesia merupakan negara yang besar, karena  itu diperlukan pemuda dengan jiwa yang lapang untuk mampu mengelola negeri ini. Ini bukan sekedar mitos atau harapan semu, melainkan sebuah fakta yang  telah terbukti. Indonesia diprediksi akan menjadi negara ketujuh terkuat dari sisi GDP dan akan menjadi salah satu polar ekonomi dunia pada tahun 2030.

images (1)

Proyeksi ini perlu dengan bijak disikapi, bukan  sekadar terkagum dan lupa daratan, melainkan bersikap kritis ”bagaimana saya bisa menjadi bagian dari dinamika pertumbuhan Indonesia?”. Pemuda sebagai agen perubahan perlu memikirkan dan merencanakan “kontribusi apa yang akan kita berikan untuk Indonesia?”.

Sudah saatnya kita, pemuda Indonesia dengan lantang berani mengatakan “‘Betapa inginnya kami agar bangsa ini mengetahui bahwa mereka lebih kami cintai daripada diri kami sendiri.

Bagaimanakah bentuk ‘cinta’ kita kepada Indonesia?

Pertama, apa potensi yang akan saya berikan untuk Indonesia?; Kedua, peran apa yang akan saya kerjakan untuk mendorong pertumbuhan Indonesia?; Ketiga, dengan siapa saja saya akan berkolaborasi?; dan Keempat, apa mimpi saya terhadap Indonesia di masa mendatang?.

Prof. B.J Habibie pernah berkata, ”Mulailah dari akhir, dan berakhirlah dari awal. Kalimat ini beliau sampaikan untuk mengekspresikan bagaimana tahapan dalam pengembangan teknologi. Namun demikian, kita geser pemaknaannya sedikit untuk mimpi masa depan Indonesia. Bagaimana visualisasi kita tentang Indonesia mendatang, dan bagaimana langkah-langkah kecil yang telah kita rencanakan untuk bisa mewujudkan visualisasi tersebut?

Sebuah novel karya Donny Dhirgantoro berjudul ‘5 cm’ menuliskan “….gantungkan mimpimu 5 cm di depan keningmu, biarkan dia menggantung agar dapat selalu kau lihat dan kau kejar. Gantungkan mimpi besarmu tentang Indonesia dan jadikan itu sebagai kekuatan untuk kamu agar selalu memberikan yang terbaik untuk Indonesia.

Tajuk ‘Indonesia Tersenyum’ dipilih untuk menggambarkan keadaan berdaulat akan negeri di masa mendatang. Senyum merupakan ekspresi kebahagiaan dari dalam hati. Ia tidak melihat kaya atau miskin. Bila seorang bisa merasakan cukup dan mensyukuri apa yang dimilikinya, ia akan tersenyum dengan keadaan yang dimilikinya. Indonesia Tersenyum adalah visualisasi kesejahteraan batiniah dan sosial dari masyarakat Indonesia.

Ia yang berlimpah bisa berbagi dengan yang membutuhkan, ia yang membutuhkan tidak merasa terpinggirkan oleh yang berlimpah. Rakyat merasa cukup dalam hidup, ia mampu mengelola kehidupan keluarga dan sosial dengan berimbang, lalu ia juga mampu menjadi bagian dari tatanan masyarakat yang dinamis, produktif, dan sehat.

Karena pada akhirnya, membangun negeri ini bukan hanya berbicara tentang demokratisasi politik atau pertumbuhan ekonomi saja. Membangun negeri adalah tentang membangun manusianya itu sendiri. Pada akhirnya, pembangunan bisa memberikan kemampuan masyarakat untuk mampu berdaulat atas dirinya sendiri.

Sebagai bagian dari rakyat Indonesia, pemuda adalah kelompok dinamis yang diharapkan oleh banyak pihak. Berbagai pujian yang terkadang berlebihan bukan tanpa alasan. Sejarah telah membuktikan bahwa negeri ini terbangun dari perjuangan para pemuda, khususnya mereka yang terdidik.

Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) di Belanda merupakan organisasi pemuda dan pelajar tertua, sejarah mencatat sejak 1922 organisasi ini telah berdiri dengan nama Perhimpunan Indonesia, nama-nama besar seperti Iwa Koesoema Soemantri, Soekiman, Mohammad Hatta, Achmad Soebardjo pernah menjadi sejarah emas dari organisasi ini. Kala itu, para pemuda Indonesia ini memiliki sebuah narasi kemerdekaan yang sangat bernas ‘Masa depan bangsa Indonesia semata-mata terletak pada adanya bentuk pemerintahan yang bertanggung jawab kepada rakyat dalam arti sebenar-benarnya. Setiap orang Indonesia haruslah berjuang demi tujuan ini. Dengan kekuatan dan usahanya sendiri’.

Semangat yang disebarkan oleh pendiri organisasi ini sejatinya masih sangat relevan untuk kita hayati dan jalani dengan kondisi saat ini. Indonesia memang telah merdeka secara hukum Internasional, namun ekonomi kita masih dalam jeratan ekonomi asing yang tidak menguntungkan negeri ini. Pasal 33 UUD RI Tahun 1945 tentang pengelolaan sumber daya alam untuk kesejahteraan rakyat seakan-akan diobrak-abrik dengan liar oleh ekonomi asing. Dan apa yang tersisa? Indonesia terperangkap menjadi negara konsumen yang tak lebih sebagai pasar dari berbagai produk asing.

Daya saing sebuah bangsa tentu tidak bisa berkembang bila hanya bermodal semangat konsumerisme. Indonesia perlu dibangun dengan kekuatan ekonomi berbasis pengetahuan. Keunggulan kompetitif negeri ini perlu ditingkatkan untuk mengimbangi keunggulan komparatif yang telah Tuhan berikan kepada Indonesia.

Dan salah satu kunci untuk mendorong keunggulan kompetitif Indonesia adalah dengan pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Berkaitan dengan kebutuhan ini, sudah sewajarnya para pemuda dan pelajar Indonesia di luar negeri mengambil bagian penting dalam mengelola ilmu yang didapat di perkuliahan dan penelitian menjadi sebuah penemuan atau rekomendasi bagi pembangunan Indonesia. Cara pandang ”dari ilmu ini apa yang bisa saya berikan untuk negeri” perlu menjadi sebuah logika berpikir dari pelajar Indonesia di luar negeri. Karena dari para pelajar inilah, proses transfer  ilmu ini berproses dan berpindah. Bagaimana pelajar mampu membawa sebanyak mungkin ilmu pengetahuan dari luar negeri ke dalam negeri adalah sebuah tantangan yang perlu kita jawab bersama.

Tantangan lainnya adalah citra positif tentang Indonesia itu sendiri. Tak bisa dipungkiri, masih banyak masyarakat luar negeri yang tidak mengetahui ada apa di Indonesia, potensi apa yang bisa dikolaborasikan, dan perubahan apa yang telah terjadi di Indonesia dalam dekade terakhir. Dunia perlu mengetahui bahwa Indonesia bukan lagi negara yang dipimpin oleh otoritarianisme kekuasaan dan jauh dari demokrasi. Indonesia telah menjelma menjadi negara yang prospektif dari sisi ekonomi dan politik, serta sangat siap untuk menjadi mitra konstruktif dalam berbagai kerjasama yang bisa dilakukan.

Untuk itu diperlukan ‘diplomat muda’ Indonesia yang bukan lain adalah para pemuda dan pelajar untuk mampu memperkenalkan Indonesia di pentas dunia. Sebagaimana Perhimpunan Indonesia 90 tahun silam, mereka memperkenalkan Indonesia di berbagai pertemuan internasional, dan telah berperan secara efektif untuk mencari dukungan akan kemerdekaan Indonesia.

Beranjak dari berbagai situasi saat ini dan masa depan yang telah dipaparkan. Perhimpunan Pelajar Indonesia memiliki peran yang sangat strategis untuk mempercepat proses pertumbuhan Indonesia. Peran pelajar ini meliputi berbagi dimensi dan pola gerakan, yaitu peran intelektual, peran politik, peran budaya, dan peran ekonomi.

Peran intelektual pelajar dapat dilakukan melalui penyerapan ilmu pengetahuan yang didapatkan di perkuliahan untuk kemudian dibawa ke Indonesia. Tantangan yang kita hadapi adalah bagaimana mampu menghubungkan science and technological gap antara Indonesia dan luar negeri. Pelajar perlu sadar akan peran krusialnya ini dalam upaya untuk mengejar ketertinggalan ilmu pengetahuan dan mendorong daya saing negeri dengan keunggulan kompetitif.

Peran politik pelajar dapat diekspresikan dengan berbagai diskusi, advokasi, dan pernyataan sikap atas berbagai isu yang berkembang di dalam dan di luar negeri. Pelajar tak boleh hanya diam membisu melihat dinamika sosial politik yang ada. Pelajar perlu bersikap sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai seorang insan akademis. Sebagaimana yang dilakukan oleh pendiri negeri ini, sebuah majalah berjudul ‘Indonesia Merdeka’ menjadi ujung tombak para pelajar dalam mengekspresikan peran politik mereka di luar negeri.

Peran budaya sangat berkaitan erat dengan diplomasi pelajar dalam membangun citra positif, memperkenalkan Indonesia dan beragam budaya dan potensinya, serta meyakinkan dunia bahwa Indonesia adalah salah negara berkembang yang prospektif di masa mendatang. Berbagai aktivitas pargelaran kebudayaan dan pemanfaatan media komunikasi visual bisa dilakukan untuk menunjukkan kepada dunia tentang Indonesia.

Peran ekonomi bisa dilakukan dengan dua pendekatan, pertama dengan membangun bisnis di luar negeri lalu menghubungkan mata rantai barang atau produksi ke dalam negeri. Dengan link ini, pelajar bisa mendorong lebih banyaknya barang atau produksi Indonesia di dunia. Kedua, melalui menjadi pekerja professional di luar negeri untuk beberapa waktu, dan kemudian kembali ke Indonesia untuk membangun perusahaan sejenis di dalam negeri, tentunya dengan pengalaman yang telah didapat selama bekerja di luar negeri.

Keempat peran ini bisa dilakukan oleh pelajar Indonesia di luar negeri, setiap pelajar tentunya memiliki pilihan tersendiri ingin lebih berperan dimana. Keberadaan Perhimpunan Pelajar Indonesia-lah untuk mampu mengelola potensi kebaikan yang telah dimiliki oleh para pelajar. Melalui proses pembelajaran kita di luar negeri, kita bersama belajar untuk membuat Indonesia lebih baik. Pada akhirnya, ujian terbesar kita adalah setelah kita selesai berkuliah dan kembali membangun Indonesia. Tak lebih dari 1% pemuda Indonesia yang mampu menikmati pendidikan di luar negeri, sebuah tanggung jawab moral dan konsekuensi logis bagi pelajar untuk bisa sadar, belajar, lalu kontribusi untuk selalu menjaga senyum Indonesia.

Bersama, kita belajar membuat Indonesia Tersenyum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 6, 2013 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,690 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: