Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

nilai ujian


Den Haag 7 Februari 2013

Exam

Ceritanya tadi sore nilai term kemarin keluar. Alhamdulillah semua lulus. Entah kenapa di kuliah EsDua ini saya tidak begitu stress bila mendapatkan nilai yang tidak ‘A’. Buat saya asal pass udah seneng, dan kalau nilainya diatas rata-rata kelas yang agak bangga lah.

Menariknya kuliah di kampus saya saat ini adalah, entah karena dosennya terlalu rajin atau kenapa. setiap hasil ujian selalu diberikan feedback yang bisa mencapai satu halaman.

pada term lalu, ada kuliah yang memberikan 4 tugas menulis esai. dan setidaknya saya mendapatkan 6 halaman feedback atas essay saya. komentar yang diberikan sangatlah spesifik dan personal.

‘kamu kurang mendalami bagian ini… kamu kurang kritis membandingkan itu…teori tersebut tidak pas dengan kasus yang kamu berikan…kamu kurang mampu mengkaitkan studi kasus dengan kesimpulan… kamu bisa dapat nilai lebih baik bila…’

sebagai mahasiswa saya sangat senang mendapatkan masukan seperti ini. feedback ujian dan esai saya menurut saya lebih berharga daripada nilai saya itu sendiri. karena dengan feedback konstruktif (meski kadang bahasanya juga suka sadis) bisa memberiikan pembelajaran bagi kita untuk bisa lebih baik pada ujian atau tugas mendatang.

Akhirnya saya daritadi mencoba membaning-bandingkan apa yang menjadi perbedaan dari nilai esai saya. kenapa yang satu diberikan 85 dan yang satu diberikan 70 ? ketika saya coba baca kembali dan kaitkan dengan feedback yang diberikan. memang terasa beda kualitasnya. meski penulisnya sama (ya saya sendiri) dan dikerjakan di waktu yang hampir sama (satu selesai pagi satu selesai malamnya) tetapi bisa menghasilkan kedalaman analisis dan refleksi teoretikal yang berbeda.

Refleksi bodoh saya mengatakan, kuliah EsDua ini memang menjadi momen yang tepat untuk benar-benar belajar merenung, berpikir, mensintesakan fenomena, dan mendalami aneka gagasan yang bertebaran. Untuk menjelaskan sebuah kasus saja, kita bisa melihatnya dari beragam pendekatan konsep dan berbagai perpektif pengamatan.

Pada akhirnya, tesis EsDua itu bukan seperti menuliskan laporan proyek ke lembaga donor. tetapi merefleksikan secara mendalam fenomena yang terjadi di depan kita. Bagaimana kita mampu menjelaskan kenapa, bagaimana, dan dampak dari fenomena yang ada. Setidaknya itu yang dijelaskan dosen saya dikelas.

Semoga refleksi tesis saya nanti tidak bodoh-bodoh bener.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 8, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,690 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: