Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

belajar jadi pemimpin


Den Haag 26 Februari 2013

Ceritanya dalam beberapa hari terakhir ini saya mengisi hari-hari di 5 kota; Den Haag Wageningen Arnhem Utrecht dan Leiden. Semuanya saya datangi untuk keperluan aktivitas pelajar Indonesia di Belanda. Variasi kegiatannya sangat beragam, diskusi pangan, pertandingan olahraga, bedah film, dan kajian tentang papua.

Buat saya kesempatan ini sangatlah berharga, karena memberikan kesempatan bagi saya untuk mengenal lebih banyak kawan-kawan, mempelajari pola pikir, dan juga semakin mendalami ke-khas-an pemuda nusantara.

ada masa dalam salah satu fase kehidupan saya dulu, bahwa mengenal tokoh atau pejabat adalah sebuah pencapaian. mencoba mengenal, bertemu, dan berdialog dengan mereka untuk sekedar asal kenal menjadi sebuah prestasi.

Namun seiring waktu berjalan, dan beragam tantangan kepemimpinan saya lewati, saya semakin paham kalau kapasitas kepemimpinan bukan dilihat dari sejauh mana kita bisa kenal dengan yang lebih tua. Melainkan, dari bagaimana kita bisa merangkul dan berjuang bersama dengan sepantaran kita.

Alhasil, dalam fase kehidupan saya di Belanda, saya belajar untuk bisa lebih dekat, lebih mengenal, lebih merangkul mereka yang sepantaran dengan saya. Karena bagaimanapun, negeri ini akan di isi oleh kami yang muda dan bukan mereka yang tua di masa mendatang.

Sejauh ini yang saya rasakan, jauh lebih mudah mengenal tokoh dan pejabat daripada menyatukan hati untuk satu langkah perjuangan bersama mereka yang sepantaran. Saya dituntut untuk mau mendengar dan melayani lebih banyak. Namun, itulah tantangan kepemimpinan sesungguhnya.

Karena kita lahir untuk generasi kita dan selanjutnya. Bukan untuk generasi sebelum kita.

Refleksi bodoh saya mengatakan mematangkan kapasitas diri dalam kehidupan dan kepemimpinan dapat dilakukan dengan belajar menjadi teladan dan pelayan bagi lingkungan sekitar, kawan seumuran, dan sahabat perjuangan sepantaran. Dengan mengajak berjalan bersama, berkolaborasi untuk satu cita, serta bermimpi untuk Indonesia; bisa menjadi langkah yang menarik untuk dilakukan.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

One comment on “belajar jadi pemimpin

  1. neorifka
    February 27, 2013

    gimana kalo sama orang yang gak suka kuliah??–it mean, gak suka sama kehidupan kampus yang masih monoton. (nyambung gak nyambung, harap maklum..hhe)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 26, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,227,326 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: