Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Label atau Isi ?


Den Haag 27 Februari 2013

Ceritanya saya baru saja selesai kuliah dengan judul sesi perkreditan mikro. Tema ini sangatlah menarik untuk dipelajari dan di dalami implementasinya, khususnya di negara berkembang. Karena skema ini dipercaya bisa mengurangi angka kemiskinan.

Salah satu contoh sukses dari perkreditan mikro adalah dari seorang peraih noble asal Bangladesh yang berhasil menginspirasi banyak model model perkreditan mikro di berbagai belahan dunia. Diskusi bertambah menarik, karena banyak mahasiswa di kelas yang berasal dari negara maju tidak bisa ‘membayangkan’ bagaimana perkreditan mikro tersebut. Bisa jadi karena di negaranya tidak ada model seperti ini.

Selain itu ternyata, Dosen kami mengatakan perkreditan mikro memiliki bunga hingga 3 kali lipat dari pinjaman biasa. Dan bila tak mampu membayar, maka lembaga penyalur kredit akan menyita langsung barang milik peminjam tanpa melalui pengadilan. Masyarakat miskin memilih perkreditan mikro karena lebih mudah di akses dan dengan persyaratan yang sangatlah mudah.

Faktanya di berbagai belahan dunia, perkreditan mikro telah berkembang menjadi bisnis ‘tengkulak’ yang sangat menjanjikan.

Debat dikelas berkembang seputar ‘kenapa masyarakat meminjam ke perkreditan mikro yang bunga nya 3 kali lipat’; ‘bagaimana kepercayaan dibangun antara peminjam dengan yang dipinjamkan?’; ‘kenapa dana itu diberikan kepada kelompok yang tidak produktif dan tidak membuat usaha?’.

Intinya diskusi sedikit menyimpulkan kalau skema perkreditan mikro ini tidaklah menyelesaikan masalah kemiskinan, hanya menjadi permainan pemilik modal, dan secara teori gagal karena pada dasarnya masyarakat miskin tidak mungkin membayar bunga yang mencapai 3x lipat dari pinjaman bank.

Lantas, karena gatel untuk memberikan komentar, saya mengangkat tangan dan mencoba menyampaikan gagasan tentang prinsip perkreditan alternatif yang dilakukan di beberapa tempat di Indonesia, apakah prinsip alternatif itu ? saya perkenalkan konsep Islam yang tidak mengenal ‘bunga’ tetapi dengan sistem bagi hasil.

Setelah tiga-empat kalimat keluar dari mulut saya, si Dosen bilang ‘Aha!’, ‘saya menunggu kamu untuk bicara hal ini, karena saya yakin kamu mengetahuinya’. Lalu saya coba jelaskan apa itu sistem bagi hasil; yang mana lembaga peminjam ikut rugi bila orang yang dipinjamkan juga merugi, dan juga sebaliknya akan untung besar saat orang yang dipinjamkan untung besar.

Sebagian besar peserta kuliah mengangguk-anggukan kepala, dan seorang mengatakan ‘Yusuf, coba kamu gambarkan skema nya di papan tulis’. Dan jadi lah saya mencoba menjelaskan lebih detail termasuk cara agar kredit bisa sesuai sasaran seperti hanya diperuntukkan untuk hal produktif, adanya pelatihan dan pendampingan, dan assessment lapangan sebelum memutuskan seorang layak atau tidak menerima sebuah kredit.

Termasuk saya masukkan ‘nilai’ bahwa ekonomi Islam tidak mengenal uang dibisniskan dengan uang (riba), karena uang (alat tukar) hanya bisa bisniskan dengan barang.

Hingga akhirnya ada seorang mahasiswa mengatakan ‘ini ide yang inovatif, dan bisa jadi terobosan atas sistem mikro kredit yang hanya menjadi ‘label pengentasan kemiskinan’ di berbagai negara’. Alhasil, saya melanjutkan beberapa penjelasan saya dengan kata ‘skema inovatif ini’. Dan setidaknya saya merasa kawan-kawan antusias dan apresiasi dengan gagasan ini.

Refleksi bodoh saya mengatakan terkadang dalam memperkenalkan prinsip atau sebutlah ideologi, kita perlu memulai dari hal yang ‘practical’ dan bisa dibayangkan secara jelas oleh masyarakat luas. Terkadang kita tidak perlu juga ngotot di awal tentang label seperti ‘ini skema Islam’, namun dengan mengatakan ‘ini ide inovatif’ bisa membuat khayalak luas lebih bisa menerimanya dengan baik.

Ketika label menjadi yang ditonjolkan, maka friksi akan terjadi. Tetapi bila ‘isi dan manfaat’ yang di tonjolkan, maka keberterimaan yang akan terbentuk.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

2 comments on “Label atau Isi ?

  1. ardika
    February 27, 2013

    Sepakat bang. Aku juga pernah mengalami sebuah pertanyaan yang agak sulit tentang poligami waktu di Jerman kemarin. Alhamdulillah, penanya akhirnya puas dengan sebuah jawaban, bahwa sebelum berpoligami itu ada syaratnya bagi seorang suami bahwa harus bla bla bla, sesuai dengan apa yang telah disebutkan dalam syariat. Ternyata mindset mereka kebanyakan melihat Islam itu asal-asalan mengatur pernikahan orang, padahal sebenarnya ada aturannya, ketika mereka tahu mereka mengerti.

  2. 8yowatonsuloyo
    March 7, 2013

    nice

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on February 27, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,251 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: