Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Garis Tangan


Den Haag 1 Maret 2013

1212

Ceritanya sejak di Belanda ini saya berkesempatan untuk rapat dan bekerjasama dengan Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda. Dalam berbagai kesempatan ketika kita sedang diskusi tentang seseorang, baik untuk undangan, pembicara, atau sekedar jejaring. Ibu Duta Besar seringkali mengatakan ‘saya kenal dengan beliau, orangnya bagus…..’ , ‘saya satu angkatan dalam pelatihan ini….’, ‘kita pernah kerjasama ketika negosiasi itu …’, ‘barusan saya dihubungi oleh ….. kawan lama saya …’.

Dari berbagai percakapan ini saya terlintar terpikir, wah enak juga ya bisa kenal dengan diplomat, jejaring internasional, dan bisa bermanfaat lebih luas. bagaimana caranya ya ? karena perlu saya akui, kenalan saya di kementerian luar negeri itu sangatlah minim, bisa dihitung pakai sebelah tangan.

lalu pada sebuah pertemuan di KBRI dengan pejabat penting dari Indonesia, seorang Letnan Jendral pula kabarnya. Di pertemuan tersebut juga banyak pejabat dan tokoh dan sepuh Indonesia di Belanda. Dan kebetulan, dalam pertemuan tersebut terdapat beberapa diplomat muda Indonesia yang sedang pelatihan di Clingendael School of Int’l relation, salah satu pusat pendidikan terkemuka di bidang ke diplomat-an.

Ketika saatnya makan malam, saya berada pada situasi harus memilih ‘apakah akan satu meja dengan pejabat dari Jakarta, ataukah satu meja dengan sepuh dan tokoh, ataukah satu meja dengan pemuda pemuda calon diplomat?

tanpa berpikir panjang, saya memutuskan untuk satu meja dengan para diplomat muda ini. Dan ternyata menarik memang diskusi dengan mereka sangat menarik. Usianya sepantaran saya, dan jelas akan jadi calon duta besar Indonesia suatu hari kelak.

Refleksi bodoh saya mengatakan karena kita tak pernah mengetahui garis tangan seseorang di masa mendatang, jadi bangunlah pertemanan dengan semua orang sejak saat ini. Tak perlulah hidup itu punya musuh apalagi dengan mereka yang masih sepantaran kita. Hidup itu selalu berputar.

Saat muda, perbanyaklah teman dengan yang muda. karena kelak saat telah semakin matang, besar kemungkinan akan bertemu kembali dalam arena yang sama.

pertanyaannya, kamu mau bertemu dengannya sebagai kawan atau lawan ?

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

One comment on “Garis Tangan

  1. 8yowatonsuloyo
    March 2, 2013

    banyak kawan… banyak rejeki 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 1, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,999 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: