Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Perjuangan Kelas


Den Haag 5 Maret 2013

Ceritanya saya pertama kali baca-baca tulisan marx dengan teori kelasnya adalah ketika kuliah di bandung. saat itu saya hanya mampu membayangkan maksud dari tulisan ini dalam konteks ekonomi.

saya besar dari keluarga berkecukupan, dan saya tumbuh di lingkungan pendidikan ‘negeri’ yang membuat saya mengenal kawan-kawan yang lebih berada dan kurang memiliki. di kampus di bandung pun serupa; saya hanya mampu melihat ada pake mobil ke kampus, pake motor, naik angkot dan jalan kaki. yah itu representasi teori kelas dari aspek ekonomi yang saya pahami.

‘kelas kendaraan’

namun seiring saya semakin mengenal dunia, saya semakin sadar kalau teori kelas marx ini juga berkaitan dengan aspek politik. terutama dan ekskalasi vertikal seorang di dalam dunia politik.

sejauh pengamatan saya, mereka yang ‘bermain’ di dunia politik ini memiliki dua kelompok utama, pertama mereka yang memang berasal dari keluarga politisi atau pengusaha besar, kedua mereka yang menjadi aktivis atau akademisi lalu merangkak masuk ke politik.

kelompok pertama ini biasanya adalah anak penguasa, yang selalu menempel pada nama besar orang tuanya. menggunakan social capital dan juga capital orang tua untuk meningkatkan leverage pribadinya. terkadang kelompok ini kurang memikirkan konten dan menonjolkan seremonial (eksistensi). keunggulan dari kelompok ini adalah jejaring yang luar biasa, dukungan dana tak terbatas, dan punya akses vertikal yang sangat baik.

kalau dikaitkan lagi dengan bukunya il principe nya machiavelli akan semakin jelas alasan apa dan mengapa kelompok ini bisa ada.

tetapi ada juga anak penguasa yang rela mengorbankan kenyamanan dan kemapanannya demi tatanan masyarakat lebih adil. Marx dalam teorinya mengistilahkan sebagai ‘bunuh diri kelas’. Contoh nyata dari perilaku ini adalah seorang che guevara.

kelompok kedua adalah mereka yg tumbuh dari kelas menengah, kaum proletar; biasanya memiliki daya tahan yang cukup kuat, visi besar, idealisme yang telah dipupuk sejak muda, memiliki akses horizontal yang baik, dan butuh kerja keras untuk menggapai peningkatan vertikal.

kelompok ini biasanya minim dukungan capital, tapi merangkak bisa membangun social capital. kelompok ini jumlahnya cukup banyak, tapi seringkali terhempas karena persaingan dunia politik sangatlah keras

pilihan bagi kelompok ini sejatinya cuma dua; bertahan dengan idealisme dan berharap garis tangan membawa nasib nya lebih baik dalam arena politik atau menjilat penguasa dan masuk dalam lingkaran episentrum kekuasaan.

Dunia politik ini memang keras. mereka anak penguasa tentu ingin mempertahankan kemapanan hidup dan kekuatan pengaruhnya, di sisi lain ada kelompok yang berjuang atas nama keadilan dan idealisme yang berusaha menduduki posisi ‘istana’ agar perubahan bisa dilakukan.

konflik antara dua kelas ini sangatlah terasa, karena perbedaan latar belakang dan cara berpikir. karena pada akhirnya perbedaan mendasar inilah yang akan menjadikan perbedaan cara perjuangan dan juga cara memimpin bangsa kelak.

kolaborasi akan menarik bila kelompok kedua bertemu dengan anak penguasa yang melakukan bunuh diri kelas. ini bisa jadi inisiasi yang baik untuk mendobrak kebuntuan perubahan.

refleksi bodoh saya mengatakan, ada tiga cara untuk menjadi ‘pelayan’ negeri ini, yaitu menjadi anak penguasa, atau menjadi penjilat penguasa, atau berharap garis tangan kamu berpihak pada idealisme perjuangan kamu

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on March 5, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,216,998 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: