Negarawan Romantis : Sutan Sjahrir


Den Haag 5 April 2013

SutanSjahrir (1)

Ceritanya tadi tengah malam saya tiba-tiba terbangun dari tidur untuk alasan yang tidak jelas. ya terbangun aja, setelah sedikit membuka jendela untuk melihat bintang dan menyeduh air panas untuk secangkir teh saya praktis kehilangan rasa kantuk.

saya akhirnya memutuskan mengambil sebuah buku di meja kerja saya, sebuah buku yang baru saja saya pinjam dari seorang sesepuh di Belanda. Judul bukunya adalah Sutan Sharir karya (alm) Rosihan Anwar. Ya! buku tentang biografi Bung Sjahrir, tak terasa buku setebal 200 halaman ini saya baca langsung dalam waktu tiga jam.

Buat sebagian anak Indonesia yang hanya bergantung pada pelajaran sejarah di sekolah, bisa jadi ia mengenal Bung Sjahrir ini sebatas perdana menteri Indonesia pertama, pendiri partai sosialis Indonesia (PSI), dan akhirnya menjadi pahlawan nasional di akhir hayatnya.

namun lebih dari itu, Bung Sjahrir ini punya cara pandang, cara gerak, dan sikap yang cenderung berbeda dengan para pendiri bangsa ini. Kala Bung Hatta memutuskan tinggal di Belanda untuk menamatkan studi, Bung Sjahrir memutuskan pulang ke Indonesia untuk menguatkan PNI-baru. Ketika Bung karno memutuskan untuk melakukan kerjasama dengan Jepang, Bung Sjahrir ini memilih untuk melakukan gerakan bawah tanah sembari berusaha menyuarakan Indonesia melalui radio. Ketika sebagian orang bicara tentang keunggulan komunis, Bung Sjahrir justru menilai komunis adalah otoritarian kiri, dan menilai gagasan marx perlu diadaptasikan dalam konteks Indonesia, Bung Sjahrir memperkenalkan gagasan sosialisme kerakyatan.

Bung Sjahrir menilai kemerdekaan bukanlah akhir dari perjuangan, kemerdekaan hanyalah satu pintu yang terbuka agar rakyat Indonesia bisa mengekspresikan kemandirian dan kebebasan. Orang berkata, Bung Sjahrir ini adalah seorang yang pemikirannya mendahului zamannya, sehingga banyak orang tak bisa memahami keunggulan pemikirannya. Namun akhirnya Bung Sjahrir harus meninggalkan dunia ini akibat korban tirani pada sebuah negeri yang ia perjuangkan.

Mereka mengatakan Bung Sjahrir bukan lah seorang politisi, ia lebih cocok disebut pendidik karena jiwa nya yang kuat dalam meng-kader. terbukti, PSI saat itu berkembang dan juga tenggelam karena konsep Bung Sjahrir tentang partai kader. Mereka juga pernah berkata, Bung Sjahrir menangis sendiri ketika melihat langsung penderitaan rakyat, jiwa romantisme tumbuh di balik tirai kerasnya perjuangan. apapun kata orang, buat saya Bung Sjahrir seorang Negarawan Humanis.

teringat sentilan Bung Sjahrir untuk para pemuda yang belajar di universitas, ‘jangan sampai mereka hanya jadi pemegang titel, bukan seorang kaum intelektual’.

refleksi bodoh saya mengatakan bahwa kapasitas dari pejuang dan pendiri ini memang sangat diatas rata-rata. kecerdasan intelegensia, kelihaian bahasa dan diplomasi, serta konsistensi dalam perjuangan mereka miliki. syarat yang jelas untuk layak disebut sebagai negarawan. masihkah sosok sosok seperti ini ada dan apakah mungkin sosok seperti ini lahir kembali?

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

3 Comments

  1. coba rumahku deket leiden. bisa pinjam deh ini buku. 🙂 teringat masa asa muda berburu buku loakan di solo. kalau dibaca bikin mata sepet. mungkin terlalu berdebu kali yah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s