Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Mengukir Sejarah Masa Depan


Den Haag 21 April 2013

losari m

Ceritanya dalam dua pekan terakhir tempo hidup saya cukup tinggi; dinamika persiapan berbagai program PPI Belanda, rangkaian tugas kuliah dan tesis; serta aktivitas pribadi lain yang sangat menyita waktu, tenaga dan pikiran. terkadang saya berpikir, sampai kapan energi ini hadir?

pada sisi lain cerita ini, saya selalu memiliki waktu sendiri dalam perjalanan. saat sendirian di kereta saya selalu memilih duduk di gerbong ‘silent’. menepi jendela, perhatian pemandangan yang berbalapan lawan arah dengan saya. melihat perilaku alam dan tingkah manusia yang berlalu lalang. terkadang saya terpikir, sampai kapan saya harus mengejar mimpi?

di balik pertemuan dan perjalanan, saya senang berjalan menyusuri kota yang belum pernah saya kunjungi. berhenti secara acak di stasiun tak jelas, turun dari kereta dan menapaki kaki tanpa arah hingga kaki menjadi lelah. kembali melihat aktivitas dunia yang seakan akan berlomba dan berkompetisi. terkadang saya merenung; haruskah ambisi itu berada?

malam sunyi sepi tanpa bintang, seakan dunia pun memilih senyap meski manusia masih berjalan, berlari, dan melompat bak riak debu di sebuah lahan kecil bernama kota. ada mereka yang mencari uang, ada mereka yang menghamburkan harta, ada mereka yang menikmati dunia, ada mereka yang bermandikan dosa, ada juga mereka yang bersimpuh dalam harap kepada yang Sang Prima Causa. terkadang aku melamun; ah dunia ini hanya fatamorgana, lantas buat apa saya memiliki mimpi dan ambisi?

ketika pagi memanggil, tetapi mata tak kunjung merapat. apa yang bisa dilakukan selain berkontemplasi diri dan membangun asa. 25 tahun yang lalu saya hanya seonggok daging di rahim Ibu. 15 tahun yang lalu saya hanya anak kecil yang tak mengerti apa itu dunia. 5 tahun yang lalu saya adalah seorang pelajar yang mulai gusar tentang keserakahan manusia. dan saat ini; saya adalah seorang pemuda yang sedang merenung tentang diri dan bangsanya di negeri penjajah.

terkadang saya berpikir, apakah hidup ini untuk untuk mengukir sejarah masa depan atau bermutasi menjadi debu-debu peradaban?

refleksi bodoh saya mengingatkan saya pada sebuah pepatah; sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi burung nuri. jika memang kamu merasa dirimu adalah bagian dari lokomotif perubahan makalah jadilah itu. karena itu dirimu. bangunlah narasi peradaban yang utuh dan kuatkanlah dengan pribadi yang kukuh.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

6 comments on “Mengukir Sejarah Masa Depan

  1. nurulhuda27
    April 23, 2013

    Reblogged this on NurulHuda27.

  2. Endang Wiedyastutie
    April 24, 2013

    Subhanalloh.. Maha Suci Alloh,,

  3. pengikatsurga
    April 28, 2013

    Saya menggarisbawahi ini; “ah dunia ini hanya fatamorgana, lantas buat apa saya memiliki mimpi dan ambisi?”, al qur’an memberikan petunjuk dalam perenungan qta, memisahkan antara dunia dan kehidupan dunia, dunia adalah alam yang dicipta Allah dengan kesungguhan dan manfa’at, adapun kehidupan dunia maka ia penuh tipuan

  4. ardika
    May 1, 2013

    Luar biasa!

  5. yolalpenapo
    May 17, 2013

    semangat 🙂

  6. oki_setiawan
    June 9, 2013

    Reblogged this on What The Next? and commented:
    sangkar besi tidak bisa mengubah rajawali menjadi burung nuri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on April 21, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,124 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: