Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Baca-Belajar-Merenung-Menulis


Den Haag 14 Juni 2013

the-thinker

Ceritanya saya baru saja mengakhir semua sesi perkuliahan saya untuk jenjang master ini. Sisa 1 semester terakhir akan dihabiskan dengen penelitian dan pengerjaan tesis sebagia syarat kelulusan. Tak terasa sudah 2 semester penuh peluh terlewati dan tinggal satu tahap lagi hingga semua ini berakhir.

saya mengakhiri sesi perkuliahan dengan 7 jam kelas marathon yang berisikan debat individual tentang dinamika politik-ekonomi dalam transformasi agraria. Singkat cerita, ada 4 paham besar yang bergulir di dunia saat ini; neoklasik, new-institutional economy, marxist dan neo-populis/chayanovian. Pola debat juga menarik, setiap mahasiswa membawa sebuah studi, lalu didebat oleh 18 mahasiswa lainnya selama 20 menit. dan itu bergilir hingga semua mendapatkan kesempatan.

menarik memang berkulah di sebuah kampus yang mendidik mahasiswanya untuk berpikir kritis, melihat konteks dalam memahami konten. Bahasa lainnya, perkuliahan di kampus ini penuh dengan disource analysis -yah itu bahasa kerennya-. Kami diajarkan ketika membaca sebuah tulisan; untuk mengecek siapa yang menulis, dari kampus apa, kapan dituliskan, dan apa yang pengaruhi dia untuk menulis hal tersebut. dari situ baru kita bisa analisa apakah tulisan seorang tersebut relevan untuk digunakan atau tidak.

sederhananya, ada seorang pakar yang sebelum tahun 90 adalah seorang marxist, dan setelahnya dia berubah jadi seorang neoklasik -cenderung neoliberal-. dosen kami mengatakan ‘people change, they might realise that they were wrong in the past, but the keep move, learn, and write’.

begitulah perkembangan ilmu pengetahuan di dunia ini. baca belajar merenung menulis belajar berkembang merenung berubah dan menulis lagi. mungkin seperti itu ya siklusnya. lebih lanjut kami diajarkan kalau tidak ada paham politik-ekonomi yang paling bagus saat ini. faktanya, tidak ada negara yang benar-benar seratus persen neoliberal atau lainnya. dunia telah mengkombinasikan berbagai pemikiran yang ada dan meramukan dalam sebuah sistem yang dianggap cocok untuk diterapkan.

yah sederhana aja, itu amerika yang koar-koar neoliberal, tapi negara mereka gak liberal banget pasarnya. masih ada intervensi pemerintah. atau cina yang klaim negara komunis, tapi mereka kapitalis sekali dalam menjalankan ekonominya, sampai membuat konsep ‘state-capitalism’. apakah dengan menjadi seperti itu cina dan amerika menjadi negara banci? menurut saya tidak. disitulah proses perkembangan pengetahuan umat manusia.

refleksi bodoh saya mengatakan, proses baca-belajar-merenung-menulis ini merupakan sebuah perputaran kehidupan yang menarik. setahun berkuliah saja di kampus ini, saya rasa ada perbedaan mendasar dalam pikiran saya dalam melihat fenomena dunia. apalagi bila proses ini dilakukan secara terus menerus tanpa terpaku oleh pendidikan formal.

bukankah manusia diberikan otak agar selalu berpikir, diberikan mata untuk membaca, diberikan tangan untuk menulis, dan diberikan hati untuk merenung?

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on June 14, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,691 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: