Menyegarkan Mimpi


Cipularang 20 Juli 2013

Ceritanya saya baru saja selesai mengikuti kegiatan pre-departure pelajar Indonesia yang akan ke Belanda tahun ini di Kedutaan Belanda. Sekitar 300 pelajar di acara tersebut, mereka mengenakan baju batik dengan penuh antusiasme untuk bisa belajar di negeri dengan tingkat pendidikan kelas dunia, di Belanda.

Tak terasa, hidup berlalu begitu cepat. Masih sangat teringat tahun lalu di waktu yang relatif sama, saya berada di posisi mereka. menjadi seorang yang sangat bergairah belajar di eropa, dan dengan penuh semangat mengikuti satu demi satu aktivitas yang difasilitasi oleh Nuffic Neso Indonesia.

Tahun lalu saya disambut, tetapi tahun ini saya mendapatkan kesempatan untuk memberikan sambutan atas nama PPI Belanda kepada mereka yang telah berjuang akan berbagai seleksi yang dilalui. Sebuah kehormatan untuk saya bisa berdiri bersama dengan mereka.

Dalam perjalanan pulang berjarak seratus dua puluh kilometer ini saya merenungkan kembali dan mencoba menyegarkan mimpi tentang mengapa saya akhirnya berangkat kuliah ke Belanda.

Buat sebagian orang yang dekat dengan saya, bisa jadi mereka tau betul kalau saya sangat ingin berkuliah ke Amerika. Hanya saja ketidaksediaan beasiswa membuat saya perlu memudarkan rencana tersebut. saya berpikir dan merencanakan ulang tentang studi saya.

akhirnya kesempatan itu terbuka ke negeri Belanda. Kerajaan Belanda bersedia mendukung rencana untuk lanjut studi ini. dan singkat cerita saya tiba di Belanda pada akhir agustus setahun silam.

saya katakan dalam diri, sudah terlalu banyak yang saya pertaruhkan untuk bisa berkuliah di luar negeri. sangat sayang buat diri saya bila hanya menjalani rutinitas hanya dengan buku dan pena. Hingga saya menguatkan diri saya, perlu ada pencapaian non-akademik yang mengiringi.

d

Alhasil, sebuah dinamika kehidupa baru saya alami dalam setidaknya setahun terakhir. menjadi seorang pelajar. menjadi pelayan organisasi. dan menjadi pemimpin keluarga. dan tak lupa menjadi pengelola diri sendiri. kalau boleh jujur pada diri, bisa jadi ini adalah fase paling menantang untuk diri saya dan telah memaksa saya meningkatkan kapasitas diri hingga batas mendekati akhir.

Refleksi bodoh saya mengatakan tiada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit. tiada potensi yang tak dapat dikembangkan, yang ada hanya diri yang tak kenal panggilan jiwa.

bukankah Sang Prima Causa menciptakan manusia dengan misi dan menitipkannya bersama dengan potensi agar manusia bisa dapat selalu berbagi?

‪#‎refleksibodohmahasiswaesdua‬

Advertisements

2 Comments

  1. Pingback: NurulHuda27

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s