Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Kapitalisme dan Fitrah Perkembangannya


images

 

Pariaman 7 Agustus 2013

 

Ceritanya salah satu kumpulan bacaan yang saya perlu baca dalam pengerjaan thesis saya adalah tentang kapitalisme dan variasinya, Kapitalisme yang telah berkembang sebelum abad 20 ini telah bertransformasi dengan apik. Ia tidak hanya menjadi paham ekonomi tetapi juga paham politik.

Setidaknya kita kenal kapitalis dalam bentuk si neo-klasik yang mengkampanyekan pasar bebas, ada si heterodox yang berpikir kalau pasar oke tapi intervensi sistem juga perlu, atau ada juga si neo-liberal yang berpikir kalau pasar harus bebas se bebasnya.

Menariknya dari kapitalis adalah mereka perlu punya kompetitor. Artinya, sistem ini akan berkembang biak bila persaingan semakin sengit. Dalam konteks persaingan pasar, kapitalis akan terpacu untuk melakukan setidaknya dua hal, yaitu sentuhan teknologi, dan diferensiasi produk/harga. Para kapitalis ini tak pernah kehabisan akal untuk bisa meraup keuntungan sebesar-besarnya.

Dalam dunia politik, kapitalis pun melakukan hal yang sama. mereka perlu punya kompetitor, berhubung di dunia politik maka bahasanya diganti dengan ‘musuh’ atau ‘ancaman’. Komunis pernah menjadi kompetitor bagi kapitalis, yang entah bagaimana ceritanya komunis berangsur menghilang hingga pada akhir 90an francis fukuyama pernah buat tulisan bertajuk ‘akhir dari sejarah’. alasan si fukuyama nulis ini adalha karena berpikir kapitalis telah menang dan tidak punya musuh, dan artinya akan berdampak pada akhir dari kapitalis itu sendiri.

tapi seperti yang saya utarakan, kapitalis ini cerdik dan tidak pernah mati gaya. di medio 90an mereka berhasil buat ‘musuh’ dan ‘ancaman’ baru, yaitu namanya teroris dengan rangkaian bom pemboman yang menyertai. teroris ini di upayakan agar terkesan menjadi ancaman bagi dunia, dan solusi bagi dunia adalah mengikuti tata kelola dunia baru yang di ajak oleh para kapitalis.

jelang akhir 2000an, mereka mulai sadar, kalau teroris ini mulai tidak menarik. karena osama bin laden diberitakan telah tiada. maka muncullah ‘ancaman baru’ bagi para kapitalis. yaitu para Islamis. istilah Islamis ini entah sejak kapan munculnya, dan mengkonotasikan mereka yang mendukung jihad dan anti demokrasi. Nah ini, hebatnya, wajah kapitalis kini agak mengumpat di balik tirai demokrasi. atas nama demokrasi, arab yang panas pun dipaksakan ada musim semi nya.

menarik memang melihat transformasi dari kapitalis ini. tentang krisis global bagaimana ? apakah itu tanda kapitalis bobrok? kalau kata Marx, krisis 10 tahunan memang merupakan sebuah fitrah dari ekonomi kapitalis global, dan krisis tersebut bertujuan untuk berantas usaha mikro- dan kecil- yang menjadi beban bagi kapitalis. Mereka lebih suka firma besar yang mengelola ekonomi, dengan alasan ‘efesiensi’.

Lantas bagaimana dengan negara berkembang? pada tahun 1949, Truman, presiden ke-sekian Amriki berpidato di acara pelantikannya. Ia (setidaknya diakui oleh dunia) mengusung apa yang disebut dengan istilah ‘developent’, Kata ini cukup sakti memang, karena setidaknya membuat kasta yang jelas antara negara. Ada mereka yang underdevelop, developing, dan develop. dan mereka yang develop itu di nilai sebagai negara modern, demokratis, pro-pasar bebas, cinta kemanusiaa, dan mendukung HAM. Setidaknya poin-poin ini telah berkembang menjadi indikator sebuah negara sudah ‘develop’ atau belum.

Apakah negara berkembang harus mengikuti apa yang negara maju lakukan? Mengutip kata profesor cambridge ha-joon chang ‘negara maju tidak pernah benar-benar mengajarkan apa yang mereka lakukan ke negara berkembang’. Kalau boleh sedikit menggelitik berbagai proyeksi institusi riset dunia yang menyatakan Indonesia akan jadi negara ekonomi bla bla di tahun ke sekian, bukankah mereka membuat laporan tersebut agar menarik perhatian Indonesia lalu memberikan konsultasi berbasiskan kebutuhan para kapitalis? Setidaknya bisa terlihat dari laporan mereka yang menyatakan Indonesia akan jadi pasar yang menggiurkan, sinisme saya mengatakan mereka akan sarankan agar Indonesia semakin membebaskan pasarnya.

Refleksi bodoh saya melahirkan setidaknya dua tawaran skenario kepada negara berkembang; pertama, bertindak secara kapitalis tetapi dengan membuat skema pembangunan berbasis kearifan lokal sebuah negara; kedua, dengarkan kisah Indah dari para kapitalis, tetapi tidak perlu lakukan apa yang mereka sarankan, kalau perlu lakukan sesuatu yang 180 derajat bertolak belakang.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on August 7, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,690 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: