Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Ilmu dan Jembatan Realita


Den Haag 12 Oktober 2013

knowledge

Ceritanya dua hari terakhir saya mengikuti rangkain konferensi ilmiah di kampus. tema yang diangkat dari pertemuan ini adalah bagaimana bisa menjembatani suara para pelaku pembangunan dunia; baik itu pakar, masyarakat, pemerintah, dan juga pasar.

Diskusi awal dalam pertemuan ini adalah tentang bagaimana kita memandang sesuatu; analogi ‘jembatan’ kerap digunakan oleh para pembicara. Ada jembatanyang berfungsing sebagai penghubung dua titik, penyambung kehidupan, pembatas dua wilayah, dan pemisah antara kelompok yang berdampingan.

Tidak semua upaya kita untuk ‘menjembatani’ ditangkap sesuai dengan keinginan kita. mengapa? karena seringkali kita menganggap diri ini berdiri di menara gading dan mampu melihat dengan pandangan burung ke sekeliling masalah yang ada. Kita terjebak pada istilah ‘integral’, ‘komprehensif’, ‘menyeluruh’, ‘makro’ dan ‘general’. seakan sesuatu yang luas itu adalah baik.

Itu tidak salah, tapi tidak bisa sepenuhnya benar. karena pada akhirnya perubahan itu selalu terjadi dari kelompok kecil, bahkan sangat kecil. ketika kita mau mengurai benang kusut tentu kita perlu memulai dari mengurai titik – titik kusut yang ada. dan setiap titik kusut ini punya tantangan mengurai yang berbeda.

sebagai seorang yang kini terjebak pada lingkungan akademia, saya kadang berpikir terlalu naif. sederhana saja, kerap kita berpikir kalau satu dua penelitian yang dilakukan bisa menyelesaikan masalah bangsa. kita selalu berpikir kalau ide kita bila dijalankan akan bisa membuat bangsa kita lebih baik. terkadang berbicara ngalor ngidul umum luas gak jelas lebih mudah ketimbang bicara detil kecil spesifik dan khusus.

di sisi lain saya juga berpikir kembali, kenapa saya perlu jauh-jauh kuliah ke eropa hanya untuk meneliti tentang Indonesia. jawaban yang selalu terlintas adalah ‘saya harus buktikan dan uji penelitian ini di depan para guru besar terbaik di dataran negara adidaya, baru itu menjadi sebuah hal yang bernilai’. ketika semua ilmu sosial dan ke-khas-an lokal negara-negara yang mereka sebut dunia ketiga di bawa ke negara maju untuk sekedar di ‘proof reader’; lantas dimana kedaulatan ilmu sebuah negara?

kembali ke urusan jembatan, lalu apakah setelah mendapat gelar dari kampus ternama kita jadi bisa membuat jembatan, atau bahkan sekedar melewati jembatan yang ada? pada titik ini saya hanya berani berkata jangan-jangan pada akhirnya para akademia hanya terjebak pada menganalisa jembatan dan lupa tugas utamanya yaitu ‘menjembatani’ jarak yang terbentang antara ilmu dan realita. yah atau setidaknya gelar tersebut sedikit bermanfaat untuk menjadi penyeimbang diri saat berusaha melewati jembatan tersebut.

Refleksi bodoh saya mengatakan terkadang kita lupa betapa tinggi nya orang berilmu. Dia Sang Pencipta, meninggikan derajat mereka yang punya ilmu. disini kita perlu bedakan antara ilmu dan gelar, apalagi sekedar nilai di transkrip. ilmu dalam konteks ini adalah ilmu yang bermanfaat dan di amalkan. ilmu yang mampu menghadirkan kehidupan lebih baik kepada umat manusia. bukan sekedar di tuliskan dan di diskusikan. itulah sebaik-baiknya ilmu yang dimiliki oleh manusia.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

One comment on “Ilmu dan Jembatan Realita

  1. alviancp
    October 13, 2013

    Halo kang ucup lama ga ketemu n diskusi malah ktmu di blog. Sy akan sering brkunjung disini utk tahu jalan cerita antara si bodoh dan kehidupannya. Hehe
    Singkat cerita skrg murid si bodoh ini jg sudah lulus dr kampusnya, dan dunia luar sedang dijajalinya. Jembatan demi jembatan sedang diamati. Ternyata memang dunia itu begitu kompleks, sejatinya yang bisa kita lakukan emang tidak banyak apalagi yang kita tinggalkan. Satu satunya jalan emang tetap merendah dan berusaha keras melejitkan potensi yang kita miliki utk dpt maksimal utk org lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 12, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,671 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: