Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Catatan Akhir : Perjalanan Setahun Ini


Den Haag, 5 Oktober 2013

1395170_3450828484728_1429507447_n
6 Oktober 2012, tanggal tersebut merupakan awal langkah kami dalam menyemai sejarah baru di PPI Belanda. Tidak perlu menunggu waktu lama, hanya berselang 10-15 menit setelah pelantikan Sekretaris Jendral, kami langsung membuat sebuah video pendek berisikan dukungan PPI Belanda kepada KPK. Video ini mendapatkan apresiasi besar dari publik, sebuah institusi statistik media menilai video ini merupakan peringkat ke-2 dalam hal pengunjung situs dengan tema dukungan terhadap KPK. Saat itu saya berpikir, menarik juga pola diseminasi aktivitas dengan social-media, bisa langsung memberikan manfaat dan pengaruh luas.

Pada akhir bulan Oktober 2012, tepatnya saat peringatan Sumpah Pemuda, PPI Belanda mengadakan kegiatan pertama-nya sekaligus perkenalan pengurus baru. Acara diadakan di rumah seorang mahasiswa di Utrecht, dilangsungkan dengan sangat sederhana, di isi oleh diskusi yang hidup, dan puisi yang menggetarkan hati. Pada hari itu pula pertama kali kepengurusan ini mendapat apresiasi dari rekan media berupa peliputan di radio dan pemberitaan di media online. Saat itu saya berpikir, menarik juga pola pergerakan semacam ini; sesuai dengan janji kampanye saya dulu, yaitu dengan menyelenggarakan kegiatan yang high-content, low-budget, and big-impact. 

Saya percaya PPI Belanda ini adalah organisasi yang bebas membangun jejaring dengan siapapun; selama itu tidak bertentangan dengan nilai yang dibawa. Bahkan lebih dari itu, PPI Belanda seharusnya dapat menjadianchor dari berbagai jejaring yang ada di Indonesia, Belanda, bahkan Dunia. Menariknya, salah satu jejaring awal yang kami bangun adalah dengan sahabat-sahabat undocumented worker  Indonesia di Belanda. Bahkan acara diskusi PPI Belanda selanjutnya mengangkat tema ‘hari pahlawan’ yang mengkhususnya kepada pahlawan devisi a.k.a migrant worker. Di Leiden, tempat acara tersebut di langsungkan, kami tersentuh dan terketuk ketika melihat perjuangan dari sahabat-sahabat undocumented worker  ini. Mereka memilih jalan ini bukan karena pilihan yang mereka inginkan, tetapi karena negeri kita belum bisa menjanjikan kehidupan yang baik. Saat itu saya berpikir, bagaimana cara PPI Belanda bisa berkontribusi untuk menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi Indonesia.

PPI Belanda kemudian mencoba melakukan tugas pokoknya sebagai ujung tombak pelajar Indonesia di Belanda, terutama dalam tiga hal; diseminasi ide dan gagasan intelektual, mengkritisi dengan bijak aktivitas pemerintahan Indonesia, dan sebagai duta Indonesia di luar negeri. Berbagai program kami coba luncurkan sebagai bentuk aktualisasi kami dalam memenuhi tugas-tugas pokok ini. Dimulai dari video penelitian mahasiswa doktoral, penggalangan dana untuk kegiatan sosial atau tanggap bencana, penyikapan isu-isu nasional dan internasional, serta menjadi penjaga nilai dari kebijakan pemerintah Republik Indonesia.

Tak terasa selama satu tahun, sudah beragam isu yang kami coba diskusikan dan berikan pernyataan sikap ke publik. Aktivitas ini adalah bentuk tanggung jawab moral PPI Belanda kepada Indonesia atas kesempatan lebih yang didapatkan dengan berkuliah di negeri kincir angin ini. Kepemudaan, Tenaga Kerja, Teknologi, Pangan, Politik, Kedaulatan Bangsa, Keilmuan Pendidikan, Papua, Hukum, Ketahanan Bangsa, Banjir Kota, dan Korupsi; itulah ragam bahasan yang pernah menjadi buah bibir dan tema diskusi antar pelajar Indonesia di Belanda dalam setahun terakhir.

Kami belajar tahun ini, bahwa media adalah kunci utama dalam menyatukan rasa kekeluargaan di dalam lingkungan PPI Belanda dan juga mempromosikan Indonesia kepada dunia. Media merupakan kekuatan utama PPI Belanda tahun ini, dengan integrasi media berupaa portal website dan sosial media; memberikan PPI Belanda kesempatan untuk secara rutin setiap harinya memberikan informasi terkini, wawasan terbaru, pandangan segar, dan cerita menarik yang harapannya bisa membuat Indonesia selalu tersenyum

Kami juga menilai bahwa peran sebagai duta bangsa di luar negeri sangat penting untuk selalu di kembangkan. Baik melalui program festival seni budaya, penelurusan jejak pendiri bangsa di Belanda, berkirim pesan surat kepada putera-puteri harapan Indonesia di pelosok negeri, atau sekedar menggunakan Batik di hari Batik Nasional. Tidak perlulah berpikir terlalu rumit untuk mengekspresikan nasionalisme, pada akhirnya segala sikap positif kita di negeri orang ini sudah menjadi sebuah bekal yang baik untuk menunjukkan bahwa kita cinta Indonesia.

Hubungan PPI Belanda dengan KBRI Den Haag bisa dikatakan mesra, banyak sekali kolaborasi egaliter yang terjadi tahun ini. Sikap saling menghargai dan menghormati adalah kunci dari hubungan baik ini. Kerjasama ini berbuah berbagai acara bersama dan berlangsung sangat sukses. Hubungan simbiosis mutualisme adalah semangat yang perlu di jaga. Karakter PPI Belanda yang kritis, cerdas, dan santun adalah pendekatan yang selalu kami gunakan. KBRI selalu memberikan kesempatan kepada PPI Belanda untuk mengkritisi seluruh kebijakan pemerintah, termasuk memfasilitasi pertemuan dengan pejabat negeri yang hadir. Dalam berbagai pertemuan yang dilangsungkan, PPI Belanda kerap dengan bijak mengkritisi berbagai kebijakan yang ada, namun dengan kesantunan, segala kritik ini bisa dicerna pula dengan bijak. Saya sendiri melihat, ada faktor keterbukaan dan ketulusan dari Duta Besar Indonesia untuk Kerajaan Belanda dan juga Atase Pendidikan dan Kebudayaan, Tak berlebihan bila saya mengatakan Duta Besar adalah ‘emak’ dari pelajar Indonesia di Belanda.

PPI Belanda adalah organisasi yang ditakdirkan menjadi organisasi besar. Sehingga sudah sangat wajar bila anggota dan pemimpinnya memiliki jiwa dan pikiran yang besar. Mengelola organisasi yang telah menjadi sejarah penting dalam kemerdekaan Indonesia adalah sebuah tantangan moral tersendiri, sebuah pertanyaan kerap muncul dalam diri saya; ‘sejarah apa yang telah kami torehkan?’

Tahun 1926-1927, saat Bung Hatta menjaid Ketua Perhimpunan Indonesia, beliau membuat sebuah buletin bulanan bertajuk ‘Indonesie Vrij’ atau Indonesia Merdeka. Pada akhir kepengurusan beliau, kumpulan buletin ini menjadi sebuah buku yang berisikan semangat Indonesia, meski saat itu Indonesia belum ada. Kami mencoba belajar dari pengalaman tersebut, dengan membuat rangkaian Lingkar Inspirasi hingga 8 serial dan ditutup dengan sebuah Konferensi Ilmiah Berskala International yang mengangkat tema ‘pembangunan Indonesia’.

Apa yang Bung Hatta dan kawan-kawan tuliskan dan pikirkan pada 1927 ternyata berbuah nyata pada 1945. Tak sampai 20 tahun hingga gagasan dalam kertas itu berbuah menjadi sesuatu yang bisa dirasakan bersama. Kami pun percaya, 20 tahun lagi, semua ide, gagasan, tulisan, dan catatan tentang ‘pembangunan Indonesia’ ini bisa dirasakan oleh seluruh rakyat Indonesia tanpa terkecuali. Indonesia menjadi negara adidaya bukanlah pilihan ya atau tidak, ini hanyalah tentang pilihan waktu saja. Dan kitalah sebagai generasi pembaharu yang akan mewujudkan semua mimpi besar ini. Saya percaya, tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanya usaha yang terlalu sedikit.

Terkadang, saat melihat pemberitaan kebobrokan integritas pemimpin negeri ini, saya berpikir ‘apa yang salah dari Indonesia dan apa yang perlu dilakukan untuk menyelamatkan Indonesia?’. Ketika para penegak hukum ternyata adalah pelaku utama yang melakukan pencabulan hukum, lantas kemana keadilan bisa dicari? Tentu kita tak aka nada habisnya bila selalu mengutuk kegelapan, sehingga marilah kita terus nyalakan api obor pembaharuan untuk menerangi gelap tak berujung ini.

Akhirnya, menjadi pelayan di PPI Belanda memberikan kami pengalaman berharga untuk selalu mencintai kawan-kawan yang kita pimpin. Tanpa cinta, tak mungkin ada ketulusan untuk selalu mendengar dengan hati. Tanpa cinta, sulit hadir energi untuk terus berkorban demi organisasi pelajar tertua ini. Tanpa cinta, sulit rasanya bisa hadir dengan senyuman diantara kawan-kawan yang penuh semangat menyelenggarakan ragam aktivitas. Tanpa cinta, saya tak yakin kita bertahan hingga akhir kepengurusan.

Kita terus nyalakan api obor PPI Belanda dan buat Indonesia selalu tersenyum

SekJend PPI Belanda 2012-2013

6 Oktober 2012-5 Oktober 2013

Ridwansyah Yusuf Achmad

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 16, 2013 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,227,326 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: