Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Hasrat Intelektual : Pembelajaran, Pembaharuan, Kemerdekaan


Den Haag 3 Oktober 2013

901586_173643036121721_616265202_o
Kata hasrat intelektual pertama kali saya gunakan saat kampanye SekJend PPI Belanda setahun silam. Kata yang tiba-tiba top-up  dipikiran saya ini ternyata menjadi salah satu andalan yang seringkali saya gunakan dalam berbicara maupun dalam menyusun rencana kerja. Tak bisa di pungkiri, kata inilah yang mengusik benak saya sebelum maju sebagai SekJend PPI Belanda. Kenapa PPI Belanda belum banyak terdengar akan kiprahnya dalam hal ekspresi intelektualnya. Sebagai seorang pelajar di Indonesia –dahulu- yang melihat PPI adalah entitas hebat dan bisa memberikan banyak solusi, saya semakin sedih apabila kenyataannya PPI khususnya PPI Belanda belum bisa berperan banyak dalam hal ini.

Ekspresi hasrat intelektual bisa di wujudkan dalam beragam bentuk, baik itu tulisan, lisan, rekaman, maupun sebuah catatan pemikiran atau penelitian. Divisi Kajian Strategis dan Keilmuan ini dibentuk sebagai bagian strategi mewujudkan lahirnya dinamika hasrat intelektual di lingkungan PPI Belanda. Dengan setidaknya 3 pendekatan, yaitu diskusi rutin dengan judul ‘lingkar inspirasi’, dokumentasi hasil penelitian mahasiswa dalam ‘bank thesis’, dan penyikapan isu atau kebijakan terkini di Indonesia maupun dunia.

Lingkar Inspirasi lahir dari pengalaman pendiri-pendiri PPI Belanda (saat itu Perhimpunan Indonesia) yang gemar berkumpul dan berdiskusi ide-gagasan untuk Indonesia merdeka. Mereka memiliki satu semangat yang mengikat saat itu, yaitu mempromosikan Indonesia. Apa yang dilakukan dalam 8 rangkaian lingkar inspirasi ini adalah bentuk usaha PPI Belanda untuk kontribusi dalam memberikan gambaran para pelajar bagaimana pembangunan Indonesia perlu dilakukan. Lingkar Inspirasi dimulai dengan sebuah diskusi sederhana yang dihadiri oleh kurang dari 30 peserta, namun animo-nya terus meningkat dan dalam beberapa serial dihadiri oleh lebih dari 150 peserta yang antusias untuk duduk bersama membangun visi Indonesia kedepan.

Bank Thesis yang di launch sekitar akhir tahun 2012 pun telah mulai mendapatkan tempatnya. PPI Belanda terus berupaya mengumpulkan abstrak dari thesis dan disertasi mahasiswa Indonesia di Belanda agar bisa menjadi manfaat bagi pelajar Indonesia di berbagai belahan dunia. Tercatat, sekitar 500-an pelajar Indonesia hadir di Belanda setiap tahunnya, bila mereka konsisten mengirimkan abstraknya selepas wisuda kepada PPI Belanda; dalam 4 tahun, Bank Thesis PPI Belanda akan menjadi rujukan berharga dalam pengembangan keilmuan Indonesia.

Berbagai penyikapan secara berkala maupun reaktif diberikan oleh PPI Belanda. Dengan berpegang pada prinsip kritis, cerdas, dan santun. Saya melihat PPI Belanda telah memiliki posisi tersendiri sebagai salah satu rujukan dalam penyikapan isu terkini. Bisa jadi forum diskusi yang bersifat informal dan lokal dapat ditingkatkan frekuensinya, dengan catatan tentunya; segala diskusi tersebut perlu di dokumentasikan dalam tulisan dan di publikasi secara luas.

Pada akhir kepengurusan, PPI Belanda menyelenggarakan konferensi ilmiah berskala internasional yang kami beri nama international conference on Indonesia Development (ICID). Konferensi ini mendapat banyak apresiasi dari para peserta, pembicara, maupun mereka yang hanya melihat dari luar. Apa yang menjadi kunci dari konferensi ini, pertama adalah keunggulan kelas intelektual dan ilmiah-nya; 3 tahap seleksi paper  yang juga di topang oleh Scientific Committee yang  berkualitas membuat banyak pelajar berminat hadir. Karena menilai ini bukan konferensi ecek-ecek, ada bobot ilmiah yang tinggi dan menjadi daya tarik. ICID memang di desain sebagai pertemuan yang murni ilmiah, tidak banyak embel-embel  kegiatan tambahan seperti acara budaya atau pentas seni; karena kami melihat konferensi ilmiah perlu dikelola dengan cara dan budaya akademik yang bercita rasa tinggi.

Menimbang ICID 2013 telah memiliki tempat di kalangan intelektual muda, khusus nya pelajar Indonesia di luar negeri, sudah sepantasnya, konferensi semacam ini terus di lanjutkan di tahun mendatang dengan ragam tema yang disesuaikan. ICID adalah training ground  yang sangat efektif bagi para sarjana muda untuk bisa mengekspresikan gagasan dari penelitiannya. Dan karena djuga dikemas dalam label PPI, maka ada nuansa pergerakan intelektual juga di dalamnya.

Banyak yang mengatakan generasi saat kepemimpinan Bung Hatta dan kawan-kawan adalah generasi terbaik. Kita hadir tahun ini tidak untuk ‘mengalahkan’ generasi tersebut, melainkan untuk menghadirkan kembali ruh dari generasi itu ke generasi kita saat ini. Apa saja ruh tersebut? Saya melihat setidaknya ada tiga ruh yang perlu kita hadirkan dan telah kita upayakan untuk hadir dalam satu tahun terakhir.

  • Pertama, Ruh Pembelajaran. Belajar untuk peduli dan peka akan tantangan bangsa, belajar mencintain Indonesia, belajar untuk merangkai senyum Indonesia.
  • Kedua, Ruh Pembaharuan. Tak pernah puas akan keadaan saat ini dan selalu mencari ide baru dalam memperbaharui pembangunan Indonesia.
  • Ketiga, Ruh Kemerdekaan. Merdeka dari penjajahan politik, ekonomi, dan sosial. Bila kita bisa merdeka dari tiga hal ini secara utuh, barulah kita bisa dengan lantang mengatakan Indonesia merdeka.
Hasrat intelektual yang menggelora adalah prasyarat yang perlu di miliki oleh pelajar. Bukan bermaksud berlebihan, sebagai sebagian kecil dari rakyat Indonesia yang bisa menikmati bangku pendidikan, sudah sewajarnya kita selalu berpikir keras dan bertindak serius dalam segala upaya membuat Indonesia lebih baik.

Dimulai dari diskusi warung kopi hingga berujung pada perubahan nyata. Dimulai dari obrolan ngelantur  di perjalanan kereta hingga menjadi ide berkeliaran di media massa. Dimulai dari celoteh seminar ilmiah dan berbuah pada kesejahteraan rakyat. Dimulai dari bangku kuliah, kita akan bersama menggetarkan bangku Istana Negara.

‘hanya satu tanah yang dapat disebut Tanah Airku, ia berkembang dengan usaha dan usaha itu ialah usahaku..’ Rene de Clerq – dikutip oleh Bung Hatta dalam pleodei nya di Persidangan di Den Haag 
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 16, 2013 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,217,349 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: