Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Menyalakan Obor Kebangkitan Pemuda Indonesia


Den Haag 3 Oktober 2013

197804_191614644324560_1654473952_n

Jika tidak ada kesukaran, tidak ada kesuksesan. 
Jika tidak ada sesuatu yang diperjuangkan, tidak ada yang akan dicapai
-Edmund Burke-

Pada tahun 1926, Bung Hatta menyampaikan sebuah orasi politik yang terkemuka ketika beliau dilantik sebagai Ketua Perhimpunan Indonesia, orasi yang berjudul  ‘The Structure of Global Economy and the Conflict of Power’ini menekankan pentingnya kemandirian Indonesia dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Saat itu, Bung Hatta bahkan menyampaikan sikap yang tegas tentang kemerdekaan Indonesia sebagai harga mati atas perjuangan yang beliau dan rekan-rekannya lakukan di dalam dan luar negeri.  Orasi politik ini berlanjut dengan diterbitkannya majalah ‘Indonesia Merdeka’ sebagai salah satu bentuk ekspresi perjuangan dan diplomasi yang dilakukan oleh pemuda.

Kurang dari 20 tahun sejak orasi tersebut, Indonesia meraih kemerdekaannya. Identitas sebagai ‘Indonesia’ berhasil dibentuk dan menjadikan bangsa ini memiliki sebuah negara yang berdaulat. Apa yang diraih pada tahun 1945 adalah buah dari proses panjang. Menariknya, sejarah Indonesia mencatat, peran pemuda kala itu sangatlah signifikan. Kala, generasi tua lebih memilih untuk menunda kemerdekaan, hasrat besar tentang kemerdekaan memaksa pemuda melakukan manuver untuk mendesak agar kemerdekaan segera diproklamirkan. Ketika, generasi tua berpikir hanya terbatas daerahnya, pemuda telah lebih dulu memiliki identitas ke-Indonesia-an dan merobek semua batas kedaerahan.

Kini, 67 tahun sejak Indonesia merdeka atau 87 tahun sejak Bung Hatta menyampaikan orasi politiknya. Bentuk perjuangan berubah, namun tidak ruh dari perjuangan itu sendiri. Salah satu kunci dari keberhasilan pergerakan pemuda adalah peran kelompok terdidik. Ada sebagian dari pemuda Indonesia yang berkesempatan untuk menempuh pendidikan di Belanda. Hebatnya, mereka tidak hanya belajar dan menyerap ilmu, tetapi melakukan diplomasi tingkat tinggi hingga berhasil mengibarkan nama Indonesia ke permukaan dunia. Bung Hatta di Belanda dan Bung Karno di Indonesia, tanpa menepis peran dari tokoh lainnya, dua tokoh ini menjadi  pilarpergerakan di luar dan dalam negeri.

Dari sini kita bisa belajar, bahwa sejarah kembali mencatat, separuh kekuatan pemuda berada di luar negeri. Pendiri bangsa ini telah menyalakan obor perjuangan pemuda, kini obor itu diestafetkan kepada kita, pemuda Indonesia saat ini.

‎”Kesadaran adalah matahari. Kesabaran adalah bumi. Keberanian menjadi cakrawala
Dan perjuangan adalah pelaksanaan kata-kata”
-W.S. Rendra-

Pergiliran kepemimpinan itu sebuah keniscayaan, dan merujuk pada WS Rendra, kepemimpinan itu adalah manifestasi dari kesadaran, kesabaran, keberanian, dan perjuangan. Sadar bahwa dirinya adalah bagian dari rakyat dan berkomitmen untuk mewakafkan dirinya untuk rakyat. Sabar akan segala rintangan dalam proses berkontribusi untuk negeri. Berani mengatakan yang benar sebagai kebenaran.Dan berjuang untuk selalu mempertahankan api kemerdekaan Indonesia.

Apa kabar Indonesia?
Indonesia kini tercatat sebagai salah satu negara dengan ekonomi terkuat di dunia. Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada tahun 2012 adalah sekitar 920 milliar dollar (USD) yang merupakan terbesar ke-17 di dunia. Konsultan ekonomi global memproyeksikan Indonesia sebagai negara ke-7 ekonomi terkuat pada tahun 2030 dengan 113 juta kebutuhan tenaga kerja terampil dan potensi 135 juta masyarakat kelas menengah. Ironisnya, statistik menunjukkan 50% rakyat Indonesia hidup dengan penghasilan kurang dari USD 2 per hari, dengan tingkat pengangguran 7% dari jumlah penduduk usia kerja dan 62,71% ekonomi Indonesia digerakkan oleh sektor informal

Apa Kabar Pemuda?
Otokritik untuk pemuda Indonesia saat ini perlu disampaikan, kita harus menerima kenyataan bahwa kita berada pada kondisi yang tidak begitu menggembirakan. Pemuda tampak ‘sedang tidur terlalu lama’. Sebagian dari Indonesia muda memiliki kecenderungan skeptis tentang negara ini, dan hanya peduli dengan belajar untuk hidup sejahtera bagi  pribadinya sendiri. Sudah saatnya pemuda berpikir lebih dari itu, kepedulian itu tidak hanya untuk diri sendiri dan keluarga, tetapi juga perlu menyisihkan kepedulian kepada masyarakat sekitar. Bila individualistis dibawa ke dalam kehidupan berbangsa, maka permasalahan akan bermunculan. Pemuda perlu membuktikan kepedulian sosial mereka, terutama mereka yang terdidik, sebagaimana pendahulu kita mencontohkan.

Namun keadaan yang ada ini bukan untuk menjadikan kita pesimis tentang masa depan Indonesia. Sebagaimana judul dari tulisan ini, kita nyalakan obor kebangkitan pemuda Indonesia. Setidaknya terdapat 3 potensi pemuda Indonesia saat ini, yaitu pemuda kini adalah seorang native democracy, pemuda lebih terkoneksi, dan banyaknya pemuda yang menempuh pendidikan di luar negeri.

Pemuda saat ini adalah hasil dari rahim reformasi tahun 1998, sebagian dari pegiat muda Indonesia adalah mereka yang tidak merasakan langsung otoriternya Orde Baru. Mereka tumbuh dan mengenal dunia ketika demokrasi telah menjadi bagian dari kehidupan. Sehingga, suasana represif dan anti-kebebasan tidak pernah benar-benar dialami. Saya menggunakan istilah native democracy, untuk menggambarkan kelekatan pemuda dengan demokrasi saat ini. Sebagai perbandingan, saya menggunakan istilah migrant democracy untuk para generasi sebelum kita. Mereka hidup dan tumbuh dalam keadaan represif dan kini dipaksa untuk menjalani demokrasi. Sehingga banyak mereka hanya seperti ‘anggur lama di botol yang baru’.
Pemuda saat ini sangat lebih mudah terkoneksi dengan sesama pemuda di dalam dan luar negeri. Keterkaitan gerakan pemuda di dalam dan luar negeri perlu menjadi perhatian tersendiri.. Sebagaimana Bung Hatta dan Bung Karno yang secara sinergis melakukan berbagai eskalasi perjuangan menuju kemerdekaan. Kala itu belum ada jejaring dunia maya yang bisa menghubungkan antar-benua.Kini dengan perangkat teknologi dan komunikasi yang semakin muktahir, seharusnya kita mampu memberikan yang lebih baik untuk perubahan negara.  Sudah saatnya pemuda tidak lagi bicara tentang ‘aku’ dan ‘kelompok aku’, melainkan ‘kita’ sesama Indonesia Muda.

Lebih banyaknya jumlah pemuda yang menikmati pendidikan di luar negeri juga menjadi sebuah prestasi tersendiri. Kemendikbud mencatat sekitar 50.000 pelajar Indonesia terpencar di berbagai belahan dunia, ini belum termasuk mereka yang bekerja atau berbisnis. Jelas, jumlah yang besar ini adalah potensi yang sangat menjanjikan. Tantangannya adalah, potensi besar ini belumlah terkelola dengan baik. Masih banyak pemuda yang lepas studi bingung akan bagaimana cara berkontribusi di Indonesia. Perhimpunan Pelajar Indonesia memiliki peran strategis untuk menghimpun potensi yang berserak ini.

Obor yang menyala terang itu sekarang berada di tangan generasi muda. Tugas kita sebagai progressive minority yang senantiasa bergerak untuk memastikan obor ini selalu menyala dan membangkitkan hasrat perjuangan pemuda Indonesia. Kebangkitan pemuda adalah kebangkitan sebuah negeri. Bila pemuda mampu sadar, sabar, berani, dan berjuang untuk bangsa, maka tinggal menunggu momentum yang tepat hingga kemandirian bangsa itu terwujud.

Bahkan, saya sangat percaya momentum bukan sesuatu yang ditunggu, melainkan sesuatu yang bisa direncanakan. Teringat rumus fisika, momentum adalah perkalian dari massa dengan  kecepatan. Bila kita bisa memperbanyak jumlah pemuda yang menjadi bagian progressive group dan mendorong agar berlari lebih kencang, maka momentum itu akan hadir menghampiri perjuangan pemuda.

Kini, Indonesia dalam posisi positive demographic transition,pakar demografi bahkan melihat potensi baby booming  dari Indonesia hingga mencapai 330 juta jiwa. Artinya kita akan memiliki lebih banyak generasi produktif dalam 10-20 tahun kedepan. Jumlah penduduk yang besar jelaslah sebuah prasyarat untuk menjadi negara maju. Tantangan untuk pemuda saat ini adalah bagaimana memastikan rakyat Indonesia bisa memiliki penghidupan yang layak serta memiliki kesadaran akan tanggung jawab sosialnya.

Obor itu selalu menyala, dan Obor itu akan semakin menyala bila pemuda semakin bangkit dan berdiri tegak. Obor itu adalah kamu kawan! Pemuda Indonesia.

Advertisements

2 comments on “Menyalakan Obor Kebangkitan Pemuda Indonesia

  1. fauz1l
    October 16, 2013

    Reblogged this on Berbagi ilmu yang semoga bermanfaat and commented:
    nutrisi pergerakan pemikiran

  2. haidaralishahab
    August 12, 2014

    Reblogged this on haydarshahab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 16, 2013 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,671 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: