Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

‘pengadilan kecil’ di dunia


Den Haag 16 Oktober 2013

immigration stamp

Ceritanya beberapa waktu lalu saya menerima sebuah kiriman pos yang berisikan passport saya yang telah ditempelken stiker visa sebuah negara yang kini terancam gagal bayar hutang.

Teringat ketika pertama kali memulai mengisi aplikasi online visa-nya. Saya perlu menghabiskan waktu sekitar 1 jam untuk mengisi puluhan pertanyaan yang menurut saya amat-sangat-terlalu detail. informasi tentang keluarga, saya kemana saja selama 5 tahun terakhir, dan pertanyaan YES/NO seputar apakah saya pernah terlibat aktivitas human trafficking, senjata kimia, nuklir, terorisme, imigran gelap, pencucian uang, dan sebagainya. Singkat kata sih, semua jawabannya NO, cuma sebagai pengisi aplikasi yang baik saya harus baca setiap kalimat dengan baik.

Kemudian saya menghubungi kantor konsulat negara ini di Belanda untuk membuat janji wawancara; mereka meminta saya datang 1 pekan kemudian. dalam telepon mereka katakan ‘semua perangkat elektronik tidak boleh di bawa’. Saya saat ini hanya katakan iya saja dengan asumsi ‘tidak boleh bawa masuk ruang wawancara’.

Saya pun menyiapkan semua dokumen dengan baik. tabel checklist dokumen saya gunakan dengan baik. berharap tak ada satupun dokumen mendukung bahwa saya ‘eligible’ untuk masuk negara tersebut. dari surat kampus, surat sponsor, rekening bank, itinerary detail, asuransi, dan sebagainya. rasanya banyak bener yang saya bawa saat itu.

saya pun pagi itu datang ke konsulat mereka dengan tetap membawa telepon genggam saya. berkaca pada pengalaman pernah buat visa ke negara barat lain, saya berpikir; nanti di titip di locker saja tas dan telepon genggam saya.

dan ternyata… tidak ada locker disana. dan sekuriti konsulat hanya berkata ‘perangkat elektronik perlu di cek oleh kami, bisa berakibat pada penundaan bahkan pembatalan waktu wawancara kamu; silahkan cari tempat yang sesuai untuk menaruh benda tersebut, dan jangan disembunyikan di semak-semak’.

well .. okay.. saya harus berpikir. saya coba celingak celinguk liat ada tempat mana yang bisa dititip di sekitar situ. saya coba ketok box polisi di depan konsulat; mereka bilang mereka tidak bisa menjaga tas saya. lalu saya menemukan sebuah sekolah, mendatangi penerima tamu nya dan memohon dengan muka memelas. lalu dengan senyum si penerima tamu mengatakan ‘kamu bukan orang pertama yg melakukan ini, silahkan taruh tas kamu disini’.

saya pun kembali ke gedung konsulat dan si sekuriti bertanya pada saya ‘kamu tadi sudah diantrian, tadi kamu kemana?’ saya bilang ‘saya nitip tas saya di sekolah itu’, dan dia malah marah ‘kok kamu merepotkan tetangga kami?’ lah.. saya jadi esmosi donk ‘lah, kamu tidak menyediakan locker disini, jangan salahkan saya donk, saya perlu bawa telepon genggam karena saya harus selalu terhubung dengan keluarga saya’. lalu dengan muka betay si sekuriti memeriksa saya dan mengizinkan masuk untuk wawancara.

proses menunggu saya tidak terlalu lama, hanya 5 menit duduk lalu dipanggil untuk memasukan dokumen pendukung. disana dilakukan cek sidik jari dan pembayaran visa. kemudian saya diminta duduk untuk menunggu giliran interview, sekitar 5 menit lagi saya menuggu kemudian saya dipanggil untuk wawancara yang juga tak sampai 5 menit. cuma ditanya mau ngapain, kemana aja, istri dimana dan apa aktivitas, kuliah kamu tentang apa di Belanda. sepertinya hanya sekedar pertanyaan random untuk cek silang apa yang telah saya isi di aplikasi online.

dan ajaibnya, setelah proses pertanyaan basa-basi itu selesai; dia langsung bilang ‘okay, your application is fine, we will send the passport and the visa in 3-4 days to your address’. eh.. saya kan kaget ya, kok cepet banget. trus saya tanya ‘ini artinya saya dapat visa nya?’ dia dengan senyum bilang ‘yes Sir, enjoy your stay there’.

kekagetan saya dengan alasan sebenarnya, karena kadang saya berpikir saya tidak ‘eligible’ buat dapat visa negara tersebut. Maklum diri ini pernah terlibat aksi sosial menentang penjajahan sekutu abadi negara tersebut di timur tengah. baik itu di Indonesia maupun ketika di Belanda. yang di Indonesia bahkan di depan kedutaan mereka hehe.

hari itu adalah Rabu. berarti akan tiba antara senin atau selasa pekan depan. hari senin saya cek di internet, sudah sampai mana pos tersebut. di internet katanya sudah tiba. saya telepon ke kantor pos katanya sudah ada yang nerima. tapi kok di kotak pos saya tidak ada. paniklah diriku jadinya.

alhasil, saya datengin penjaga asrama, dia tidak tau. saya datangi sekuriti kampus juga tidak tau. sampai saya teringat, saya kan punya kotak surat di dalam kampus; dan ternyata ya memang ada disana. pos sudah tiba sejak jumat dan karena saya tidak ditempat jadi diantar ke sana.

saya jadi berpikir, untuk bisa masuk ke sebuah negara yang katanya ‘mimpi masa depan ada disana’ saja kita menyiapkan dengan baik. kita mencoba memastikan tidak ada kekurangan apapun agar si ‘pengadil’ dapat memberikan label ‘layak masuk’. itu padahal baru ‘pengadilan kecil’ di dunia; lantas apa yang telah kita siapkan untuk ‘pengadilan besar’ di akhirat?

Refleksi bodoh saya mengatakan manusia kadang terjebak pada proses dan dampak yang hanya terjadi di dunia. dan terlupa bahwa ada proses dan dampak yang lebih besar di kehidupan akhirat kelak. bila untuk sekedar masuk ke sebuah negara kita mau berkorban dan mengusahakan banyak hal. apakah yang kita usahakan dan kita korbankan sudah sebanding untuk bisa masuk ke Surga-Nya?

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

2 comments on “‘pengadilan kecil’ di dunia

  1. lazione budy
    October 17, 2013

    Keren banget pengurusannya. Simple ga ribet.

  2. alviancp
    October 17, 2013

    Cerita yg sama yg saya dapatkan ketika ada org mau masuk toilet di pasar. Sebelum dia msk ada plang bertuliskan “kencing/BAB 1000 rupiah” setelah selesai menunaikan hajat. Org itu keluar memberikan uang seribu dan menangis.
    Ia tertegun utk masuk tempat sekotor n najis saja mesti bayar apalagi masuk ke Surga Allah..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 16, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,251 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: