Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

PPI untuk Indonesia


Den Haag, 3 Oktober 2013

ryv_6900
Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI), begitulah mereka menyebutkan istilah bagi organisasi pelajar Indonesia di luar negeri. Ada yang melihat PPI sebagai embrio harapan masa depan nusantara, ada pula yang mencibir sebagai kumpulan manusia Indonesia yang terlalu nyaman tinggal di luar negeri dan enggan pulang. Atau bisa jadi PPI adalah momok untuk pejabat pemerintah yang melakukan kunjungan ke luar negeri. Apapun kata orang, buat saya PPI adalah sebuah kawah candradimuka para pejuang perubahan Indonesia.

Sejak sebelum kemerdekaan 1945, pergerakan pelajar di luar negeri telah menjadi salah satu kekuatan penting dalam manuver politik serta mengkampanyekan Indonesia sebagai negara yang berhak memiliki kedaulatan. Bermula di Belanda sejak 1908, Indische Vereeniging atau Perhimpunan Hindia didirikan sebagai sebuah wadah perlawanan terhadap kolonialisme barat yang berkepanjangan. Gerakan perlawanan bersifat intelektual, begitulah pola gerakan yang dibangun, melalui kajian mendalam, tulisan yang tajam, kampanye terbuka, serta lobi di forum terkemuka. Ragam gerakan ini bertemu dengan potensi terbaik Indonesia yang pernah mencicipi pendidikan kelas dunia di negara barat. Sebutlah Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Achmad Subardjo, dan Ali Sastroamidjojo; nama-nama besar ini telah melakukan berbagai perlawanan intelektual yang membuat dunia semakin sadar akan keberadaan Indonesia dan peduli akan bahaya sistemik kolonialisme terhadap perdamaian dunia. Perlawanan yang dilakukan oleh pelajar Indonesia kala itu bukanlah sekedar melawan ‘belanda’, lebih besar dari itu, mereka melawan pengukungan intelektual, penjajahan sumber daya, dan penindasan kedaulatan.

Bila merujuk pada apa yang telah dilakukan oleh pendahulu di ‘PPI’, setidaknya ada 3 karakter dari perjuangan mereka, yaitu intelek, ekspresif, dan bebas. Intelek dalam artian segala aktivitas dibangun dengan fondasi pemikiran yang mendalam, bukan sekedar pencitraan. Ekspresif dalam makna kreatif dalam memanfaatkan ragam media untuk mengungkap kebenaran. Bebas dalam pengertian tidak ada koptasi kepentingan tertentu, murni sebuah dedikasi untuk negeri.  Sudahkan PPI menjadikan tiga karakter ini melekat dalam pengembangan organisasinya?

‘PPI’ dulu telah membuat sejarahnya sendiri, Indonesia merdeka adalah hasil nyata dari perjuangan tersebut. Pertanyaan yang muncul kini adalah, apa yang bisa diperbuat oleh PPI saat ini untuk Indonesia? Apakah dengan berbicara keras di depan kamera mengecam wakil rakyat atau menghabiskan ratusan juta rupiah untuk sekedar pertemuan seremoni merupakan suatu bentuk kontribusi nyata untuk Indonesia? Mungkin akan banyak perbedaan pendapat dalam menilai hal ini, tetapi jawaban saya adalah ‘tidak’.

Saya melihat setidaknya ada 3 pola gerakan yang bisa dilakukan oleh PPI untuk Indonesia saat ini, yaitu Gerakan Politik Moral, Gerakan Narasi Intelektual, dan Gerakan Diplomasi Sosial budaya.

Gerakan Politik Moral
Gerakan politik merupakan bagian tak terpisahkan dari aktivitas PPI. Sejarah banyak mencatat bagaimana peran PPI dalam dinamika politik Indonesia bahkan dari era sebelum kemerdekaan. Apa yang dilakukan Bung Hatta dan kawan-kawannya adalah bagian dari manuver politik di tingkat internasional, dan PPI juga pernah menjadi aktor ulung dalam menyuarakan kritikan dan sikapnya akan dinamika pemerintahan Indonesia.

Politik dalam aktivitas PPI bukanlah politik praktis yang rentan ter-koptasi oleh kepentingan tertentu. Melainkan politik moral, yaitu politik yang berlandaskan sebuah tanggung jawab sosial kepada rakyat Indonesia. PPI menyampaikan argument politiknya dengan basis apa yang rakyat butuhkan, bukan apa yang transaksi politik inginkan.

Politik moral ini adalah buah dari eratnya intelektualitas dan integritas seorang pelajar. Kedua nilai yang merupakan prasyarat seorang pelajar paripurna. Pelajar berpolitik dalam rangka mengingatkan pemimpin, mencerdaskan masyarakat, dan berkontribusi dalam membangun kontribusi yang berkualitas.  Berpolitik moral tidaklah perlu masuk ke arena politiknya, tetapi ia cukup berada di pinggir hingga cukup dekat untuk memberikan desakan, dan cukup memiliki ruang dalam menghimpun aspirasi rakyat.

Banyak yang kini pertanyakan apakah pelajar masih memiliki posisi sebagai penyambung lidah rakyat. Dengan kebebasan berekspresi dan mudahnya akses jejaring dunia maya, rakyat kini memiliki banyak alternatif dalam menyalurkan pendapatnya. Peran strategi politik pelajar adalah; ‘membahasakan’ pendapat tersebut dalam konteks yang bisa dipahami oleh pengambil kebijakan dalam bentuk policy paper¸ atau rekomendasi perundangan. Dan yang terpenting adalah bagaimana pelajar mampu menyampaikan dan mendesak secara langsung aspirasi ini kepada pemengang kebijakan yang terkait. Lebih lanjut, tentunya ‘pesan’ yang di utarakan oleh pelajar memiliki bobot yang berbeda dan akan lebih besar gaungnya. Tentu ini semua dengan satu catatan, pelajar tersebut adalah seorang yang intelek dan integritas.

Gerakan Narasi Intelektual
Percuma bila seorang pelajar yang memiliki segudang gagasan dan ide hanya menimbun dalam benaknya saja. Ide segar yang dibiarkan akan membusuk dan tidak berguna. Gagasan besar yang ditunda akan hanya menjadi beban pikiran. Sudah menjadi karakternya bahwa ide dan gagasan ini perlulah di ekspresikan dalam ruang-ruang publik; baik ruang akademik maupun ruang diskusi bebas.
Bentuk ekspresi narasi intelektual ini bisa dalam beragam rupa, apakah itu artikel di surat kabar, opini di portal pribadi atau organisasi, rekomendasi kebijakan kepada pengambil kebijakan, dan makalah akademik dalam forum internasional. Memang ini bukanlah hal yang mudah, tetapi bersama dengan gelar pelajar yang melekat; ini merupakan tanggung jawab moral yang perlu dijalankan.

Sebagai seorang peneliti ilmu sosial, khususnya politik ekonomi; salah satu yang membuat saya miris adalah minimnya makalah penelitian akademik internasional dalam bidang ini yang ditulis oleh seorang Indonesia.  Malu rasanya bila ternyata para guru besar dan pakar yang berasal dari luar negeri justru lebih mengerti Indonesia dalam banyak hal. Dalam beragam diskusi yang pernah saya jalani, acapkali mereka menggurui saya tentang Indonesia. Dan dalam penelitian-penelitian yang saya lakukan, sedikit sekali tulisan dari guru besar dan pakar Indonesia yang bisa saya kutip; mereka bukannya tidak punya temuan menarik, hanya saja masih belum dituliskan dalam bentuk paper  di jurnal internasional.

Menulis adalah bagian tak terpisahkan dari kaum terpelajar; sejak era Bung Hatta menjadi pelajar, kebiasaan inilah yang menjadikan efek bola salju narasi tentang Indonesia. Dari kumpulan kumpulan tulisan inilah yang akhirnya berbuah kemerdekaan. Bila kita menengok sejarah Indonesia, tak terhitung sudah berapa ratus tulisan yang bergulir dan terus mengkerucut hingga menjadi konsep bernegara yang utuh.

Tahun 1927, Bung Hatta menuliskan sebuah makalah berjudul ‘Indonesia Vrij’ atau Indonesia Merdeka. Saat itu, sekelompok pelajar ini percaya dan berjuang Indonesia akan merdeka. Merdeka bukan tentang urusan ya atau tidak, melainkan hanya pilihan waktu saja kapan yang tepat. Kurang dari 20 tahun sejak makalah tersebut di sampaikan, Indonesia akhirnya merdeka. Bila kita refleksikan dengan keadaan saat ini; apa yang pelajar pikirkan dan sampaikan saat ini bisa jadi menjadi nyata 20 atau 30 mendatang. Ide yang kita gulirkan bukanlah pilihan ya atau tidak akan terjadi, tetapi bila kita terus dorong dengan semangat memperbaiki dan pembaharuan bangsa, niscaya gagasan tersebut akan hadir secara nyata.

Gerakan Diplomasi Sosial Budaya
Salah satu peran pelajar Indonesia di luar negeri adalah sebagai diplomat Indonesia. Diplomat dalam artian aktif menjadi wajah Indonesia dan menebarkan nilai ke-Indonesia-an. Salah satu pendekatan diplomasi adalah melaluipeople to people contact. Interaksi antara manusia adalah cara yang dinilai bisa dilakukan oleh setiap pelajar. Dimulai dengan sikap positif di kelas, integritas saat diberikan kepercayaan, ketekukan dan kecerdasan yang ditunjukkan di kampus, serta keramahan yang senantiasa jadi ke-khas-an Indonesia. Masyarakat dunia akan teringat dan berkesan dengan Indonesia apabila mereka menilai orang-orang Indonesia sendiri merupakan pribadi yang menyenangkan dan terpercaya.
Selain itu, bentuk diplomasi yang bisa dilakukan adalah dengan ragam aktivitas sosial budaya yang dilakukan oleh organisasi pelajar Indonesia di luar negeri. Kegiatan seperti festival seni budaya, pemutaran film tentang Indonesia, diskusi sosial budaya, atau dengan menggunakan batik di hari tertentu dapat menjadi opsi menarik. Apabila di setiap kota yang memiliki basis organisasi pelajar Indonesia mengadakan sebuah ‘hari Indonesia’ satu kali setiap tahunnya, maka bisa dibayangkan berapa banyak penduduk luar negeri yang bisa semakin mengenal Indonesia dengan ragam budaya dan seninya.

Soft Diplomacy adalah strategi diplomasi yang bisa diperankan oleh para pelajar Indonesia. Pendekatan manusia-ke-manusia serta aktivitas sosial budaya adalah langkah-langkah yang bisa dijalankan. Dengan pola pergerakan semacam ini, setidaknya akan bermanfaat bagi dua hal; pertama,  meningkatkan kecintaan dan rasa nasionalisme pelajar Indonesia di luar negeri kepada Tanah Air Indonesia; kedua, meningkatkan nama dan nilai Indonesia di mata penduduk dunia atau dalam bahasa lain mempromosikan Indonesia.

Saya bermaksud mengakhir tulisan ini dengan mengutip quote dari Rene de Clreq yang diucapkan Bung Hatta dalam pleidoi nya di persidangan Den Haag, ‘hanya ada satu Tanah yang dapat disebut Tanah Airku, ia berkembang dengan usaha, dan usaha itu ialah usahaku..’. Indonesia adalah Tanah Air kita semua, hidup atau mati-nya Indonesia tergantung sejauh mana usaha yang telah kita lakukan. Percayalah, tidak ada mimpi yang terlalu sedikit, yang ada hanyalah usaha yang belum sempurna.

Mari kita terus nyalakan obor kebangkitan pelajar dan kita buat Indonesia selalu tersenyum

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on October 16, 2013 by in Catatan Sekjend.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,220,123 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,318 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: