mereka yang pernah hadir dan kini berlalu


Den Haag, 28 Oktober 2013

Dan-kita-pun-berlari

Ceritanya jelang penghujung studi, satu demi satu kawan pulang ke negara asal. termasuk kawan-kawan Indonesia di angkatan saya. mereka kembali ke aktivitas di tempat asal atau memulai hal baru di tempat yang saya juga tidak tau dimana. singkat kata, komunikasi pun jadi terbata.

Dalam hidup ini, saya sering mengalami hal-hal semacam ini. mereka yang pernah hadir dalam hidup saya. entah dia berjuang bersama saya, menghabiskan waktu bersama, atau juga menjadi bagian penting dalam pencapaian saya di masa tertentu. Tapi kini mereka telah tidak lagi berada dalam lingkar dekat kehidupan saya. saya tau mereka dimana, tetapi saya tidak tau apa isi pikiran mereka sekarang dan apa langkah yang akan di raih. padahal ada masa ketika saya tau isi pikiran mereka dan senantiasa mendukung langkah cita mereka.

‘mereka yang pernah hadir dan kini berlalu’ , saya tak tau ungkapan apa yang cocok. tetapi izinkan saya mengungkap dengan cara tersebut.

kadang saya berpikir, kenapa Sang Pencipta menciptakan orang-orang itu dalam hidup kita. sekedar berlalu, bersama sesaat saja. kalau mau pun dipaksa untuk selalu bersama, paling hanya beberapa sedikit. karena bisa jadi mereka memang punya skenario hidup yang berbeda, kebetulan saja kita pernah beririsan. Bisa jadi, mereka memang hadir dalam hidup kita untuk menyampaikan pesan Sang Pencipta untuk kita. melalui seorang yang pernah kita interaksi atau kita perhatikan karakternya.

kalau kita adalah aktor utama dalam hidup kita, maka mereka ini adalah para pemain lain. menariknya, mereka silih berganti. dan terkadang ketika telah terpisah, kita hanya bisa sekedar menyapa basa basi, dan tak tau harus bicara apa karena memang sketsa kita telah berbeda.

tetapi, sependek apapun sketsa yang pernah kita perankan bersama, selalu ada momen terbaik yang tak bisa terlupakan. dan ketika suatu hari kita bertemu kembali dalam keadaan yang sangat berbeda, momen itulah yang selalu menjadi bekal pembicaraan. kita bisa jadi hanya bisa tertawakan momen tersebut, tapi toh setidaknya itulah sketsa terbaik yang pernah kita perankan

Refleksi bodoh saya mengingatkan saya pun tak lama lagi akan meninggalkan Belanda. satu hal yang paling saya benci dari perkenalan adalah kemungkinan suatu hari saya akan mengucapkan selamat tinggal. tapi mungkin bila saatnya saya harus mengatakan itu, saya tidak akan mengatakan selamat tinggal. karena selamat tinggal itu menyedihkan. mungkin lebih baik saya katakan selamat datang.

Ya, Selamat datang untuk petualangan baru.

#refleksibodohmahasiswaesdua

Advertisements

4 Comments

  1. Renungan yang sangat inspiratif Pak. Saya membayangkan dua buah bola atom yang bergerak di alam semesta dengan bebasnya- adakalanya mereka berdekatan dan berbenturan sesaat, untuk kemudian menjauh lagi .. entah untuk suatu saat akan berbenturan lagi dengannya atau bahkan tak akan pernah terjadi lagi… karena setiap atom di alam semesta ini memiliki perjalanan panjangnya masing-masing seorang diri…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s