Refleksi Panggilan Jiwa

Mari Kita Buat Indonesia Tersenyum

Pilihan hidup para pahlawan


Den Haag 10 November 2013

Bung Tomo, Merdeka atau Mati.! - 087828150515.blogspot.com

Ceritanya hari ini saya beberapa kali selintas membaca ragam tulisan bertema pahlawan. Sebuah suguhan yang menarik dari ekspresi patriotisme publik Indonesia yang masih mencari siapakah pahlawan Indonesia mendatang. Wajar, karena memang, bisa jadi, sosok pahlawan itu semakin sulit untuk ditemukan, terutama mereka yang berkiprah dan menebar manfaat pada tingkat nasional.

salah satu jenis buku yang saya gemari adalah buku biografi orang orang hebat. apa yang saya cari dari biografi itu? saya hanya mencoba memahami pola hidup mereka, pilihan langkah, dan jalan hidup yang dipilih. ada yang sejak muda selalu melawan penjajahan, ada yang menjadi akademisi lalu beralih menjadi negarawan, ada yang menjadi pekerja untuk waktu cukup lama dan kemudian menjadi dermawan besar. kadang, ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan langsung kepada mereka.

kenapa soekarno tidak takut di DO dari THB? kenapa sjahrir memilih meninggalkan kuliahnya di Belanda? Kenapa Hamengkubuwono legowo untuk bergabung ke Indonesia? Kenapa Hatta begitu berani melawan pengadilan Belanda? atau bagaimana ceritanya seorang Semaun muda begitu dipercaya oleh Stalin?

bagaimana ceritanya? kok bisa? apa rasionalitas di balik itu semua? kenapa?

meski, orang-orang hebat itu memiliki cerita dan jalan hidup yang berbeda; saya menarik ada kesamaan diantara mereka. yaitu mereka memiliki ideologi yang diperjuangkan, mereka tak pernah menukar perjuangan mereka dengan uang, mereka selalu memilih jalan pelik lagi sulit, mereka selalu tak pernah puas dengan keadaan, dan mereka tidak menjadikan dunia mengenggam pikiran mereka.

Saya, entah mungkin saya yang ke-geer-an juga, merasa bahwa Sang Penguasa menciptkan saya ke dunia dengan alasan yang tidak sembarangan. Pesan itu seakan sudah ditandai-Nya sejak saya lahir dengan sebuah tanda lahir cukup kentara di punggung atas; dokter saat itu mengatakan ‘anak ini akan menanggung beban banyak orang’. Pesan dari-Nya pun dikuatkan kembali sekitar 1 dekade selepas saya lahir, dengan Dia ‘memberi kesempatan’ hidup kedua kalinya setelah saya di anugerahi kanker darah di usia belia. sekitar 1 dekade setelah saya pulih dari penyakit ganas itu, Dia mengirimkan saya pesan cinta-Nya melalui kehadiran istri yang sangat mencintai saya. Seakan istri saya ini memang diciptakan untuk menjadi penguat diri saya yang kerap rapuh akan guncangan dunia.

yang menghantui pikiran saya belakangan ini adalah, jalan apa, mana, dan bagaimana yang perlu saya tempuh? ada beberapa opsi, tetapi saya perlu berpikir bijak menentukan jalan yang bisa mengantarkan saya serupa dengan nama-nama besar itu.

saya selalu percaya, amanah itu akan datang ketika kita sudah pantas untuk mengelolanya. maka saya selalu menempatkan, setiap pilihan langkah saya adalah upaya untuk memantaskan diri. agar ketika tanggung jawab besar itu hadir; telah ada akumulasi pengalaman yang memberikan saya kebijaksanaan untuk mengelola amanah tersebut.

telah banyak orang yang mengelola sebuah amanah; tetapi hanya sebagian kecil darinya yang di ingat karena telah membuat perubahan besar. saya selalu berusaha setiap amanah yang dipercayakan kepada saya, berhasil membuat jenak kebaikan yang tertinggal. bukan sekedar menjadi pelaku rutin yang akan terlupakan oleh debu waktu.

lantas pertanyaannya, langkah apa yang harus saya ambil kemudian?
kaki ini memang belum memutuskan langkah, tetapi saya setidaknya telah mengambil sebuah keputusan dengan memutuskan syahwat berkuasa diri ini. mencoba menepi sejenak dari hingar bingar amanah besar. dan mencoba memantaskan diri hingga, 1 dekade lagi saya tidak grogi kala amanah lebih besar menghampiri.

Refleksi bodoh saya mengatakan, pilihan hidup para pahlawan ini bukanlah pilihan yang biasa-biasa saja. pilihan itu tumbuh atas akumulasi ideologi dan tempaan hidup yang berat. sebagaimana sebuah berlian, ia akan semakin berkilau kala terus ditempa suhu panas. dan ingat, emas boleh banyak di dunia ini, tetapi berlian terbaik bisa dihitung dengan singkat.

kembali saya bertanya kepada diri ini, apakah ingin menjadi emas, berlian, atau sekedar sampah peradaban?

#refleksibodohmahasiswaesdua

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on November 11, 2013 by in Refleksi Mahasiswa S2.

Twitter @udayusuf

Inspirasi Terserak

kamu sahabat ke..

  • 1,226,999 pencari inspirasi..

Cinta dan Memimpin

Anda bisa mencintai seseorang tanpa memimpinnnya, akan tetapi anda tidak bisa memimpin seseorang tanpa mencintainya (Ridwansyah Yusuf, 2007)

Enter your email address to follow this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,319 other followers

Mimpi dan Asa

Tidak ada mimpi yang terlalu tinggi, yang ada hanyalah usaha yang terlalu sedikit (Ridwansyah Yusuf, 2013)

Copyright

The material on this site is copyright protected by the Copyright Act 1968. Attempts to use any material contained on this site for commercial use are strictly prohibited.
%d bloggers like this: